19. Cubitan maut

2.3K 160 4
                                        

Nathan mengeram pelan. Meluruskan kaki dan juga tangannya yang sempat tertekuk karena tidur di tempat yang bukan semestinya.
Matanya terbuka perlahan lalu hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit ruangan apartemen Royan.
Dia baru ingat kalau semalam dia mengiyakan ajakan Roy untuk menginap ditempatnya.
Kepalanya bergerak kesamping dan mendapati Royan yang kini duduk dengan Alvin tengah melihat kearahnya.
Tunggu dulu, Alvin?
Mengapa anak itu bisa ada disini?.

Nathan merubah posisinya menjadi duduk dan menghadap mereka berdua. Ada banyak pertanyaam mengapa mereka menatapnya dengan tatapan yang Nathan sendiri tidak dapat mendeskripsikan.
Belum sempat Nathan buka suara, bunyi dari benda pipih di saku jaketnya menggema memenuhi ruangan.

"Halo yah"
Dengan malas Nathan kembali berbicara pada ayahnya.
Perlu diingat. Dari waktu kejadian Nathan ribut dengan Rendra. Ayahnya mendiamkan anak itu.
Sebagai hukuman atas kelakuannya.

"Bunda lagi dirumah sakit. Dia kecelakaan"
Terdengar nada khawatir dalam perkataan seorang Bagaskara di sebrang sana.

Bagai disambar petir. Nathan hanya terdiam.
Mungkin wajahnya terlihat tenang, namun yang Alvin dan Royan tangkap mata Nathan mengatakan kebalikannya.

"Ali bakal kerumah sakit!"
Tanpa pamit Nathan mengambil jaket dan meninggalkan ruangan itu. Membuat Alvin dan Roy terlihat bingung.

"Nat Nat....lo mo kemana?!"
Roy mengejar Nathan yang kini tengah blingsatan dengan buru-buru memasang sepatunya di ambang pintu.

"Gue harus kerumah sakit. Nyokab gue kecelakaan"
Baru kali ini Roy melihat seorang Nathan yang ia ketahui sangat tenang namun menyebalkan tengah khawatir.
Sifat seorang anak dalam dirinya muncul saat ini.
Sekarang Roy tahu bahwa semua orang memiliki titik kelemahan. Dan mungkin Nathan termasuk didalamnya.

Nathan terdiam ketika tangan Royan mengulurkan sebuah kunci motor yang terdapat sebuah mainan huruf A pada gantungannya.
Itu jelas bukan milik Royan pikir Nathan.

"Lo pasti butuh kendaraan kan?"
Nathan mengerjap. Namun tak pelak mengambil kunci itu dari tangan Royan.

"Motor itu ada di garasi pribadi gue di bawah."

"Thank's"
Nathan yang hendak pergi kembali menghadap Royan.

"Gue belom tau motor lo yang mana?"

Roy tersenyum.
"Lo bakalan tau setelah lo nyampek sana"

Nathan mengangguk, sekilas dia melihat Alvin yang kini berada tepat dibelakang Royan. Anak itu sedari tadi tersenyum ke arahnya. Nathan tidak peduli itu, saat ini dia tengah khawatir mendengar wanita satu-satunya yang dia cintai tengah berada dirumah sakit.

Sama seperti Alvin. Kini Nathan lebih memilih melewati tangga untuk sampai di lantai dasar.
Padahal sudah tersedia lift untuk mempermudah penghuni apartemen disana.

Setelah sampai, Nathan mencari garasi yang Royan maksud. Dia yakin tempat itu tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.
Dan benar saja. Tepat di samping tangga ada sebuah ruangan yang tertutup oleh roll besi.
Nathan yakin disana kendaran Royan terparkir.

Dengan tidak sabaran Nathan membuka pintu garasi.
Pikirannya kacau saat ini, membuatnya tidak dapat berfikir dengan benar.
Saat pintu garasi terbuka sepenuhnya, nathan terpaku.
Disana banyak sekali motor sport milik Royan yang terparkir.
Nathan baru ingat yang dikatakan Riko, bahwa Royan adalah pewaris dari Gilden grup.
Sebuah perusahaan yang bergerak di segala bidang.
Jadi tidak heran jika kendaraannya melebihi dari angka dua tangannya.

Nathan mulai kebingungan saat dirinya ingin menekan answer key pada kunci motor ternyata tidak ada. Padahal tombol alarm itu akan mempermudah dirinya menemukan motor yang sesuai dengan kunci yang dipegangnya saat ini.
Tidak lucu kan kalau dia mencoba mencocokkan satu persatu kunci itu dengan sekian banyaknya motor Royan.

My Senior ReturnTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang