60. Harus Selesai di Tanganku.

25 1 0
                                    

"Sebenarnya dari rapat tadi ada sesuatu yang mau aku tanyakan," Noor baru bilang sekarang. "Tidak ada hubungannya dengan rapat sih, makanya aku baru bisa tanya sekarang. Apakah ada penjelasan kenapa Detektif Husin bisa tahu kalau minuman kesukaanku susu coklat hangat, padahal aku tidak pernah bilang?"

"Sederhana saja," Dini tidak ambil pusing. "Dia detektif. Sekian,"

"Segera istirahat, Dini," Noor memutar kunci kontrakan Bu Nin.

Malam sudah larut, jarum jam hampir berhimpitan di atas angka 12 ketika Noor tertidur pulas. Dini tidak punya banyak waktu untuk menulis sesuatu di buku tulis Chaira, kecuali satu-dua kalimat.

Hari ini aku sibuk sekali Chai, besok juga. Mungkin besok sore aku ada waktu untuk jelaskan apa yang terjadi.

Minggu, 27 April 2014.

Tidak terasa sudah sebulan sejak kasus JKA terjadi, dan setelah berbagai barang bukti berhasil dikumpulkan, usaha penyelidikan masih saja buntu.

Dini bangun pagi tepat waktu, bersamaan dengan Noor. Dini masih mengantuk berat ketika membasuh wajah dengan air dingin, memaksa matanya supaya terbuka lebar.

"Pekerjaan kita apa pagi ini?" Dini menyambar sapu ijuk di sudut kontrakan.

Sambil Dini menyapu lantai dan teras kontrakan, Noor mencuci baju. Selesai menyapu, Dini mengelap kaca.

Selesai bersih-bersih segala macam, Noor menyajikan sarapan seadanya, mi instan goreng bungkus putih.

"Kalau mau tambah sesuatu, ke RM Padang Konco Ambo ya," Noor memberi Dini selembar Rupiah warna ungu.

Dini masih kenyang untuk saat ini. Di jalan belakang Distrik Tambora, Dini melewati RM Padang Konco Ambo tanpa melirik, langsung menuju warung Amat. Sampai sekarang, Dini masih merahasiakan dari Noor fakta bahwa dia punya kuasa portal.

Warung Amat, jam 7 pagi.

"Benang kenur siap?" Dini menagih bagian utama jaringan telefon kaleng yang akan dipasang hari ini.

"Tiga gulung cukup ya," Amat mencari yang warnanya abu-abu supaya terkamuflase sempurna dengan tiang dan kabel listrik. "Kalau bisa jangan banyak dipotong, nanti tidak bisa aku jual lagi. O iya, Dini. Kamu sudah siapkan kaleng bekas apa belum?"

"Seharusnya ada di pangkalan rongsok, Tako yang cari," ujar Dini. "Habis ini, aku pergi ke sana,"

"Jangan lupa bawa ini," Amat menyertakan paku, palu, dan gunting sebagai peralatan.

"Kamu cek ya, Pak Sunar ada di RM Padang atau tidak. Kalau tidak ada, mungkin sudah di sekolah," Dini menutup sebelah mata dengan dua jari. "Kau tahu kan, kalau ada Pak Sunar harus bagaimana?"

"Ya," Amat meluncur ke RM Padang.

Yasa, Amat, Tama, dan Pak Sunar kebagian tugas mengantar berkas ujian lama dan memusnahkannya di pangkalan rongsok.

Seketika itu, Dini sudah sampai di pangkalan rongsok.

"Eh copot!" Sidak yang sedang mengupas gelas plastik cutternya melejit sehingga potongannya tidak rapi. "Kalau datang bilang-bilang dulu ngapa?"

"Aku datang sesuai rencana kemarin kan?" Dini beralasan. "Jadi mana kaleng bekas yang dikumpulkan Tako?"

"Cari di tumpukan logam," Sidak tidak mau diganggu. "Eh, kamu bawa benang kenur, berarti habis dari warung Amat, ya?"

"Ya, terus kenapa?" Dini tanya balik.

Aneh, pikir Dini. Kenapa susah kali cari kaleng tujuh itu?

Kota Lingkaran Hening.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang