Adita kembali menyampaikan usulannya di depan semua orang. "Acara camping diadakan selama dua hari satu malam. Ketika kelas 10 pulang, kelas 11 berangkat. Begitu pula dengan kelas 12. Kelas 11 pulang, kelas 12 berangkat."
Kedua mata Adita menatap Dimas. "Apa Pak Dimas setuju dengan usulan saya?"
Dimas nampak berpikir sejenak. "Apa panitia acaranya tidak terlalu kecapekan, Bu?"
Salah seorang siswa mengangkat tangannya, hendak memberi usul. "Bagaimana jika per angkatan mempunyai panitianya sendiri? Kita bisa merekrut siswa yang ingin menjadi panitia dari setiap angkatan."
Adita tersenyum. "Saya setuju. Kamu dan yang lain tolong buat pengumuman untuk pendaftaran sebagai panitia." Anggota OSIS mengangguk.
Pak Bowo tersenyum lebar. "Dan ya, sepertinya kita sudah dapat menentukan siapa Ketua Panitia kegiatan untuk memeriahkan ulang tahun sekolah ini. Bu Adita."
Adita melebarkan kedua matanya. Tersenyum kikuk ketika semua orang bertepuk tangan, menyetujui dia sebagai Ketua Panitia kegiatan ini.
Adita tersentak kaget ketika Rita menyenggol bahunya. "Ciee, jadi Ketua Panitia. Siap-siap pusing, Adita," ledeknya.
Bugh!
"Aduh!"
Semua orang menatap ke arah Rita. Cewek itu menatap tajam Adita yang baru saja menginjak kakinya. Untung saja Adita tidak memakai sepatu hak tinggi.
Bisa kalian bayangkan bagaimana kaki Rita sekarang jika Adita memakai sepatu itu.
"Ehh, Bu Rita kenapa?"
Meskipun Adita menampilkan raut wajah khawatir, Rita tahu, sahabatnya itu tersenyum puas.
***
Rapat diakhiri pukul setengah lima sore. Adita berjalan ke arah kasur, menghempaskan tubuhnya di sana. Cewek itu menatap langit-langit kamar.
Tersenyum geli mengingat wajah terkejut Dimas ketika Pak Bowo menanyakan pendapat cowok itu.
Plak!
Adita menepuk cukup kencang pipinya. Ohh astaga, ada apa dengannya?
Ting!
Ponsel Adita berdenting. Menampilkan sebuah pesan dari seseorang yang berisi,
Nanti jam 7 ke kafe 'Rian'
***
Dimas menatap tajam kedua sahabatnya yang tertawa terbahak-bahak. Niat Dimas mengajak mereka kumpul untuk meminta usul bagaimana cara agar Adita tidak kesal lagi dengannya.
Dimas mengalihkan pandangan. Tersentak kaget melihat semua pasang mata pengunjung kafe ini menatap ke arah mereka.
Dimas menendang kaki Devano dan Devandra. "Diem lo berdua! Semua orang liatin kita!" Saudara kembar itu berdehem untuk meredakan tawa.
"Ya lo minta maaf sama dia," saran Devano setelah menyeruput kopinya.
"Ya kan gue nggak tau, gue salah apa?"
"Salah lo banyak, Dim!" Dimas menatap bingung Devandra. "Pertama, lo diem-diem berdiri di deketnya. Kedua, lo ikutan ngintip apa yang dia liat. Ketiga, jarak kalian...sedeket apa?"
Dimas tampak berpikir. "Satu jengkal?"
"What?!" Devandra melotot. "Pantesan dia kesel. Orang dia kalo noleh, hampir nyium pipi lo!"
Pipi Dimas mendadak panas. "Masa?"
"Bodo."
"Gue serius, Ndra!" kesal Dimas.
"Iya! Dia hampir nyium lo!"
Dimas mengangkat tangan kanan, menutupi wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus. Oh astaga, jantungnya kenapa tiba-tiba berdegup kencang begini?
Ting!
Dimas membulatkan kedua mata. Duduknya yang menghadap pintu kafe membuat Dimas dengan jelas mengetahui siapa orang yang baru saja membuka pintu kafe.
Dimas mengangkat tas milik Devandra yang tergeletak di atas meja untuk menutupi wajahnya. Sungguh, Dimas belum siap bertemu Adita.
Devano dan Devandra mengernyit bingung. "Kenapa lo?" tanya Devano.
Dimas sedikit menurunkan tas Devandra, melihat Adita yang sedang memesan. "Yang lagi pesen itu Bu Adita," bisiknya.
Dimas kembali mengangkat tas Devandra ketika Adita membalikkan badan. Senyum jahil terbit di wajah Devano dan Devandra.
Di sisi lain, Adita mengedarkan pandangan mencari kursi yang masih kosong. Cewek itu menghela napas. Semua kursi sudah ter--masih ada!
Tersisa satu kursi kosong di meja yang di tempati tiga orang cowok. Dahi Adita berkerut dalam. Menatap aneh salah satu cowok yang duduk di sana menutup wajahnya dengan tas.
Cowok yang duduk di hadapan cowok aneh itu melambaikan tangan. "Duduk sini aja! Di sini masih ada kursi yang kosong kok."
Dimas melirik seseorang yang baru saja disuruh Devano duduk di sampingnya.
Deg!
Ingin sekali Dimas pergi dari sana sekarang juga.
🌼🌼🌼
Udah mulai masuk part Dimas - Adita nih😌
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
29-06-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
