BAB 39 - Hilang

301 44 0
                                        

Tangan seseorang terulur di depan wajah Dimas, membuat cowok itu tersentak kaget. Ia mendongak, ternyata Adita yang mengulurkan segelas kopi untuknya.

"Ngagetin aja lo!"

Adita tertawa melihat raut wajah terkejut Dimas. "Buat lo," ucap cewek itu.

"Makasih." Dimas bergeser supaya Adita bisa duduk di sampingnya. "Duduk!"

Adita menurut, cewek itu duduk di samping Dimas. "Bagus juga suara lo, kak."

Dimas menyeruput kopinya lalu tersenyum. "Makasih."

"Kayaknya lo menghayati banget lagunya," Adita tersenyum jahil.

Dimas mengangguk mengiyakan. Tersentak kaget ketika Adita menyenggol bahunya. "Ciee...nyanyi buat siapa hayo?"

"Ada deh," balas Dimas.

"Ihh, gue kepo. Kasih tau, dong!"

"Rahasia! Lo nggak boleh tau."

Adita mencebikkan bibirnya kesal. "Dasar pelit!"

"Biarin, yang penting ganteng."

"Siapa?"

"Gue."

"Yang nanya."

Dimas menatap datar Adita yang sekarang terbahak. Gemas, cowok itu menarik kedua pipi Adita. "Aditaaa!"

"Awhh!" Adita meringis. Mengernyit bingung melihat Dimas yang menatapnya tak suka. "Kenapa lo natap gue kek gitu?"

Dimas menghela napas. "Lo belum minum obat?"

"Obat apa?"

"Obat penurun panas."

"Ha? Siapa yang panas?" Adita pura-pura bingung.

Tangan Dimas terulur menyentuh kening Adita. Berdecak ketika punggung tangannya merasakan kulit Adita yang panas.

Lalu, tangan Dimas bergerak mengusap puncak kepala Adita. "Harusnya gue tadi nggak biarin lo jadi pembawa acara. Lo jadi kecapekan, kan?"

Adita menggeleng. "Nggak. Gue nggak capek kok. Gue kan strong!" Adita mengangkat kedua tangannya, seperti sedang memamerkan otot.

Melihat Adita tertawa, membuat Dimas ikut tertawa. "Ya udah yuk, gue anterin ke tenda. Lo harus istirahat. Besok kita udah pulang." Adita mengangguk.

Sampai di tenda, Dimas dan Adita mengernyit melihat beberapa orang yang berkumpul. "Kenapa pada kumpul?" tanya Dimas pada mereka.

"Ada murid yang hilang," Rita yang menjawab.

"Siapa yang hilang?" Adita mulai panik. Tentu saja dia panik, karena dia adalah ketua panitia acara ini. "Kenapa bisa hilang sih?"

"Ta, tenang," Dimas mengusap kedua bahu Adita, berusaha menenangkannya.

"Bella yang hilang, Bu," jawab Ika. "Tadi dia pamit ke kamar mandi pas pensi. Tapi, selesai pensi dia belum juga balik."

"Kita harus cari Bella sekarang!" perintah Adita. Setelah mendapat arahan dari Adita, mereka segera berpencar.

Dimas mencekal pergelangan tangan Adita, membuat langkah cewek itu berhenti. "Lo di sini aja!"

Adita mengernyit tidak suka. "Nggak! Gue harus ikut!"

"Nggak!" Dimas berucap tegas. "Lo lagi sakit. Lo di sini aja! Biar gue sama yang lain yang cari Bella!"

"Tapi, Kak--"

"Please," Dimas memohon. "Nurut sama gue."

Adita mengangguk pelan. Dimas menoleh ke belakang, menatap Rita lalu berkata, "Tolong jagain Adita."

Rita tersenyum. Entah mengapa, dia merasa senang Dimas mengajaknya bicara duluan. "Iya."

Dimas mengusap puncak kepala Adita. "Lo istirahat. Gue pergi dulu." Adita mengangguk, setelah itu Dimas pergi bersama yang lain mencari Bella.

***

"Udah lah, Ta. Lo tenang aja!"

Adita menoleh, menatap sebal Rita yang sedang asyik makan mie instan. "Gimana gue bisa tenang? Salah satu murid ada yang ilang, Rita!"

"Mereka pasti bisa nemuin Bella kok," ucap Rita santai.

"Kok lo santai banget sih?" kesal Adita. "Ini nih yang namanya guru tidak sayang pada murid!"

"Enak aja lo!" Rita tentu tidak terima. "Gue sayang sama murid-murid gue!"

"Tapi kenapa lo malah asyik makan mie, Rita?!" Adita gemas dengan sahabatnya yang satu ini.

"Laper tau," Rita nyengir lebar. "Mending, lo tidur aja, Ta. Nanti sakit lo tambah parah."

"Nggak bisa tidur!" jawab Adita.

"Terserah lo, deh." Rita mendengus. "Capek gue dari tadi nyuruh lo tidur. Dasar keras kepala!"

"Nah tu tau!" balas Adita.

"Ehh, Ta!" panggil Rita.

"Hm."

"Sekarang gue yakin seratus persen, Dimas suka sama lo, Ta!" ucap Rita yakin.

Adita menatap Rita tak percaya. Bisa-bisanya dalam situasi seperti ini Rita bisa membicarakan soal perasaan Dimas kepada dirinya. "Bego!"

Rita melotot mendengarnya. "Kok lo ngatain gue bego, sih?!"

"Di saat seperti ini lo malah ngomongin soal perasaan mantan lo itu?!" Rita malah cengengesan. "Lo lupa kalo Kak Dimas itu mantan lo?"

Rita kembali melanjutkan acara makannya. "Ya enggak lupa, lah!" jawabnya.

"Ya terus kenapa lo malah kayak biasa aja gitu ngomongin dia suka sama cewek lain?"

Rita tertawa. "Emang gue b aja tuh. Nggak masalah gue mah. Lagian lo tau kan alasan gue pacaran sama dia apa? Alasan putus juga apa?"

Adita mengangguk. Ya, dia tau semuanya. Rita mengangkat garpunya. "Nahh, ya udah!"

Adita mengernyit bingung. "Nggak jelas lu!" cibirnya.

"Percaya sama gue deh, Ta! Dimas itu suka sama lo."

"Rita!" Adita menggeram kesal. "Stop ngomongin itu!"

"Ciee, salting ciee," goda Rita.

Kesal, Adita mengambil boneka yang tergeletak di dekat tas Rita dan melemparnya keluar tenda.

"Adita!" Adita menutup kedua telinganya mendengar Rrita berteriak. Sudah mengalahkan toa saja teriakan sahabatnya itu.

Rita menatap tajam Adita. "Tega lo sama gue!" ucapnya dramatis. Adita mengedikkan bahu tidak peduli.

"Koyaaa!"

Adita tertawa melihat Rita keluar tenda untuk mengambil boneka berbentuk koala itu.

***

Rita berjalan kembali ke tenda sambil menghentakkan kakinya. Tentu dia kesal. Gara-gara Adita, boneka kesayangannya berenang di lumpur.

"Adi--" Dahi Rita berkerut dalam tidak melihat Adita di dalam tenda. "Lah, mana tu anak?"

Rita mengedarkan pandangan. "Adita?!" panggilnya.

Ia terdiam cukup lama sambil menebak-nebak dimana keberadaan sahabatnya itu sekarang. Kedua mata Rita melebar, "Jangan-jangan, dia nekat nyari Bella?"

Rita berdecak, "Adita bego!"










🌼🌼🌼

Kenapa Rita bawa boneka ke acara camping sih? 😂

Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊

Me VS Pak Guru✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang