(Follow sebelum membaca)
*****
Kehidupan Ley yang penuh dengan bayang-bayang kematian kedua orang tuanya membuat gadis itu tumbuh menjadi sosok misterius penuh rahasia.
Hingga suatu hari pertemuannya dengan laki-laki tampan pembuat onar bernama An...
Senin pagi SMA Nusantara sudah memulai aktivitas seperti biasa. Gosip mengenai pak Zafran dan Andre sudah mulai meredup. Meski masih ada beberapa siswa yang membicarakannya, sekedar mengeluarkan pendapat mereka.
Begitu pula dengan teman sekelasnya, teman-temannya sibuk membahas Andre di grup kelas. Sementara Ley hanya membaca sekilas sembari berjalan santai menuju gerbang sekolahnya. Ley menghentikan langkahnya saat mendengar kegaduhan di gang sempit dekat sekolahnya.
Ley memasukkan handphonenya ke dalam saku seragamnya, gadis itu menatap sekelompok siswa yang tengah melakukan bullying. Tak ada yang bisa Ley lakukan, gadis itu hanya menatap siswa-siswa itu. Cukup lama Ley hanya memperhatikan sampai akhirnya tinggal korban bullying itu yang tersisa.
Gadis itu mendekat ke arah siswa laki-laki yang sedang memakai kembali kacamatanya. Ley mengulurkan tangannya, mencoba membantu laki-laki itu agar bangun. Laki-laki itu mendongak menatap Ley kemudian menerima uluran tangan Ley.
"M-makasih," ucap laki-laki itu sembari kembali membetulkan letak kacamatanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mereka gangguin lo setiap hari?" tanya Ley, laki-laki itu menggeleng. Ia terlihat takut menceritakan kejadian itu pada Ley.
"Nggak kok, itu karena mereka kesel aja. Kita temenan kok," ucap laki-laki itu.
Ley menghela nafas pelan, ia tak mau mencari tahu lebih banyak jika laki-laki itu tak mau bercerita. Lagipula itu bukan urusannya, ia sudah melakukan apa yang ia bisa lakukan. Ley memilih berbalik berniat kembali melanjutkan langkahnya yang srmpat terhenti.
Tapi lagi-lagi Ley menghentikan langkahnya, gadis itu menghela nafas pelan kemudian menoleh ke arah siswa laki-laki itu yang tetap berdiri diam di tempatnya.
"Lo nggak mau sekolah karena takut sama mereka?"
"Hah?" bingung laki-laki itu.
"Katanya kalian temenan, ngapain takut?!"
"I-iya."
Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Ley, sementara Ley masih menunggu laki-laki itu.
"Ayo cepet!" ajak Ley.
Laki-laki itu mempercepat langkahnya, sementara Ley memelankan langkahnya saat melihat langkah laki-laki itu terpincang-pincang. Meski berusaha mengabaikan, nyatanya Ley terlalu mudah goyah dengan hal-hal kecil seperti ini.
*****
Ley tiba di sekolahnya, gadis itu menoleh ke arah siswa laki-laki yang ia tolong.
"Gue duluan," pamit Ley.
"Makasih," ucap laki-laki itu saat melihat Ley akan pergi meninggalkannya. "Makasih udah bantuin."