Semua mengeluarkan kesedihannya. Melihat wanita satu-satunya yg paling spesial diantara mereka kini hanya terpejam. Suasana hening hanya terdengar suara alat pendeteksi jantung dan mesin2 lainnya untuk menopang kehidupan Jisoo. Jisoo dinyataka koma oleh dokter. Semua bertanya kemapa keadaan Namjoon dan Jisoo jauh sangat berbeda drastis. Jawabannya adalah Namjoon yg memang duduk di kursi depan samping supir dan Jisoo dibelakang membuat kondisinya jauh lebih buruk karena mobil yg menabrak mobil mereka menanrak bagiang tengah hingga belakang mobil.
Jungkook yg histeris masih setia didekapan Namjoon. Enggan melihat ibunya rasanya tidak sanggup. Dia sangat rindu sangat. Tapi bukan ini pertemuan yg diinginkannya. Kekhawatirannya yg tidak mengizinkan Jisoo untuk pergi sudah terjawab sekarang. Sementara itu Taehyung, menangis dengan menggenggam tangan Jisoo erat. Taehyung tidak pernah serapuh ini. Sifat gengsi yg tumbuh sejak Jungkook ada hancur lebur. Berkali-kali dia ucap rindu dan mengecup seluruh wajah ibunya berharap keajaiban datangs saat itu juga. Jin, hancur sejadi-jadinya. Kondisi kakak tersayangnya saat ini tidak pernah ada dibenaknya sedikitpun. Dia terus memohon agar Jisoo terbangun agar Jisoo mengasihani Taehyung dan Jungkook yg kini memohon kehadirannya. Dan Namjoon, yg paling terpuruk disini harus juga berusaha setegar mungkin. Dia mempunyai tanggung jawab untuk menenangkan kedua anaknya yg tidak kalah sedihnya dengan dia. Harus berusaha menguatkan Jin yg sudah seperti adik kandungnya itu. Semua itu Namjoon lah yg menanggungnya. Kalau dia juga larut, tidak ada lagi yg menyemangati agar Jisoo memiliki kekuatan untuk membuka matanya. Seperti itulah suasana diruangan itu sekarang. Sendu, penuh akan kerinduan.
.
.
.
.
"Taehyung-ah. Makan dulu ya? Sama Om yuk?" Taehyung hanya menggeleng tanpa memalingkan pandangannya pada Jisoo
"Nanti kamu sakit. Kalo mamih kamu bangun terus kamu sakit gimana? Mamih kamu pasti gasuka liat kamu gini Tae. Makan ya?"
"Papih mana?" Tanya Taehyung
"Papih juga lagi nenangin adek. Dia juga belum makan apa-apa. Apa mau bareng papih sama adek?"
"Papih kan baru aja baikan. Kenapa harus urus Jungkook? Kenapa ga Om tadi yg urus dia? Dia bukan anak kecil lagi" jawab Tae tiba-tina ketus entah kenapa
"Hey, Ko kamu gitu? Kamu tau kam adek tu-"
"Adek terus. Aku gimana? Aku juga kangen sama mamih aku sedih aku khawatir"
"Tae.."
"Aku mau makan sama papih"
"Iyaiya Om telfon du-"
Ceklek
"Ada apa? Tae kenapa?" Saat itu juga Namjoon memasuki ruangan
"Ini gatau jadi manja banget. Mau makan sama hyung katanya. Iri sama Jungkook" ledek Jin
"Yaudah iya papih temenin. Tapi-"
"Eiya hyung. Adek mana?"
"Iya itu tadi asmanya kambuh, udah sama Hoseok ini mau ambil jaketnya"
"Ck disini yg harus ditungguin itu mamih pih"
"Tae, adek kamu shock"
"Udah biar aku aja yg urus hyung. Tae harus makan nanti maagnya kambuh" Namjoon pun menyetujuinya dan juga melihat ada yg aneh dengan anak sulungnya ini. Namun Namjoon juga paham kejadian ini memang bisa saja berdampak emosional untuk anak-anaknya jadi perlahan Namjoon berusaha mengerti Taehyung.
"Makasih ya Jin. Kalau udah rewel bawa kesini aja"
"Um!"
Lalu Jin keluar dan sekaligus memberikan ruang untuk mereka berdua. Kalau sudah seperti ini Jin tidak berani ikut campur, paling hanya bantu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Uri Kookie~ || END
Fiksi PenggemarHanya cerita dari keseharian Jungkook, adik dari Kim Taehyung, anak bungsu dari pasangan Kim Namjoon dan Kim Jisoo yang sangat manja walaupun bongsor. Terutama dengan ayah tercinta yang juga idolanya~ #1 brothership
