"Bella beneran nggak tahu, bang." sahutnya kesal. Dua hari ini Ken merecokinya setiap kali ada kesempatan. Menanyakan keberadaan Gea dan nomor ponsel yang bisa dihubungi.
"Gara-gara Abang nih, Bell juga nggak bisa belajar fotografi lagi sama Kak Gea." sungut Bella setelah selesai mengemas buku pelajaran untuk esok. Dia sengaja menatap Ken sengit dan menggebrakan buku paketnya dengan keras.
Ken meringis melihat raut kesal adiknya dan memilih membaringkan tubuhnya dikasur Bella. Memejamkan mata yang terasa berat. Hampir tiga minggu Ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Ia juga harus ke dokter karena radang tenggorokan akibat mengkonsumsi perkedel daging setiap hari.
Gila memang.
"Bang, jujur deh sama Bella." anak ini ikut bergabung dengan Ken berbaring di sisi kasur yang kosong. "Abang apain Kak Gea sampe ilfeel dan keluar dari butik mommy, ngaku deh."
"Abang nggak ngapa-ngapain kok." jawab Ken ogah-ogahan.
"Bohong! Abang pasti agresif pas PDKT sama Kak Gea makanya Dia ilfeel kan? Iya kan? Ngaku!" paksa Bella.
Ken tertawa mendengar asumsi Bella. "Mana ada Abang agresif. Ngaco Kamu."
"Ini buktinya Kak Gea sampe cabut nggak tau kemana, kenapa coba?"
Ken berdecak sebal. Bella adalah cetakan biru mommynya. Keras kepala dan cerewet. "Boro-boro PDKT, Abang ditolak sebelum bertindak."
Tawa Bella menyembur keras melihat raut nelangsa Ken. "Rasain."
"Kok kamu ngeselin sih."
"Bell seneng aja akhirnya ada yang sadar kalo Abang itu pria-yang-tidak-setampan-itu- nggak kaya anak om Armani yang sejak dulu deketin Abang mulu. Abang emang nggak setampan itu kok."
©©©
Senyum Ken terbit saat menemukan tumpukan kaleng pringles di jajaran rak makanan ringan. Tanganya terulur dan meraih kaleng berwarna merah. Seakan bergerak otomatis, sepasang matanya langsung memindai keberadaan stik kesukaan Gea: pocky. Ken meraih satu kotak rasa original.
Kedua tanganya terangkat menunjukan dua camilan favorit Gea. Gadis itu bahkan menyebut dua camilan ini adalah penemuan paling fenomenal. Waktu itu, Ken hanya terkekeh mendengar ucapan Gea. Kali ini, Ken akan menyetujuinya. Bukan karena setuju tentang rasa dari dua camilan itu. Ken setuju dengan kata 'penemuan fenomenal', karena hanya dengan menatap dua camilan itu Ken merasa bertemu dan tersenyum seperti merasakan kehadiran Gea.
Ah shit, galau ternyata mempengaruhi kesehatan jiwa!
"Ada lagi kak?" tawar seorang penjaga kasir. Ken menggeleng, menolaknya.
Pandanganya mengitari area minimarket. Ia melihat seorang yang menunduk menikmati minuman di kaleng soda dan kripik kentang dalam kemasan berwarna coklat. Senyumnya terukir. Persis seperti Gea, seandainya dia memakan pringles. Kripik kentang dan soda adalah bagian hidup Gea. Batin Ken tersenyum.
"Totalnya tiga puluh lima ribu rupiah Kak." Ken kembali menoleh dan mengulurkan lembaran uang berwarna biru.
Sepasang mata Ken kembali menoleh menatap orang-yang-memakan-kripik-dan-soda tadi. Dia masih duduk di depan minimarket dengan kupluk hoodie coklat pudar besar membungkus tubuhnya. Bahkan pahanya terekspos, Dia seperti tidak memakai celana di balik hoodie kebesaran itu.
Dada Ken bergemuruh, Dia 'sangat Gea'. Perlahan Ken menyeret langkah saat melewatinya. Ia berusaha melirik ke sosok itu. Memastikan wajah si penikmat kripik-soda.
Sial.
Ken benar-benar kurang beruntung. Sosok itu menunduk untuk menalikan sepatu olahraga berwarna hitam. Menyembunyikan wajah yang membuat Ken sangat penasaran.
©©©
"Sama-sama enak kali, Ge. Kripik kentang juga kan?" ucap Nana saat Gea protes dengan pilihan cemilan yang di ambil.
"Enakan pringles, Na." Gea membuka kemasan plastik coklat berisi kripik kentang pilihan Nana. Mengambil beberapa keping dan dilahapnya. "Ini terlalu asin, pringles itu pas banget rasanya."
Nana mencibir. "Terlalu asin my ass." Gea tertawa saat pukulan Nana meleset. Tanganya meraih kaleng soda dan meneguknya. "Gue borong tuh pringles buat lo."
Gea meneriakan terimakasih yang Nana balas dengan lambaian. Tanganya membuka pintu kaca dan menghilang di balik rak makanan ringan. Hari ini Gea memaksa Nana lari meski hari sudah sore. Ia harus membakar lemak setelah tadi malam nonton maraton bersama Oji ditemani dua kotak pizza dan satu liter soda. Belum lagi beberapa kotak pocky sisa stok Gea di kos yang mereka lahap juga.
Tangan Gea menggulung asal rambut yang mulai melewati bahu. Dia mulai merasa tak nyaman dengan beberapa helai yang mencuat dari ikatan. Menaikan kupluk hoodie dan menikmati alunan musik dari headset yang Ia tancapkan dikedua telinganya.
Kedua kakinya Ia silangkan diatas kursi. Menikmati alunan musik yang memenuhi indra pendengaranya. Sepasang matanya melihat tali sepatu sebelah kiri terlepas. Gea berdecak pelan dan menurunkan sebelah kakinya. Menali sepatu adalah hal yang sangat tidak di sukainya. Meski Ia sangat menyukai sepatu bertali.
Deru mobil berbunyi halus di parkiran depan minimarket. Gea menaikan pandangan dan menatap plat mobil dengan mata melebar. Gerakan tangannya berhenti, membeku bersama tubuhnya.
B 1407 MA. Itu adalah mobil milik Kenan. Gea yakin itu. Karena Gea tau arti angka yang terukir di plat mobil hitam itu.
"Gue juga yakin itu Kenan, Ge."
©©©
Bau harum masakan menyambut kedatangan kedua dara yang berpeluh setelah menyelesaikan acara jogging mereka. Oji menyambut dengan senyum tiga jari. Namun segera lenyap saat hanya Nana yang membalasnya dengan cengiran anehnya.
"Kenapa?" tanya Oji dengan suara berbisik saat melihat Gea langsung masuk menuju kamarnya.
"Tadi gue liat Kenan di minimarket depan." jelas Nana setelah menelan air dalam tegukan besar.
"Ada sesuatu hal terjadi?"
"Nggak ada. Kenan sepertinya nggak liat Gea dan Dia nggak kenal gue. Tadi Gea cuma liat mobil Ken sebentar yang mundur dan udah, nggak ada kelanjutannya. Enggak ada tatapan rindu ala sinetron atau kalimat 'Kamu kemana aja? Aku kangen' sambil ngusap pipi."
"Najis banget muka lo." Oji melempar wajah Nana dengan serbet. Gemas bercampur geli.
Nana meraih serbet yang dengan menyebalkanya mendarat dengan apik di wajahnya yang masih menyisakan keringat. Dengan sebal Ia meraih serbet dan meremasnya sekuat tenaga.
"Lo tau nggak ini bau!" teriak Nana tak terima. Oji berlari ke arah tangga. Menghindari serangan balik Nana.
©©©
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi, You! Again? (TAMAT)
Fiction Générale"Yaya." Kepala Gea mendongak, berusaha menghalau air mata yang merebak di sepanjang lengkungan kelopak matanya. "Lo adalah pemicu mimpi buruk gue Ken." Gea mengusap kasar air mata yang mengalir di sebelah pipinya. "Gimana gue bisa hidup dengan tena...
