"Kamu yang teliti ngerjainnya. Kalah atau menang itu biasa dalam perlombaan."
Arkan mengangguk mengiyakan ucapan Adita. Ya, Olimpiade Matematika yang sudah Arkan persiapkan beberapa bulan yang lalu diadakan hari ini.
Jujur, Arkan gugup. Sudah lama dia tidak mengikuti acara lomba seperti ini.
Adita menepuk pundak Arkan. Mengangkat kepalan kedua tangannya lalu berseru, "Fighting!" Arkan tersenyum melihatnya.
"Bu," panggil Arkan membuat Adita menatapnya bingung. "Nanti kalo gue menang, gue traktir," lanjut Arkan.
Adita tersenyum lebar. "Siap!"
***
Adita tersenyum haru melihat Arkan berdiri di panggung dengan membawa piala yang paling besar di tangannya. Ya, Arkan mendapat juara 1.
Adita menyeka air yang tak sadar keluar dari sudut matanya. Sekarang, dia tahu alasan mengapa guru pembimbingnya selalu menangis melihatnya memenangkan lomba dan membawa piala.
Drtt...Drrtt
Adita mengeluarkan ponsel dari dalam saku roknya. Menggeser tombol hijau pada layar lalu menempelkan ponsel ke telinga.
"..."
Adita mengangguk samar. "Baik. Setelah ini, saya akan mengajak Arkan ke taman."
Tut, tut, tut!
Sambungan telepon terputus. Adita memasukkan kembali ponsel ke dalam saku rok. Tersenyum melihat Arkan yang sedang berfoto dengan peserta lain.
"Hari ini, tugas saya menjaga kamu sudah selesai, Arkan."
***
Arkan mengernyit bingung. Bukannya mengajak ke kantin, Adita malah mengajaknya ke taman. "Kenapa kita malah ke taman?"
Pertanyaan itu membuat Adita mengalihkan pandangan dari layar ponsel ke Arkan yang duduk di depannya. Adita tersenyum. "Ada seseorang yang mau ketemu sama kamu."
Kerutan di dahi Arkan bertambah. "Siapa?"
Adita menunjuk seseorang yang baru saja datang menggunakan dagu. "Dia."
Arkan memutar tubuhnya ke belakang. Senyumnya mengembang melihat seseorang itu. "Ayah!"
Arkan berdiri lalu menghampiri Ayahnya. Baru dua langkah, Arkan berhenti setelah melihat seseorang yang berjalan di belakang pria paruh baya itu.
Senyum di wajah Arkan perlahan memudar. Rahangnya mengeras. Kedua matanya menatap tajam seseorang itu. Arkan berjalan mundur ketika seseorang itu mendekat.
"Berhenti di situ!"
Laras berhenti berjalan mendekati Arkan, putranya. Ya, Laras. Apa kalian mengingat siapa itu Laras? Kalau tidak, biar aku ingatkan.
Laras adalah seorang wanita paruh baya yang dipanggil Rita ketika Bella bertengkar dengan Ika. Apa kalian sudah mengingatnya? Kalau sudah, mari kembali ke cerita.
"Arkan, Ibu minta maaf."
Arkan memalingkan wajah melihat setetes air turun dari mata seseorang yang sudah merawatnya dari kecil. Tangannya mengepal kuat, berusaha menyalurkan sesak di dalam dada.
"Arkan," suara Ayahnya terdengar lembut. "Maafkan Ibu. Dia sudah menyesali apa yang dia lakukan. Ayah juga sudah memaafkan Ibumu."
Arkan menatap Ayahnya lalu menggeleng tak percaya. "Ayah semudah itu memaafkannya?"
"Apa Ayah nggak inget waktu Ayah sakit dia," Arkan menurunkan telunjuknya yang tak sadar menunjuk Laras lalu kembali melanjutkan ucapannya, "dia malah pergi bersenang-senang dengan selingkuhannya?"
Laras menangis sesenggukan. "Maafin Ibu, Arkan. Ibu benar-benar menyesal."
Arkan menggeleng kuat. Membalikkan badan lalu berlari cepat pergi dari sana. Tangannya menyeka cepat air mata yang berani keluar.
Arkan nggak bisa maafin Ibu
***
Suara derap langkah seseorang membuat Arkan menoleh ke belakang. Di depan pintu rooftop, Adita berdiri dengan senyum di wajahnya.
"Kamu seperti kakak-kakak saya," Adita berjalan mendekat. Kembali melanjutkan ucapannya setelah berdiri di depan Arkan, "Kalau punya masalah memilih pergi ke rooftop untuk menenangkan diri."
Arkan mengernyit tidak suka. "Kenapa lo ke sini?!"
Adita mengedarkan pandangan. Bukannya menjawab pertanyaan Arkan, Adita malah berkata, "Bagus juga pemandangan dari sini."
Arkan berdecak. Ia melangkahkan kaki, pergi dari sana. Arkan menurunkan knop pintu rooftop. Mengernyit ketika pintu itu tidak bisa dibuka.
"Pintunya saya kunci."
Arkan menoleh ke belakang, melihat tangan Adita yang terangkat membawa sebuah kunci dan menggerakkannya pelan.
Arkan berjalan cepat menghampiri Adita, merebut kunci itu. Tapi sebelum Arkan berhasil mengambilnya, Adita melempar kunci itu.
"Ups," Adita menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan menampilkan tatapan bersalahnya, pura-pura bersalah lebih tepatnya, "maaf."
Kedua mata Arkan membelalak. "Gila lo!" Adita malah tertawa mendengarnya. "Gimana kita bisa keluar kalo kuncinya lo lempar?!"
Adita tersenyum. "Kita bisa keluar kalau kamu memaafkan Ibumu."
"Lo aneh!" cibir Arkan. "Mana mungkin pintu itu bisa ke buka dengan gue memaafkan dia?"
"Apa yang saya katakan benar, Arkan."
"Nggak!" Arkan menggeleng. "Gue nggak mau maafin dia!"
Adita tersenyum miring. "Jadi, kamu mau di sini terus?"
"Ya enggak lah, aneh lo!"
Adita terkekeh pelan. "Ya sudah, maafkan Ibumu."
Arkan maju selangkah hingga ujung sepatunya menyentuh ujung flatshoes Adita. "Nggak akan!" ucapnya penuh penekanan.
Adita sedikit memiringkan kepala, "Kenapa?"
"Lo nggak tau rasa sakit hati gue tiga tahun lalu waktu Ibu lebih milih pria lain daripada Ayah gue sendiri yang saat itu lagi sakit dan sangat membutuhkan dia di sisinya!"
Adita dapat melihat kedua mata Arkan yang berkaca-kaca. "Apa kamu tidak mau memaafkannya? Ibu kamu udah menyesali perbuatannya, Arkan."
"Nggak! Hati gue masih sakit inget itu."
"Apa kamu percaya kalau ada seseorang yang dengan mudahnya memaafkan orang yang sudah membuatnya sakit, bukan hanya hati tapi juga fisik selama lima tahun?"
Arkan mengernyit lalu menggeleng pelan. "Nggak! Mana ada orang kayak gitu."
Adita tersenyum. "Sebenarnya ini masalah di keluarga saya. Tapi, saya akan menceritakannya. Siapa tahu, kita bisa belajar dari cerita ini."
Arkan mengernyit tidak mengerti.
🌼🌼🌼
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
