"Dan, bentar dulu." Cakra menahan ujung kaos olahraga yang Zidan kenakan. Zidan langsung menurut, ia berhenti dan menoleh ke belakang, menatap Cakra.
"Kenapa?" tanya Zidan bingung. "Nggak mau jadi ke kantin?"
Cakra tidak menjawab atas pertanyaan yang Zidan ajukan. Cowok itu langsung berjongkok dan melepas kedua sepatunya. Cakra menghela napas berat.
"Sepatu lo ngelupas lagi?" Zidan bertanya sembari merebut sepatu yang berada di tangan Cakra.
"Kamu pergi ke kantin sendiri aja gih, aku mau ngurus sepatuku dulu."
"Lo nggak pernah ke kantin sama sekali setelah pindah ke sini, dan ini untuk kali pertamanya lo mau pergi. Nggak gitu, lo harus ikut." Zidan tetap memaksa Cakra.
"Terus sepatuku gimana?" Cakra menaikkan alisnya yang tebal. Menatap Zidan dengan mata mengerjap.
Zidan menyerahkan kembali sepatu milik Cakra. "Lo benerin dulu, gue bakal tungguin. Tenang aja, waktu istirahat lebih lama saat kita habis olahraga gini."
Cakra menatap Zidan. "Kamu nggak keberatan?" Jujur saja, Cakra merasa tidak enak kepada Zidan. Ia sudah merepotkan teman bangkunya itu. Padahal saja Cakra tidak ngebet amat untuk pergi ke kantin.
"Udah buruan, gue bakal tungguin. Gue sendiri kan yang udah janji mau traktir lo tadi?"
"Tap—
"Udahlah nggak usah banyak protes lagi, buruan benerin tuh sepatu." Zidan mendorong dan menggiring Cakra untuk duduk di salah satu bangku.
Cakra mengembuskan napas panjang, ia pun pasrah dan mulai melakukan aktivitasnya untuk memberi perekat di sepatunya.
Zidan duduk di samping Cakra sembari memperhatikan apa yang Cakra lakukan. "Nggak coba lo bawa ke tukang sol sepatu aja?" tanya Zidan.
Cakra memberhentikan sejenak memberi lem perekat pada sepatunya, kemudian dilanjutkan menoleh kepada Zidan. Cowok itu mengangguk singkat. "Niatnya pulang sekolah ini aku memang mau nyari kok, mumpung restoran tempatku kerja lagi tutup."
"Kenapa tutup?"
"Keluarga bos mau ambil cuti dan liburan ke Singapura, jadi para karyawan terpaksa diliburkan," jawab Cakra sambil kembali melakukan aktivisnya.
Zidan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memperhatikan Cakra lebih teliti lagi. Jujur saja, Zidan merasa minder sendiri dan malu. Cakra sudah bisa bekerja sendiri dan membagi waktunya untuk mencari uang, sedangkan dirinya masih bergantung kepada orang tua.
"Gue salut sama lo Kra, lo hebat." Zidan mengusung senyuman lebar seraya merangkul pundak Cakra. "Lo bekerja keras banget, gue ngerasa malu sendiri."
Cakra melepaskan tangan Zidan yang merangkulnya. "Jangan puji aku gini, entar aku melayang gimana?" candanya sambil terkekeh.
"Yeee ... Alay lo!" Zidan menjitak kepala Cakra cukup keras. "Udah belum tuh sepatunya?"
"Dikit lagi," sahut Cakra. "Nah udah."
"Yok ke kantin sekarang." Zidan mengangkat bokoongnya dari kursi, disusul oleh Cakra.
"Kamu beneran mau traktir aku nih Dan?"
Zidan membelokkan pandangannya untuk menatap Cakra. "Awalnya sih main-main karena sampai saat ini Arkan juaranya lari di kelas kita, dan gue nyepelein lo. Gue pikir lo nggak bakal menang lawan Arkan, tapi taunya lo lebih cepat larinya. Ya mau nggak mau gue traktir lo lah."
"Terpaksa?"
"Nggak tuh," sahut Zidan sambil mengendikkan bahunya. "Gue ikhlas mau traktir lo. Kali-kali lah nambah pahala, nggak dosa mulu yang ditabung."
KAMU SEDANG MEMBACA
Overdramatic (END)
Подростковая литература"Kamu minum berapa gelas sih? Mulut kamu bau banget tau nggak?" Cakra bertanya dengan satu tangan yang menutupi hidung dan mulutnya. Dahinya berkenyit bingung. "Jalan sama gue dulu, baru gue bakal jawab gue minum berapa," jawab Inez ngawur. Hal itu...
