Selamat membaca....
Semenjak kejadian kemarin Ley merasa ada yang berubah dengan perilaku Andre dan Leo. Dua orang laki-laki berbeda usia itu jadi lebih akrab dan jadi lebih posesif padanya. Ley tak akan ambil pusing jika hanya Leo yang seperti itu tapi sekarang Andre juga melakukan hal yang sama.
Bahkan semalam setelah mengantarnya pulang ke rumah saja Andre sampai mengantarnya benar-benar sampai didalam rumah. Andre memang selalu ia anggap bucin sejak awal tapi Ley tak tau jika laki-laki itu bisa sampai ketahap seperti ini. Meski sejujurnya agak berlebihan tapi Ley tak mau mengatakannya apalagi jika nantinya Andre terluka dengan ucapannya.
Contohnya saja pagi ini karena Leo tak ada jadwal kelas pagi dan masih ingin berada di tempat tidur. Laki-laki itu dengan seenak jidat menyuruh Andre untuk menjemput Ley. Padahal Ley bisa pergi dengan kendaraan umum.
Andre yang tak biasa datang pagi tiba-tiba saja pukul 6 pagi sudah berada di ruang tamu rumah Ley. Bahkan jauh lebih siap dari biasanya, hanya saja sejak tadi laki-laki itu terus mengecek layar handphonenya.
"Padahal kan gue bisa pergi sendiri," ucap Ley, gadis itu baru saja menyelesaikan sarapannya dan keluar menemui Andre.
"Nggak papa, yuk!" ucap Andre kemudian menyimpan benda pipih ditangannya ke dalam saku jaketnya.
Sebenarnya jika diingat-ingat, Ley sangat jarang melihat Andre terlihat gelisah dan terus melihat handphonenya. Kalaupun laki-laki itu berkutat dengan benda pipih itu pasti hanya untuk bermain game. Mengingat Andre bukan tipe yang kecanduan dengan sosial media dan tak bisa lepas dari benda itu.
"Ada masalah?" tanya Ley.
Tangan Andre yang bergerak tengah memakai helm mendadak berhenti di udara. Ia selalu merasa heran jika Ley bisa menebak apa yang terjadi padanya, karena memang gadis itu selalu memasang ekspresi datar.
Andre tersenyum tipis kemudian mengusap kepala Ley pelan sembari merapikan rambut gadis itu.
"Nggak ada, kaget aja gue bisa ngeliat lo sepagi ini," sahut Andre berusaha membuat Ley tak merasakan kegelisahannya.
"Makanya, ngapain lo jemput gue. Gue kan bisa berangkat sendiri," ucap Ley.
"Nggak papa, gue suka kok."
Andre tersenyum tipis sembari memberikan helm pada Ley. Laki-laki itu hanya memperhatikan Ley dalam diam. Kemudian mulai menyalakan motornya meninggalkan halaman rumah Ley.
Selama perjalanan pun Andre tak banyak bersuara padahal biasanya laki-laki itu terus menggoda Ley. Tapi hari ini Andre banyak diam bahkan sampai sepeda motor itu tiba di SMA Nusantara.
Setelah Ley turun, Andre masih berada diatas motornya bahkan laki-laki itu tak melepas helmnya sama sekali. Sementara Ley yang sudah siap masuk ke dalam kelas menatap bingung sikap Andre.
"Kok nggak turun?" tanya Ley heran.
"Mau sarapan dulu, laper," sahut Andre, suara laki-laki itu sedikit teredam helm full face yang laki-laki itu pakai.
Ley mengangguk pelan membiarkan apa yang akan laki-laki itu lakukan, meski sebenarnya ia merasa curiga dengan sikap Andre.
"Ya udah gue masuk duluan yah," pamit Ley yang hanya dibalas anggukan oleh Andre.
Tak berselang lama Ley kembali menoleh menatap motor Andre yang sudah berbalik keluar dari gerbang sekolah. Perasaannya mengatakan laki-laki itu menyembunyikan sesuatu. Tapi meskipun Ley adalah pacarnya ia tetap merasa tak berhak mengusik kehidupan pribadi Andre, ia tak mau Andre merasa tak nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who Are You? ✔️
Ficção Adolescente(Follow sebelum membaca) ***** Kehidupan Ley yang penuh dengan bayang-bayang kematian kedua orang tuanya membuat gadis itu tumbuh menjadi sosok misterius penuh rahasia. Hingga suatu hari pertemuannya dengan laki-laki tampan pembuat onar bernama An...
