"Apa gue minta maaf ya sama Bu Adita karena udah bentak tadi?" Arkan menghela napas. Menyampirkan tasnya di pundak kiri lalu keluar kelas.
Arkan berhenti, menunduk melihat tali sepatunya yang terlepas. Berjongkok dengan lutut kiri sebagai tumpuan lalu mengikat tali sepatu kanannya.
Setelah selesai, Arkan menoleh ke kiri. Melihat gerombolan semut yang berjalan di tembok.
"Heh, semut!"
Arkan mendengus. "Ye, gue panggil nggak nyaut! Nengok aja nggak. Sombong lu!"
Arkan cukup lama memperhatikan semut-semut itu. "Bagusnya, gue minta maaf nggak?"
"Minta maaf?" Arkan bertanya seolah semut itu baru saja memberikan sebuah usulan.
Arkan mengangguk-anggukan kepalanya. "Bener juga, lo! Gue harus minta maaf."
Tangan kiri Arkan terangkat, menutupi wajahnya. "Tapi...gue malu."
Seolah mendapat semangat dari semut-semut itu, kedua sudut bibir Arkan terangkat. "Ya udah deh, gue mau minta maaf sama Bu Adita dulu."
Arkan mendekatkan tangannya ke tembok lalu, plak! Arkan melihat gerombolan semut itu yang jatuh ke lantai.
"Yahh, niat gue kan ngajak kalian tos, ehh, gue malah nggak sengaja bunuh kalian," Arkan berucap sedih. "Sorry, semut."
Detik berikutnya, Arkan tertawa, menyadari tingkahnya yang aneh.
Seseorang yang bersembunyi di balik tembok itu tersenyum. "Arkan yang aneh, gue kangen lo."
***
Arkan berlari menyusuri koridor menuju lapangan basket indoor. Tangan kanan cowok itu menggenggam sebotol air mineral dingin yang dia beli di warung depan sekolahan karena kantin sudah tutup.
Entah mengapa, kedua sudut bibirnya terus terangkat.
Arkan berhenti di depan pintu masuk. Mengatur deru napasnya yang memburu setelah itu berdehem berulang kali.
Arkan mengubah raut wajahnya menjadi datar. Namun, gagal. Senyumnya ingin terus berkembang.
Arkan mendorong pintu hingga setengah terbuka. Tersenyum mendengar suara tawa Adita.
Tepat ketika pintu masuk lapangan basket terbuka lebar, raut wajahnya berubah datar melihat Dimas menggendong Adita di belakang.
"Semangat, Pak Dimas!" seru Adita. "Ini baru satu putaran."
Dimas berhenti berlari. Menoleh ke kiri, Dimas mendengus kesal melihat Adita yang nyengir lebar.
"Perasaan dari tadi Bu Adita ngitungnya satu terus." Adita nyengir lebar. "Yang bener udah berapa putaran, sih, Bu?!"
Adita tampak berpikir. "Emm...lupa."
"Bu Adita kan guru Matematika, masa ngitung dari satu sampe sepuluh aja nggak bisa!" ledek Dimas.
Kesal, Adita mempererat tangannya yang melingkar di leher Dimas. "Duh, Bu, saya nggak bisa napas!"
Adita tertawa. "Ayo, Pak lari lagi! Janji deh, saya ngitungnya bener, hehe."
Dimas berlari lagi sambil menggendong Adita. Dimas berputar, membuat Adita mengeratkan pelukan pada lehernya. Tawa mereka menggema di dalam sana.
Mereka...saling suka.
Arkan bisa melihat itu dengan jelas.
Tangan Arkan mencengkram kuat botol yang dia bawa. Kenapa dadanya terasa begitu sesak sekarang?
***
Adita mengedarkan pandangan. "Sekolahan udah sepi ya, Pak?" tanyanya pada Dimas.
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor menuju parkiran mobil. Dimas mengangguk, "Ya iyalah, Bu. Kan udah setengah enam sore."
Adita melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. "Ohh iya, hehe," cewek itu nyengir lebar.
"Kok Bu Adita tadi bukannya pulang malah basket?"
Adita menoleh ke arah Dimas. Tersenyum melihat Dimas yang mengalihkan pandangan ketika tak sengaja tatapan mereka bertemu.
"Kalau saya kesel sama orang biasanya main basket." Dimas menganggukkan kepala. "Kalau Pak Dimas kenapa nggak pulang?"
"Tadi ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," jawab Dimas lalu menoleh. "Ohh ya, saya tadi liat Arkan berdiri di depan pintu masuk lapangan, jadi saya penasaran. Ehh, ternyata ada Bu Adita."
Adita mengernyit bingung. "Arkan?"
Dimas mengangguk. "Iya. Mau saya tanyain ngapain berdiri di sana, ehh, dia malah lari."
"Ohh," Adita hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak peduli dengan apa yang dilakukan muridnya yang satu itu.
Adita menoleh, menatap Dimas dari samping, "Pak Dimas!"
"Ya?"
"Emm...mau saya traktir bakso depan sekolahan?" tawarnya. "Kan tadi memang saya yang menang, tapi saya kasihan sama bapak. Punggungnya pasti sakit banget ya?"
Dimas tertawa. "Ya lumayan sihh, Bu. Tapi saya udah terbiasa kok gendong karung beras."
"Enak aja saya disamain karung beras!" Adita memukul keras bahu Dimas.
"Aduh!"
Adita melebarkan kedua mata, menyadari apa yang dia lakukan barusan. Barusan Adita memukul bahu Dimas?
Sedekat itukah mereka sekarang sampai dia berani memukul bahu rekan sesama gurunya?
🌼🌼🌼
Arkan mundur aja yaa
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
4-07-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Fiksi RemajaCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
