4

56.1K 3.7K 71
                                        

Aku harap kehadiranmu bisa mengubah mimpi burukku menjadi mimpi indah

°°°°°°°°°°

Sudah 1 jam namun gadis ini belum sadarkan diri, Bagas sudah gelisah sendiri di tempatnya. Sedari tadi ia mondar-mandir di samping Brankar milik Selfi. Sesekali ia mengacak rambutnya Frustrasi, mengusap wajahnya dengan kasar.

"Sil ini kenapa nggak sadar-sadar sih, gue rasa ni anak tidur bukan pingsan!" ucapnya kesal namun juga khawatir.

Silvi pun menghampiri Bagas lalu menepuk pundaknya. "Khawatir banget mas?" ucapnya lalu menatap Bagas penuh arti.

"Ya gu... gue khawatir lah, kan dia pingsan juga karena gue" Balas Bagas gugup.

Silvi menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Bagas. "Siapa suruh Lo hukum dia lari sampe 10 kali"

Bagas menatap Silvi kesal.

Silvi hanya cengengesan. "Bentar lagi juga dia bangun, lo tenang aja" ucap Silvi.

"SAPII!!!!"

Teriakan nyaring milik Rani membuat Bagas dan Silvi terlonjak kaget. Mereka langsung menatap seorang gadis yang sedang berlari kecil kearah brankar Selfi diikuti gadis lain di belakangnya.

"SAPI LO NGGAK MATI KAN?" pertanyaan itu keluar langsung dari mulut Rani, dengan segera Siti mencubit pinggang Selfi.

"Lo kalo ngomong!" tegur Siti menatap tajam ke arah Rani, yang ditegur hanya cengengesan tak berdosa.

"Kak ini dia dari tadi belum bangun?" tanya Rani sopan.

"Belom dek" jawab Silvi.

Rani hanya mengangguk.

"Kak Bagas ngapain disini?" tanya Rani sinis.

"Dia dari tadi nungguin temen lo disini" celetuk Silvi membuat Bagas melotot kearah gadis itu tak suka.

"Bagus lah nggak lari dari tanggung jawab!" Balas Rani to the point.

"Ran jangan gitu, harusnya kita ngucapin makasih, karena Kak Bagas udah bantuin kita buat jaga Sapi" tegur Siti mencoba menasehati.

"Kok kita harus ngucapin makasih sama Kakak kelas yang udah ngebuat si Sapi sampai terkapar begini!" ujar Rani tak terima.

"Udah Ran!" tegur Siti.

"Nggak itu salah kak Bagas kenapa harus hukum Fi!" balas Rani tak mau kalah.

Siti menghela nafasnya panjang. "Kenapa tadi Lo diem aja waktu Fi diomelin sama kak Bagas?!"

"Lo juga! Jangan salahin gue dong!" seru Rani membela diri.

"Lo yang salah!" Siti mulai di buat kesal.

Tanpa mereka sadari gadis yang tengah mereka bicarakan sudah sadarkan diri, gadis itu tengah menatap jengah kearah mereka karena mengganggu tidurnya dengan pembicaraan yang menurutnya sangat tidak penting untuk di ributkan.

"LO BERDUA BISA DIEM NGGAK!" tegurnya. Membuat semua orang disana menoleh kearahnya, terutama Bagas dengan sigap membantu Selfi untuk bangun dan memberikan teh yang tadi ia beli.

"Lo udah nggak papa kan?" tanya Bagas memastikan jika Selfi sudah baik-baik saja.

Selfi hanya mengangguk canggung dan memberikan gelas yang sudah kosong kepada Bagas. Dengan segera Bagas menerimanya dan menaruhnya kembali di atas nakas samping brankar.

"Sory ya, gara-gara gue lo jadi pingsan" ucap Bagas begitu tulus.

"Hah? Ahh iya kak. Cuma pingsan doang kok nggak mati, tenang aja" jawab Selfi, ia masih sedikit kesal dengan Bagas. Namun di sisi lain ia juga senang karena bisa berbincang dengan seorang Bagas.

BAGASKARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang