(Follow sebelum membaca)
*****
Kehidupan Ley yang penuh dengan bayang-bayang kematian kedua orang tuanya membuat gadis itu tumbuh menjadi sosok misterius penuh rahasia.
Hingga suatu hari pertemuannya dengan laki-laki tampan pembuat onar bernama An...
Motor Andre berhenti di sebuah kios buku yang sudah tutup. Hujan semakin deras, laki-laki itu tak bisa menembus rinainya lagi. Apalagi udara disekitarnya sudah terasa semakin dingin.
Ia khawatir Ley kedinginan, apalagi petir dan kilat juga mulai menyambar. Sementara Ley hanya menuruti Andre, gadis itu mengekor dibelakang Andre. Sepatu dan rok sekolahnya basah kuyup, tapi kepala dan bajunya masih aman oleh jas hujan dan helm.
Berbeda dengan Andre yang sudah basah kuyup sepenuhnya. Laki-laki itu tak memakai helm juga tak memakai jas hujan, hanya kupluk jaket yang menutupi kepalanya. Laki-laki itu melepas kupluknya kemudian menatap Ley.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dingin banget, nggak?" tanya laki-laki itu, Ley menggeleng pelan meski kenyataannya tubuh gadis itu gemetar.
Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia kedinginan saat melihat Andre dalam keadaan basah kuyup seperti itu. Apalagi Andre bahkan terlihat tak memperhatikan dirinya sendiri. Padahal dibandingkan dengannya, kondisi laki-laki itu jelas lebih parah.
"Mau lanjut jalan atau nunggu nanti?" tawar Andre.
"Terserah lo aja," sahut Ley.
Ia benar-benar tak bisa memutuskan apapun saat ini, tubuhnya sudah gemetar. Bayangan itu kembali menghantuinya, cuplikan-cuplikan kejadian di masa lalunya muncul beruntun.
Saat dua orang yang ia sayangi tergeletak penuh darah, belum lagi bau darah segar yang tercampur dengan bau hujan. Air hujan yang berwarna jernih yang berubah menjadi merah. Udara yang dingin, tubuhnya yang basah kuyup, semuanya berputar di kepala Ley.
Wajah gadis itu semakin pucat, tubuhnya kembali bergetar hebat.
"Ley?" panggil Andre, gadis itu masih tak bergeming.
"Ley?!"
Detik berikutnya Andre menyentuh bahu Ley mencoba menyadarkan gadis itu. Ley menoleh menatap Andre, lagi-lagi tatapan Ley masih kosong.
"Mau ke rumah gue dulu? Lebih deket, paling nggak sampai hujannya reda," ucap Andre, Ley kembali mengangguk.
Semua bayangan itu membuatnya takut, sampai ia tak punya tenaga untuk melindungi egonya. Gadis itu kembali mengekor dibelakang Andre. Membiarkan motor merah itu melaju membawanya ke rumah sang pemilik.
Sekitar 15 menit perjalanan, motor Andre tiba di rumahnya. Laki-laki itu bergegas membawa Ley masuk, sembari melepaskan helm dan jas hujan yang gadis itu kenakan.
"Mah!"
Teriakan Andre membuat Ley melonjak kaget.
"Mah!"
"Apa sih, Ndre? Kaya di hutan aja teriak-teriak!"
Sahutan dari dalam rumah membuat Ley merasa sedikit canggung berada di sana. Tak berapa lama wanita paruh baya itu keluar, menatap dirinya dan Andre bergantian. Raut wajahnya terlihat terkejut tapi detik berikutnya langsung berubah menjadi khawatir.