(Follow sebelum membaca)
*****
Kehidupan Ley yang penuh dengan bayang-bayang kematian kedua orang tuanya membuat gadis itu tumbuh menjadi sosok misterius penuh rahasia.
Hingga suatu hari pertemuannya dengan laki-laki tampan pembuat onar bernama An...
Ley menghela nafas lega setelah keluar dari komplek perumahan Andre. Setidaknya perasaanya sedikit tenang saat menjauh dari laki-laki bernama Andre itu. Laki-laki yang beberapa hari terakhir selalu berusaha masuk ke dalam dunianya.
Lalu lintas hari ini cukup ramai mungkin karena hari ini bukan bukan hari libur atau akhir pekan. Ley berjalan menelusuri jalanan kota sendiri untuk pertama kalinya. Sejak ia tiba di sana, Ley tak pernah keluar dari rumah selain ke sekolah atau ke toko buku.
Langkah Ley terhenti saat sebuah kerumunan menutupi sebagian sisi jalan. Ley perlahan melangkah mendekat, gadis itu menerobos ke dalam kerumunan. Tapi detik berikutnya pandangan gadis itu kosong, saat ia menyadari noda darah yang ia injak.
Pandangan gadis itu mulai kabur, tubuhnya mulai bergetar hebat. Ingatan demi ingatan muncul begitu saja di kepalanya. Tubuh Ley mulai berkeringat dingin saat melihat tubuh yang terkulai dengan banyak darah segar yang mengalir.
"Ley?"
Ley menoleh, tatapannya terlihat tak fokus. Tubuhnya juga masih bergetar hebat, sementara lawan bicaranya terlihat khawatir.
"Lo nggak papa? Lo kenal sama dia?" tanya gadis itu lagi saat mendapati Ley tak merespon pertanyaanya
"Siapa, Bil?"
Gadis itu, Ariani Salshabila. Ia menoleh menatap Bian, kekasihnya tengah menatapnya penasaran.
"Temen aku, Ley," sahut Abil, gadis itu menggandeng lengan Ley agar keluar dari kerumunan.
"Aku beli minum dulu yah?" ucap Bian, laki-laki itu pergi membiarkan Abil menenangkan temannya.
"Lo nggak papa? Kayanya lo kaget banget," ucap Abil khawatir.
"Gue nggak papa kok," sahut Ley.
"Nggak papa apanya, muka lo pucet gitu."
Ley mengatur nafasnya, ia berusaha terlihat baik-baik saja.
"Gue beneran nggak papa," ucap Ley lagi, kali ini gadis itu terlihat terusik dengan pertanyaan Abil.
"Tapi-"
"Ini minumnya."
Abil menghentikan kalimatnya saat Bian datang dengan dua botol air mineral.
"Makasih, yah?" ucap Abil.
"Aku tunggu di motor," ucap Bian sembari tersenyum ke arah Abil, ia membiarkan Abil dan Ley berbicara berdua.
"Lo beneran nggak papa, Ley?" tanya Abil lagi.
"Gue nggak papa, gue duluan yah. Sebenarnya gue masih ada urusan," pamit Ley.
"Kalo gitu ini dibawa, terus kalo ada apa-apa kabarin gue aja."
Ley menerima air mineral pemberian Abil kemudian mengangguk pelan.
"Thanks, gue duluan."
Abil menatap kepergian Ley masih dengan tatapan khawatir. Gadis itu benar-benar mengkhawatirkan Ley. Meski Ley tak mengatakan apapun, Abil tau gadis itu pasti sangat terkejut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.