Dimas memundurkan kursi. Beranjak berdiri, hendak pergi dari sana. Tapi, kedua sahabat Dimas yang sangat baik itu malah mencekal pergelangan tangannya.
"Mau kemana lo?" Senyum miring tercetak jelas di wajah Devano.
"Ma-mau ke kamar mandi," jawab Dimas terbata.
"Kayaknya tadi habis ke kamar mandi?" Sungguh, Dimas ingin sekali menghajar wajah Devandra yang terlihat menyebalkan itu.
Dimas kembali duduk. Cowok itu tidak berani menatap Adita yang berdiri di samping mejanya. Bahkan menoleh pun, Dimas tidak berani.
"Beneran, Kak? Saya boleh duduk di sini?" tanya Adita.
Devano mengangguk. "Iya, silahkan. Duduk aja."
"Nggak usah takut gitu duduk di samping Dimas. Dimas nggak gigit kok. Cium orang aja dia nggak bakal berani."
Dimas menatap tajam Devandra. Sahabatnya ini benar-benar membuatnya kesal. Adita hanya tersenyum kikuk menanggapinya.
"Dim," Dimas melirik Devano. "Itu temennya diajak ngomong." Ini kenapa Devano seperti sedang menyuruh anak kecil untuk berbicara dengan temannya ya?
Dimas menghela napas berulang kali sebelum menoleh ke kanan, tempat Adita duduk. Cowok itu bertanya, "Bu Adita ke sini sendirian?"
Adita mengangkat sebelah alisnya. Sedangkan Devano dan Devandra, mereka sudah menepuk jidat. Jelas-jelas Adita datang sendiri, ehh, Dimas malah bertanya seperti itu. Lemotnya Dimas kenapa tidak hilang-hilang ya?
Adita mengangguk pelan. "Ya, saya janjian bertemu dengan seseorang."
"Ohh."
Plak!
"Adaww!"
Dimas mengusap kepalanya yang baru saja dipukul Devano. Ia menatap tajam sahabatnya itu. "Sakit nih kepala gue!"
Pfftt
Dimas melirik Adita yang berusaha menahan tawanya. Dimas berteriak di dalam hati. Lucu banget astaga!
Devandra yang melihat Dimas tidak berkedip, mengusap wajah cowok itu dengan kasar. "Kedip, woi, kedip!" Dimas menatap tajam Devandra.
Devano bertanya pada Adita, "temennya Dimas?"
Adita tersenyum lalu menggeleng. "Bukan."
Devandra tertawa, "hahaha, nggak diakuin temen lo, Dim!" Dimas memutar bola mata malas mendengarnya.
"Ehh, maksudnya cuma rekan kerja sesama guru, Kak," ralat Adita.
Devano mengangguk-anggukan kepala. "Kenalin, nama gue Devano," dia menunjuk Devandra, "ini saudara kembar gue, Devandra."
Devandra melambaikan tangan heboh. "Salam kenal, ya!" Adita terkekeh menanggapinya.
Devandra mengerutkan dahinya. "Bentar, lo tadi bilang, rekan sesama guru?" Adita mengangguk. "Gue kira lo masih anak kuliahan."
Adita tersenyum. "Umur saya--"
"Nggak usah formal sama kita. Pake lo-gue aja," ucap Devano. Adita menganggukkan kepala.
"Umur gue emang lagi 21, Kak," jawabnya.
"Loh, kok udah jadi guru?" tanya Devandra. "Harusnya kan lo masih kuliah?"
Adita kembali tersenyum. "Gue dulu SMA kelas akselerasi, makanya sekarang udah jadi guru."
Devandra berdecak kagum. "Wihh, lo pinter ya?"
Adita terkekeh. Ia melirik Dimas yang sedari tadi diam saja. Jemari cowok itu terus mengetuk meja. Adita menatap aneh Dimas.
Cewek itu tidak tahu saja kalau Dimas berusaha menetralkan degup jantungnya yang berdetak sangat kencang.
***
Dari tadi Adita terus tertawa mendengar lelucon receh yang dilontarkan Devandra dan Devano. Sedangkan Dimas, cowok itu masih terdiam.
Dimas masih berusaha menetralkan degup jantungnya. Ia menyentuh dimana letak jantungnya berada. Kenapa dari tadi gue deg-degan terus, sih?
Devano melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. "Ehh, udah jam setengah sembilan. Gue pulang, ya. Kangen Istri sama anak," cowok itu terkekeh.
"Gue juga mau pulang," ucap Devandra sambil mengalungkan tasnya di leher. Devandra menatap Dimas dan Adita bergantian. "Dim, lo anterin Adita sampe rumahnya."
"Nggak usah, Kak. Gue bisa naik taksi nanti," tolak Adita.
Devano menggeleng. "Nggak. Lo cewek dan ini udah malem. Biar dianterin Dimas."
"Gue--"
Ucapan Adita dipotong Dimas. "Saya anterin."
Adita sontak menoleh ke arah Dimas. Terkejut dengan apa yang dikatakan Dimas barusan.
"Ohh, gue kira lo mendadak sakit gigi, Dim, makanya dari tadi nggak ngomong," ledek Devandra. Dimas memutar bola matanya malas.
"Ya udah, kita duluan ya," pamit Devano.
Sebelum pergi, Devandra berbisik di dekat telinga Dimas. "Kalo suka sama cewek tu deketin, jangan cuma perhatiin dia dari jauh."
🌼🌼🌼
Deketin Dim, jangan diem aja
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
30-06-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
TeenfikceCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
