"Lah ngapain lo di situ? Dari kapan?"
Dimas hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Devandra. Cowok itu beranjak berdiri, pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Apa ada yang penasaran dimana Alfian dan Dina? Jawabannya mereka sedang pergi ke panti asuhan.
Dimas kembali ke ruang keluarga ketika melihat Vania yang menggendong Alvaro. Dimas duduk di samping Vania. Cowok itu menoel-noel pipi gembul Alvaro yang sedang asyik makan biskuit.
"Alvaro, Alvaro, Al--"
Plak!
"Aw!" Dimas meringis. Lengannya baru saja dipukul Vania. "Sakit, Van!"
Vania menatap tajam Dimas. "Jangan ganggu dia! Nanti nangis lagi!"
Dimas berdecak kesal. Tak lama, Devano masuk bersama dua anak kecil yang menyebalkan—yang sayangnya menggemaskan.
"Alvaro!" teriak Aksara sambil berlari ke arah adiknya.
Alvaro meloncat-loncat di pangkuan Vania. "Bang!"
Aksara duduk di samping Vania. "Bunda, biar abang yang pangku adek."
Vania tersenyum lalu membawa Alvaro ke pangkuan Aksara. "Hati-hati," ucapnya yang dibalas anggukan Aksara.
"Minggir lo!"
Devano mendorong kasar Dimas ke samping sampai dia hampir terjatuh. Dimas mendengus. Ia langsung duduk di single sofa.
Dimas melihat Devano yang memeluk Vania dari samping sambil bermain dengan kedua anaknya. Menoleh ke kiri, Dimas melihat Devandra memangku Diandra dan Melody yang bersandar di bahunya.
Dimas menghela napas. "Gini amat jadi jomblo."
Semua menoleh ke arah Dimas yang berdiri. "Gue mau pulang. Di sini panas."
***
Dimas menghentikan mobilnya di depan sebuah mini market. Cowok itu turun dari mobil lalu melangkah ke dalam mini market.
Dimas mengambil sebotol air mineral dingin. Membalikkan badan, cowok itu tersentak kaget melihat seseorang yang berdiri di sampingnya.
Dimas mencengkram erat botol air mineral yang di bawanya melihat seseorang itu tersenyum manis. Senyum yang dulu pernah membuat jantungnya berdegup kencang.
"Dimas," panggil Rita membuyarkan lamunan Dimas. "Bisa kita bicara sebentar?"
Dimas menggeleng samar. "Maaf, saya buru-buru," ucapnya dingin lalu pergi meninggalkan Rita menuju kasir.
Rita menghela napas. Ia tahu, Dimas masih kecewa dengannya. Rita menoleh ketika seseorang memanggil namanya.
Adita menunjuk keranjang yang penuh camilan. Cewek itu nyengir lebar. "Yuk! Gue udah dapet cemilan."
***
Dimas berlari menuruni tangga. Melihat kedua orang tuanya yang duduk di kursi meja makan, bersiap untuk sarapan. "Good morning, Ma, Pa!"
Kedua orang tuanya menoleh. Silvia tersenyum, "morning!" balasnya.
Sedangkan Riko, Papanya mendengus. "Nggak usah sok-sokan pake Bahasa Inggris. Mentang-mentang guru Bahasa Inggris." Dimas tertawa mendengar gerutuan pria paruh baya itu.
Dimas duduk di samping Papanya, berhadapan dengan Mamanya. Mamanya bertanya, "gimana, udah dapet maaf belum dari Aksara?"
Tangan Dimas yang hendak menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya berhenti di udara. Cowok itu mendengus. "Belum."
Dimas menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Melanjutkan ucapannya setelah menelan makanan.
"Tadi Dimas telepon, Aksara masih belum mau bicara sama Dimas. Ditambah anaknya Devandra yang ngomporin Aksara supaya jangan maafin Dimas."
Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring berhenti, membuat Dimas mendongakkan kepala. Mengernyit bingung melihat kedua orang tuanya yang tiba-tiba menampilkan raut wajah sedih.
"Mama sama Papa kenapa?" tanyanya.
"Mama jadi kangen sama Diandra," ucap Silvia sedih.
Riko mengangguk menyetujui. "Papa juga kangen Alvaro sama Aksara." Kedua mata pria paruh baya itu berbinar, seperti mendapat sebuah ide.
"Nanti kita ke sana yuk, Ma!"
Silvia mengangguk semangat. "Yuk, Pa!"
Dimas tersenyum geli melihat kedua orang tuanya. Anak dari keponakan mereka—Vania dan Melody—saja sayang banget, apalagi anak Dimas.
Dimas menggeleng. Astaga, pasangan saja belum dapat, udah mikirin anak. Alasan Dimas masih sendiri sampai saat ini ya karena dia takut untuk membuka hati, lagi.
Kedua orang tua Dimas juga tidak pernah memaksa untuk segera menikah dan itu membuatnya merasa bersyukur memiliki kedua orang tua seperti mereka.
Tanpa mengucapkannya pun setiap orang tua pasti tahu kalau anaknya menyayangi mereka. Bahkan sangat menyayangi mereka.
Dimas sayang Mama sama Papa
🌼🌼🌼
Mint kangen cerita ini:)
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
