7. menerima bagas

68.9K 3.5K 71
                                        

Jamila menatap wajahnya di cermin,
Malam ini udara terasa dingin ditambah dengan hatinya sedih, sudut matanya berair, tetapi dia menahan diri agar tidak menangis,

Damar pemuda yang di cintai itu, adalah kakak iparnya,
Yang sekarang sedang menunggu untuk kelahiran buah hati mereka,
Ya halizah hamil,
Kehamilanya baru satu Minggu,
Saat di cek ke bidan,

Mila mengusap wajahnya, dia tersenyum sendu suaranya bergetar, rasa sedih dan sakit hati membuncah seakan-akan ingin keluar, dia hanya perlu berteriak sekarang, tapi dia takut karna hari sudah larut malam dan semua orang tertidur,

Bintang berkerlap kerlip dihiasi bulan yang bersinar terang, nyanyian tenggorek dan jangkrik saling bersahutan,

Malam ini sangat cocok untuk tidur nyenyak, tetapi dia tidak, dia merasa hatinya hampa, berbulan-bulan berlalu tapi rasa itu masih ada,

Maghrib saat mereka berbuka puasa bersama, damar dan halizah datang dan memberi kabar bahagia,
Terlihat jelas damar tersenyum senang dan menatap halizah penuh cinta,

Saat itu dia hanya bisa diam dan diam, sakit sekali rasanya, kenapa dia tidak bisa melupakan damar, apakah harus seperti ini terus,

Halizah sudah hamil, dan sedang menunggu kelahiran anak mereka, seharusnya dia bahagia dan turut bersukacita dan berdoa, seperti yang dilakukan ibunya, tetapi yang dia rasakan hanya iri,

Iri terhadap kakaknya, mengapa kakaknya sangat beruntung, dicintai oleh damar, sedangkan dirinya?

Jamila merasa tertekan tatkala hatinya tak bisa di ajak kompromi, banyak sekali pemuda-pemuda lainnya yang meminangnya bahkan menanyakan langsung ke orangtuanya,

Tetapi dia menolak karena hatinya tidak bisa di ajak pergi, hatinya masih melekat ke pemuda itu, benar-benar lekat,

Dia hanya ingin damar, dia tidak ingin siapapun di dunia ini kecuali damar,

Kenapa dia begitu egois?

Jamila menunduk dan melihat sekotak surat yang Bagas tuliskan untuknya,
Dia mengambil surat terakhir kali bagas,
Dan membacanya berulang-ulang,
Pikirannya ingin membalas surat itu, dan menyuruh Bagas datang membawa orangtuanya untuk meminta kepada Bambang dan Fatma, tapi hatinya berkata lain, hatinya menolak bagas,

Bagas juga pemuda tampan di desa ini, lebih rendah satu dari damar,

"Damar memang pemuda yang patut diidamkan perempuan, dia dingin tak tersentuh, tetapi mempunyai hati yang lembut dan penyanyang," Jamila berkata lirih,
Mata bulatnya tak berkedip melihat pantulan dirinya di cermin, dia menelisik wajahnya dengan tangannya,

"Apa kurangnya aku? Aku lebih baik dari halizah, aku lebih cantik darinya, tapi kenapa damar suka halizah daripada aku? Bahkan seluruh pemuda sudah mengirimi ku surat, hanya damar yang benar-benar tak tertarik dengan kecantikanku, damar memang berbeda dari pemuda lain," Jamila berkata sendu,

"Seandainya damar menikah denganku,.aku akan mencintainya dengan tulus, dan menjadi istri yang paling baik melebihi halizah," tambahnya,

Jamila menggelengkan kepalanya
"Damar... Damar.... Damar..... Dia sudah punya istri Jamila, dan akan menggendong anak nantinya," Mila menunjuk cermin yang memantulkan wajahnya,

"Seharusnya kamu sadar! Siapa dirimu?, Kamu tidak ada dimatanya, dan kamu juga harus sadar bahwa halizah adalah kakakmu,"
Jamila marah pada dirinya,

Jamila menghela napas panjang,
Mencoba meringankan kegalauan hatinya,

Dia mendongak menatap jendela yang terbuka,
Jamila berjalan bangkit dari tempat duduknya, rambut panjang hitam miliknya bergoyang-goyang mengikuti alur tubuhnya,
Jamila melihat bulan yang indah di langit,

Turun ranjang (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang