BAB 2 - Malu

713 73 0
                                        

Happy Reading!

🌼🌼🌼

"Arkan Yudhistira."

Adita tersenyum. "Nama yang bagus. Kamu dari mana? Kenapa baru masuk kelas?"

"Lo siapa sih? Murid baru?" tanya Arkan sewot.

Tawa satu kelas berderai begitu juga dengan Adita. Adita memang belum memakai seragam seperti guru-guru yang lain.

Melihat Adita yang masih tertawa membuat Arkan menaikkan sebelah alisnya. Tangan Arkan terulur menyentuh dahi Adita membuatnya langsung terdiam.

"Heh, lo sakit?" tanya Arkan polos.

Adita menjauhkan tangan Arkan dari dahinya. "Alhamdulillah saya sehat. Apa kamu pikir saya murid baru?"

Dengan tampang polosnya, Arkan mengangguk membuat Adita menahan tawanya. "Saya Adita. Guru baru yang menggantikan Bu Eni mengajar Matematika."

Jger!

Arkan terkejut. Tapi ia langsung menyembunyikan ekspresi terkejutnya di balik wajah datarnya itu.

"Makanya Ar jangan telat mulu lo!" celetuk salah satu murid membuat satu kelas kembali tertawa.

"Kamu dari mana? Kenapa baru masuk kelas?" tanya Adita lagi.

Arkan berdehem. "Bukan urusan lo."

Adita mendekatkan kepalanya ke arah Arkan seperti sedang mengendus bau yang menyengat dari tubuh cowok itu. Arkan reflek mundur satu langkah. "Ng-ngapain lo?"

Adita kembali berdiri tegap. "Habis ngerokok?"

"Iya itu bu. Bener. Arkan habis ngerokok bu!"

"Setiap pagi juga gitu bu!"

"Kalo bolos pasti di belakang perpus ngerokok!"

"Diem lo semua!" bentak Arkan.

Cowok itu kembali menatap tajam Adita yang anehnya malah tersenyum. "Ngerokok apa nggak, bukan urusan lo juga kan? Lo mau ngelarang gue ngerokok juga percuma."

"Emang bukan urusan saya," jawab Adita santai.

"Buat apa saya ngelarang. Toh itu paru-paru kamu sendiri. Yang ngerusak juga kamu sendiri. Yang kena akibatnya juga kamu sendiri. Untungnya apa saya ngelarang kamu?"

Arkan terkejut mendengar ucapan guru barunya itu.

"Kicep dah tu Arkan!"

"Bu Adita keren!"

"Rasain lo Ar!"

"Baru kali ini gue liat Arkan langsung kicep!"

Adita tersenyum. "Tapi saya saranin, kalo habis ngerokok itu pakai parfum. Kamu tau kan bau keringat yang ke campur sama asap rokok itu baunya gimana?"

Adita menjepit hidungnya lalu menatap jail Arkan. "Bau banget."

Tawa murid kelas 12 IPA 6 kembali berderai. Baru kali ini mereka melihat Arkan terdiam dengan wajah memerah menahan malu.

"Habis ngerokok mending langsung mandi, Ar!"

"Gue pinjemin parfum apa? Gue bawa nih!"

"Gue kasih aja deh kalo perlu!"

Adita berjalan ke meja guru lalu kembali lagi membawa botol parfum di tangannya. "Nih pakai parfum punya saya. Baunya lemon kok jadi buat badboy kayak kamu nggak papa pake ini."

"Gue nggak butuh!" tolak Arkan.

"Ya udah sih kalau nggak mau." Adita mengangkat kedua bahunya tidak peduli. Ia mengedarkan pandangannya. "Siapa yang duduk sebangku sama Arkan?"

Seorang siswa yang duduk di barisan paling belakang dan paling pojok mengangkat tangannya. "Saya bu!"

"Kamu kenapa bisa betah duduk sama Arkan yang bau banget gini?"

"Ya gimana ya, Bu. Terpaksa sihh bu," jawabnya membuat tawa satu kelas berderai.

Arkan menatap tajam temannya itu. Awas lo Wan!

Adita kembali menyodorkan parfumnya ke Arkan. "Pake daripada guru BK yang saya suruh ke sini buat menghukum kamu karena telat, nggak sopan sama guru, dan habis ngerokok," ucap Adita kali ini ada nada tegas di dalamnya.

Arkan mengambil parfum itu lalu menyemprotkan ke badannya. Mereka tidak mengetahui Arkan menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum tipis. Sangat tipis.

Alasan Arkan tersenyum, ia menyukai bau parfumnya.

Arkan mengembalikan botol parfum itu kepada pemiliknya. Adita menggeleng. "Buat kamu aja. Saya tahu kamu suka baunya."

Jger!

Arkan kembali terkejut. Bagaimana guru barunya itu bisa tahu ia menyukai bau parfumnya?

"Sekarang kamu boleh duduk di bangku kamu," ucap Adita.

Arkan membalikkan badan. Baru satu langkah, Adita memanggilnya. "Arkan, kamu nggak salim sama saya?"

Arkan kembali membalikkan badan dengan malas. Cowok itu malah bertanya. "Umur lo berapa?"

Adita menaikkan sebelah alisnya bingung karena muridnya malah balik bertanya. "Umur saya 21 tahun."

"Gue 18," ucap Arkan.

"Siapa?"

"Gue."

"Yang nanya?"

Tawa satu kelas kembali berderai. Mungkin hari ini mereka banyak yang sakit perut karena tertawa terus.

"Capek gue ketawa mulu dari tadi!"

"Ini lagi ada acara komedi apa yak?"

"Gila sihh, bu Adita keren!"

"I love you bu Adita!"

"Keren!"

"Guru favorit!"

Arkan mencari alasan, "maksud gue. Kan umur gue 18 elo--"

"Yang sopan dikit napa Ar sama guru!" seru salah satu siswa.

Adita menahan tawanya. "Tuh dengerin kata temen kamu. Yang sopan dikit sama guru meskipun saya ini masih muda."

Arkan mendengus sebal. "Kan umur saya 18 tahun dan Ibu 21 tahun jadi masih kayak temen. Buat apa saya salim sama ibu yang umurnya masih sama kayak temen saya?"

"Maaf ya, saya bukan temen kamu dan nggak mau temenan sama kamu," ucap Adita membuat murid-muridnya menahan tawa.

"Ya udah, kalau nggak mau salim sama saya. Tos aja deh." Adita mengangkat tangannya.

Arkan hanya diam menatap telapak tangan Adita.

"Buruan napa Ar, kita masih ada banyak pertanyaan buat Bu Cantik nih--ehh maksudnya Bu Adita, hehe."

Adita hanya menggeleng mendengar celetuk muridnya itu. Tak lama, Arkan mengangkat tangannya dan,












🌼🌼🌼

Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊

Me VS Pak Guru✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang