(Follow sebelum membaca)
*****
Kehidupan Ley yang penuh dengan bayang-bayang kematian kedua orang tuanya membuat gadis itu tumbuh menjadi sosok misterius penuh rahasia.
Hingga suatu hari pertemuannya dengan laki-laki tampan pembuat onar bernama An...
Pintu ruang BP dibuka oleh Pak Anton, sementara Ley hanya mengekor dibelakangnya. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Pandangannya menangkap ibu Andre yang duduk disamping Bu Nia yang tengah menatapnya garang.
"Duduk, Lidya," perintah Bu Nia, wanita paruh baya itu menatap tajam setiap pergerakan Ley.
Ley melirik orang yang juga duduk di sampingnya, Andre. Laki-laki itu menundukkan kepalanya, seperti biasa seragam, rambut dan penampilannya selalu berantakan. Hanya saja Andre yang biasanya terlihat sangat percaya diri kali ini justru seperti pengecut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Benar kalian kemarin bolos bareng?" tanya ibu Andre.
"Sudah jelas-jelas kan, Bu. Anak ibu ini, si Andre yang ajak!" sela Bu Nia sebelum Ley atau Andre sempat menjawab.
"Loh, kan kita harus tanya kejelasannya dulu. Jangan asal tuduh-tuduh begitu, mereka kan juga masih anak-anak!" sahut ibu Andre, nada suaranya meninggi.
"Ya, ini bukan pertama kalinya kan?" tanya Bu Nia.
"Aduh, tenang ibu-ibu. Kita dengar Lidya sama Andre dulu yah," lerai Pak Anton kemudian menatap Ley dan Andre. "Jadi?"
"Jawab Andre! Kenapa diem aja? Takut dilihat pacarnya?" sindir Bu Nia melihat Andre yang biasanya selalu menjawab berubah menjadi pendiam.
"Loh, kok ibu jadi seperti memojokkan anak saya?" ucap ibu Andre tak terima.
Pak Anton mengusap wajahnya kasar, beliau sudah terbiasa melihat ibu Andre dan Bu Nia beradu mulut hanya saja kali ini keduanya berdebat di depan siswanya. Laki-laki paruh baya itu memilih kembali menatap Ley dan Andre.
"Kalian ke kelas aja," perintah pak Anton, sebelum laki-laki itu menahan pergerakan Andre. "Kumpul sebentar di lapangan buat sparing nanti sore."
Andre mengangguk pelan, laki-laki itu menatap ibunya sekilas kemudian berjalan mendahului Ley. Sementara Ley tersenyum sekilas ke arah ibu Andre, tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada Pak Anton.
"Loh-loh! Pak!"
Samar-samar dari balik pintu Ley dan Andre masih bisa mendengar suara Bu Nia. Tanpa sengaja pandangan keduanya bertemu, tapi Andre lebih dulu mengalihkan pandangannya. Padahal biasanya Ley duluan yang memilih mengakhiri kontak mata keduanya.
"Muka lo-"
"Ikut gue!"
Belum selesai ucapan Ley, laki-laki itu sudah lebih dulu menarik tangannya. Sementara Ley hanya mengekor tanpa berniat bertanya atau memberontak.
*****
Langkah Andre membawa keduanya ke arah rooftop sekolah. Tempat yang saat ini langsung menuju halaman utama sekolah. Meskipun begitu laki-laki itu masih tak mengatakan apapun, ia hanya mengenggam tangan Ley kemudian menundukkan kepalanya.