Kedua mata Adita membelalak. "Pak Dimas?"
"Bu Adita kenapa bisa ada di sini?"
Adita menoleh ke kiri, meminta pertolongan Dina. Wanita paruh baya itu melepaskan pelukan lalu berkata, "udah ketauan, kan?"
Dina menatap dua anak laki-lakinya dan Adita bergantian. "Kalian bertiga jelasin sama Dimas. Bunda nggak ikut-ikutan ya!" ucapnya lalu pergi ke dapur.
Dimas menoleh ke belakang, menatap bingung Devano dan Devandra. "Van? Ndra?" Mereka nyengir lebar.
"Ekhem," Adita berdehem, membuat Dimas menoleh ke arahnya. "Ini ide mereka," Adita menunjuk Devano dan Devandra, "saya dipaksa untuk mengikuti ide mereka."
Devano dan Devandra malah cengengesan. Dimas menarik paksa lengan Devano dan Devandra. "Lo berdua harus jelasin ke gue sekarang!"
Devano dan Devandra hanya pasrah diseret Dimas. Baru kali ini mereka merinding mendengar nada bicara Dimas yang tegas.
***
"Adita itu adik angkat kita."
Dimas menoleh ke arah Devano yang sedang menatap langit. Sekarang, mereka duduk di bangku kayu yang ada di halaman belakang.
"Orang tua Adita saudara jauh Bunda. Pas Adita masih bayi, kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan."
Devano sekilas menoleh ke arah Dimas lalu melanjutkan ucapannya. "Terus Bunda sama Ayah yang ngerawat Adita dari bayi."
"Kok kalian nggak ngasih tau gue sih kalo punya adik?" tanya Dimas kesal.
"Ya lo nggak nanya sama kita, sih," balas Devandra enteng.
Dimas menjitak kepala Devandra. "Ya kan kalian bisa ngasih tau gue! Gue taunya anak Bunda sama Om Alfian cuma kalian berdua."
Dimas kembali menatap langit. Dahinya berkerut bingung. "Tapi, pas gue main ke sini nggak pernah liat Bu Adita?"
"Pas Bunda koma, Adita tinggal sama nenek di Jogja." Dimas mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Devandra.
"Pantes Bu Adita bisa Bahasa Jawa," gumam cowok itu.
Devandra melanjutkan, "Pas Bunda udah bangun dari koma, dia diajak balik ke sini lagi malah nggak mau. Katanya mau jagain nenek."
Devano mengangguk, mengiyakan ucapan Devandra. "Nenek kan baru meninggal beberapa bulan yang lalu, jadi Ayah maksa Adita tinggal bareng kita lagi."
"Ohh."
Devano dan Devandra menatap kesal Dimas.
"Gini nih, alesan kita nggak mau cerita sama lo, Dim!" Devano mengomel. "Udah cerita panjang lebar, dijawab 'ohh' doang!"
Dimas malah cengengesan. "Hehe."
"Kak!"
Mereka menoleh mendengar suara teriakan seseorang dari dalam rumah. Siapa lagi kalau bukan Adita yang memanggil saudara kembar itu dengan panggilan Kak.
"Disuruh masuk sama Bunda!"
Devano dan Devandra sampai menutup telinga mendengar teriakan Adita barusan. Sedangkan Dimas, cowok itu tertawa geli. "Ya ampun, gemesin banget sih calon istri gue."
"Siapa yang lo sebut calon istri, haa?!"
Ups, Dimas lupa kalau ada dua kakak dari cewek itu.
***
"Lo nggak ada niatan pulang, Dim?"
Dimas mengalihkan pandangannya dari Adita yang sedang di dapur ke arah Devandra yang baru saja mengusirnya dengan cara halus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Ficção AdolescenteCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
