Part 41

118 37 1
                                        

Selamat membaca.....


Andre berdiri mematung di teras rumah Ley, laki-laki itu menatap datar ke arah Ley. Sebenarnya ia kesal tapi nyatanya ia terlalu merindukan gadis itu bahkan ia nyaris tak tidur tadi malam. Tapi saat tiba di rumah gadis itu semangatnya langsung menghilang.

"Kenapa?" tanya Ley, gadis itu terlihat bingung dengan ekspresi Andre.

Andre menoleh menatap kekasihnya itu dengan raut gemas, tangannya terulur mencubit kedua pipi gadis itu.

"Hihhh gemes banget gue!!!!"

"Aawww, sakit!" Ley memukul kuat tangan Andre, gadis itu meringis pelan sembari mengusap kedua pipinya.

"Semalem lo bilang pengen ketemu, kok ada mereka disini?" tanya Andre sembari menunjuk tiga orang lain yang berada disana.

"Emang kenapa?" bingung Ley.

"Bukan berduaan?!" rasanya Andre ingin berteriak saat ini. Semalam ia pikir saat Ley mengajaknya bertemu itu karena benar-benar ingin melepas rindu. Tapi nyatanya gadis itu justru mengajaknya ke rumah, dimana ketiga teman gadis itu juga berada disana.

"Emang kenapa kalo ada kita?" celetuk Queen tak suka, Andre menoleh menatap Queen sembari berdecak. "Bucin!"

"Kan gue nggak bilang berdua," ucap Ley sembari menatap Andre. "Lagian laporan yang kemarin juga belum dibikin, mending lo suruh temen-temen lo kesini. Biar sekalian kita selesain hari ini."

Andre menghela nafas kesal, ia benar-benar tak bisa marah pada Ley. Dan sebagai gantinya laki-laki itu hanya terdiam sembari menatap Ley. Belum lagi gadis itu sepertinya juga benar-benar tidak sadar bahwa Andre kesal.

"Biar gue yang telpon Bian," semangat Abil, gadis itu langsung berdiri dan menelpon kekasihnya. Queen yang juga sadar tugasnya langsung ikut berdiri berniat menelpon Justin.

Ley melirik Andre yang masih diam saja dan hanya menyandar malas. Gadis itu menyenggol lengan laki-laki itu, tapi Andre hanya melirik Ley sekilas. Ley mengerutkan keningnya tak suka dengan respon Andre.

"Ngapain sih?" tanya Ley.

"Bernafas," sahut Andre malas. Ley memutar bola matanya kesal.

"Telponin Hendry suruh kesini," ucap Ley lagi.

"Lo nyuruh gue?" tanya Andre masih dengan nada malas.

"Bukan nyuruh, minta tolong," Ley berusaha tak ikut kesal karena tingkah Andre, meski sebenarnya ia sudah ingin marah pada laki-laki itu.

"Ya udah nggak mau."

Ley menoleh cepat saat mendengar jawaban Andre, ekspresi galak langsung terlihat diwajah gadis itu. Andre yang tadinya masih menyandar santai langsung duduk tegak saat ekspresi Ley berubah menyeramkan.

Karin yang duduk diseberang pasangan itu mengamati keduanya bergantian, seolah mendapat tontonan yang menarik. Ia sudah lama mengenal Andre tapi baru kali ini melihat Andre ketakutan dan itu karena perempuan. Seorang Andre Adrian Pratama yang Karin kenal sebagai pentolan sekolah benar-benar luluh oleh Ley.

"Kasih nomornya gue telpon sendiri," putus Ley setelah cukup lama keduanya saling pandang.

"N-nggak gue aja," putus Andre gugup, entah kenapa tatapan marah Ley benar-benar membuatnya gugup. Sepertinya ia lebih takut gadis itu marah dari pada apapun.

"Tadi katanya nggak mau," ucap Ley membuat Abil dan Queen yang baru selesai menelpon kompak menoleh. Baru kali ini nada suara Ley benar-benar terdengar kesal.

Who Are You? ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang