Lagi-lagi Gea tersentak dari lamunanya. Ken menghembuskan nafas pelan saat mendapati Gea hanya menggeleng dengan senyum tipis sebagai jawaban. Ken mulai khawatir dengan sikap aneh Gea selama satu minggu belakangan ini.
Dia sering mendapati Gea begitu dalam menatapnya dan terkejut saat Ken memanggil namanya. Melamun dan kehilangan fokus dalam pembicaraan mereka.
"Ya, tell me what exactly do you think? Jangan bilang nggak ada apa-apa karena Aku yakin ada sesuatu yang Kamu sembunyikan." Ken mengusap dahi Gea lembut.
Tangan Gea menurukan sendok yang sejak tadi di genggamnya. Ia meraih gelas Iced lemon tea dan menyesapnya dalam-dalam. "Aku hanya merasa sedikit kepikiran dengan hubungan kita." mulai Gea. Iya tidak yakin untuk mengatakan apa yang sebenarnya Ia dengar satu minggu lalu.
"Kenapa? Hubungan Kita baik-baik aja kan?" Ken mulai bersikap defensif. Takut Gea akan kembali berulah dan meninggalkanya.
Gea berdeham pelan. "Kenan, Kamu yakin Kita akan berhasil kali ini?" Wajah Kenan mengeras. Gea mengutuk diri karena merasa gagal memilih kata untuk memulainya.
"Hubungan ini akan berhasil jika kedua pihak which is you and me mau saling berkontribusi. Jadi, ada angin apa sampai Kamu kembali meragukan Aku, Geanna?"
Oh shit, Geanna? Ken sudah marah!
"Aku hanya sedang banyak pikiran." Gea kembali menyesap minumanya. "Akhir-akhir ini Aku sedikit banyak pikiran dan merasa sedikit ketakutan, Ken. Sorry."
"Are you sure?"
"Hm. Aku akan kembali memikirkan untuk tidak terlalu terbawa perasaan kedepanya."
"Ketakutan apa yang Kamu rasakan?" Ken meletakan sendok. Mematap Gea dengan serius.
Gea mengendik bahu pelan. "Ketakutan.. Karena Aku sedikit bermasalah dengan rasa percaya diriku akhir-akhir ini. Dan jangan tanya kenapa, bisa jadi ini karena sudah dekat tamu bulanan datang." Ken terkekeh ringan dan mengiyakan larangan Gea.
"Apa ini ada rasa gugup karena hari wisudamu sudah dekat?" tanya Ken mencoba bercanda.
Gea terkekeh pelan. Bukan karena menertawakan lelucon Ken. Gea hanya mencoba menutupi kegugupanya karena khawatir Ken akan mengetahui apa yang sebenarnya Ia sembunyikan.
"Iya. Aku gugup karena sebentar lagi wisuda dan pacarku sedang sibuk dengan pekerjaanya." balas Gea atas candaan Ken. "Apa dia akan datang dengan buket bunga raksasa? Atau karangan bunga mungkin?" Gea menghembus nafas lega saat Ken tertawa mendengar penuturanya.
©©©
Ken merentangkan kedua lenganya lebar-lebar saat Gea melangkah perlahan- karena kesulitan memakai widges setinggi 9cm dengan rok lipit batik yang membebat kedua kakinya sampai betis- keluar dari gedung tempat dilaksanakanya acara wisuda.
Disampingnya ada sebuah buket bunga besar yang sangat unik. Ken memberinya sebuah buket bunga sebesar televisi 32' inch berbentuk kamera berisi bunga mawar merah sebagai lensa kamera, dan mawar putih sebadai body kamera. Ada beberapa bunga lain berwarna biru sebagai ganti tombol-tombol pada kamera. Ken bahkan menuliskan 'Congratulation Yaya' sebagai merk dari kamera tersebut.
Dengan tawa tertahan Gea berjalan pelan menuju tempat Ken masih merentangkan tanganya dengan norak disana. Ken yang biasanya malu, sekarang berubah malu-maluin ditengah keluarganya yang juga menunggu kedatanganya.
"Hon, buka youtube deh. Puterin lagu India dong, biar jadi back song para bayi." sindir Nana yang berhasil mengundang tawa.
"Mereka sweet banget loh darl." komentar Rico.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi, You! Again? (TAMAT)
Fiksi Umum"Yaya." Kepala Gea mendongak, berusaha menghalau air mata yang merebak di sepanjang lengkungan kelopak matanya. "Lo adalah pemicu mimpi buruk gue Ken." Gea mengusap kasar air mata yang mengalir di sebelah pipinya. "Gimana gue bisa hidup dengan tena...
