(Follow sebelum membaca)
*****
Kehidupan Ley yang penuh dengan bayang-bayang kematian kedua orang tuanya membuat gadis itu tumbuh menjadi sosok misterius penuh rahasia.
Hingga suatu hari pertemuannya dengan laki-laki tampan pembuat onar bernama An...
Hujan deras mengguyur kota sejak pagi tadi, bahkan upacara bendera yang seharusnya diadakan harus dibatalkan. Andre dan teman-temannya baru saja tiba di halaman belakang sekolah dengan seragam yang nyaris basah kuyup. Sekelompok laki-laki itu datang terlambat seperti biasa dan memilih berteduh di halaman belakang.
Andre mendudukan dirinya menyandar pada dinding yang menghadap ke gedung kelas Bahasa. Pandangannya tertuju pada jendela lantai dua, tempat gadis yang ia suka duduk. Terhitung satu minggu Ley tak lagi muncul di hidupnya.
Tak ada satupun yang tau kemana gadis itu pergi. Tak ada juga pemberitahuan jika gadis itu pindah sekolah atau semacamnya. Bahkan teman-teman gadis itu juga tak tau kabarnya.
Bian melirik sekilas ke arah Andre, laki-laki itu terlihat lesu. Entah karena cuaca yang sedang tak mendukung atau memang suasana hatinya yang sedang tak enak. Baginya melihat Andre seperti itu sama seperti melihat ekspresi kekasihnya beberapa hari terakhir.
Bian menghela nafas pelan kemudian mengambil duduk di samping Andre.
"Masih belum ada kabar?" tanya Bian, Andre melirik sekilas.
"Menurut lo, kalo udah ada kabar gue bakal sediem ini?"
Bian terdiam, ia paham maksud perkataan Andre. Laki-laki itu tak jauh berbeda dengan dirinya.
"Kenapa nggak dateng ke rumahnya aja, Ndre?" saran Justin, sejak tadi laki-laki itu menyimak pembicaraan Andre dan Bian.
"Kelihatannya gue belum ke sana?"
Nada bicara Andre hari ini sukses membuat teman-temannya terdiam. Yah, bagi mereka melihat Andre marah sangat mengerikan. Mau tak mau mereka memilih diam daripada menjadi sasaran laki-laki itu.
"Mungkin lagi ada urusan," celetuk Kevan, teman-temannya yang lain melirik laki-laki itu seolah memberi peringatan agar tak macam-macam dengan Andre saat ini. "Dia kan juga punya privasi."
"Salah makan yah lo?" tanya Ricky pada Kevan sekaligus memberi peringatan.
Kevan hanya mengendikan bahunya tak peduli, menurutnya ucapannya barusan tak salah. Ley dan Andre bahkan belum resmi berpacaran, jadi wajar jika Ley pergi tanpa memberitahu.
"Urusan apa yang bikin dia sampai nggak bisa angkat telpon?" ucap Andre sekaligus bertanya, entah pada dirinya sendiri atau pada teman-temannya.
Sebenarnya Andre tak bermasalah jika Ley menghilang, hanya saja setidaknya gadis itu memberinya kabar. Atau sekedar mengangkat panggilannya satu kali saja, itu sudah lebih dari cukup.
"Di silent kali, cewek kan kalo ngambek biasanya gitu," celetuk Hendry.
"Kaya punya cewek lo," cibir Bobby.
"Kalo gitu tanya yang udah ada ceweknya! Si Bian kek, Justin, Kevan juga boleh," tunjuk Hendry kesal.
Sementara yang lain hanya geleng-geleng, tak mah ambil pusing tingkah duo curut itu. Begitu pula dengan Andre, laki-laki itu memilih menatap rinai hujan daripada mengikuti lelucon teman-temannya. Ia hanya berharap hari cepat berlalu dan Ley kembali hadir di hadapanya.
"Kalo cuma kangen, masih boleh kan?"
Suara Andre membias bersamaan dengan rinai hujan yang semakin deras. Mungkin ucapan itu tak dapat di dengar oleh teman-temannya saat ini. Tapi ia harap ucapan itu bisa di dengar oleh Ley, dimana pun gadis itu berada saat ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.