Adita melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Kepalanya berulang kali menoleh ke kanan dan kiri.
"Ck, Kak Dimas mana, sih?"
Adita menekan tombol hijau pada layar ponsel lalu menempelkannya ke telinga. Berdecak ketika Dimas tidak mengangkat teleponnya lagi.
"Samperin ke rumahnya aja, deh," ucapnya lalu masuk ke dalam mobil.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mobil Adita berhenti di depan rumah keluarga Adi Pranata.
Adita menekan bel rumah. Tak lama, pintu terbuka menampilkan seorang wanita paruh baya yang masih cantik di usianya yang menginjak kepala lima.
"Adita!" Silvia langsung memeluk Adita. "Tante udah kangen banget sama kamu!" Adita terkekeh mendengarnya.
Adita menyerahkan martabak yang sempat dia beli tadi pada Silvia setelah pelukan mereka terlepas. "Adita beliin martabak manis buat Tante."
"Wahh, terima kasih!" Seolah teringat sesuatu, Silvia menepuk pelan jidatnya. "Ehh, iya, kok malah di luar sih. Ayo masuk, Ta!"
Adita mengikuti Silvia masuk. Duduk di sofa setelah Silvia menyuruhnya. "Nyariin Dimas ya?" Sebelum Adita menjawabnya, Silvia sudah berteriak memanggil Dimas.
"Dimas!"
Melihat Adita meringis pelan mendengar teriakannya, Silvia memukul lengan Adita lalu tertawa renyah. "Aduh, maaf ya, Ta. Kamu kaget ya denger suara teriakan Tante?"
"Nggak kok, Tan," nggak salah maksudnya, lanjut Adita dalam hati. Mendengar suara derap langkah, Adita menoleh ke kanan, melihat Dimas yang menuruni tangga.
Dahi Adita berkerut bingung melihat Dimas yang berbalik badan dan berlari menaiki tangga setelah melihatnya.
"Dimas!" Silvia berteriak lagi. "Kamu itu dicariin Adita kok malah balik ke kamar lagi, sih?!"
"Dimas sibuk, Ma!" balas Dimas lalu terdengar suara pintu tertutup dengan keras.
Blam!
"Itu anak kenapa, sih?" Silvia menggerutu. "Bentar ya, Ta," wanita paruh baya itu beranjak berdiri dan berjalan menaiki tangga.
Adita menghela napas pelan. Menyenderkan punggung pada sandaran sofa lalu memejamkan kedua matanya. Hari ini dia benar-benar lelah.
"Mama!"
Suara teriakan itu membuat kedua mata Adita terbuka. Cewek itu tertawa geli melihat Silvia yang berjalan menuruni tangga sambil menjewer telinga Dimas.
"Telinga Dimas sakit, Ma!"
Silvia melepaskan jewerannya. "Kamu itu dicariin Adita malah sibuk main PS di kamar!"
Dimas melirik sekilas Adita yang duduk di sofa. "Kenapa lo dateng ke sini?" tanyanya tanpa menatap lawan bicaranya.
Plak!
"Aduh!" Dimas mengaduh kencang lalu menatap sebal Silvia yang baru saja memukul kepalanya.
"Kamu nanya apa ngajak berantem, ha?" sentak Silvia. Wanita paruh baya itu memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing. "Kan Mama tiba-tiba pusing."
"Salah siapa marah-marah terus?" Dimas nyengir lebar melihat lirikan tajam yang dilempar Mamanya.
"Adita, Tante tinggal ke kamar ya, anggap aja rumah sendiri." Adita mengangguk samar. "Kalau nanggepin ni anak terus," Silvia menunjuk Dimas, "Tante bisa-bisa tambah tua."
"Emang udah tua kali!" Dimas langsung lari ke taman di belakang rumah sebelum Silvia kembali memukulnya.
"Dasar anak kurang ajar!"
Silvia membalikkan badan, menatap Adita. "Sana Ta, susulin Dimas ke taman. Tante ke kamar ya, mau maskeran," pamitnya.
"Ya, Tante," Adita mengangguk lalu menyusul Dimas. Tersenyum melihat Dimas yang sedang bermain basket sendirian. "Kak!" panggilnya.
Dimas melirik Adita sekilas. Cowok itu tidak menjawab dan kembali men-drible bola. Merasa kesal, Adita berjalan menghampiri Dimas.
Tepat saat itu, bola yang Dimas lempar tidak masuk ke dalam ring, tapi malah mengenai tembok yang di belakang ring basket.
Dimas mengikuti arah pantulan bola berwarna oranye itu. Kedua matanya membelalak melihat bola itu mengarah ke Adita. "Adita!"
Bugh!
Adita memejamkan kedua mata, merasakan kepalanya yang berdenyut hebat. Perlahan tubuh Adita ambruk. Dimas langsung menangkap tubuh ramping cewek itu.
"Ta, Adita!" Dimas menepuk pipi Adita berulang kali. "Ta, bangun! Maafin gue, Ta," Dimas benar-benar merasa bersalah.
Dimas menggendong Adita masuk ke dalam rumah. Meletakkan tubuh ramping Adita dengan hati-hati di sofa ruang keluarga.
Kedua tangan Dimas menggenggam tangan Adita erat. "Ta, bangun...Maafin gue," cowok itu menempelkan dahinya di punggung tangan Adita. "Maafin gue, Ta."
"Aw," mendengar suara seseorang yang meringis pelan, Dimas mendongakkan kepala, melihat Adita yang memegang kepalanya.
"Ta, lo udah sadar?"
Adita sedikit membuka matanya, melihat Dimas yang duduk di karpet. "Belum, ini gue belum sadar," balas Adita asal.
"Belum sadar tapi kok udah buka mata?" tanya Dimas lagi.
"Kak!" seru Adita. "Kepala gue masih pusing, jangan lo kasih pertanyaan aneh mulu!"
Cowok itu malah cengengesan. "Iya, maaf."
Melihat Adita beranjak bangun, Dimas membantunya. Dimas mengambilkan segelas air putih dari dapur lalu menyerahkannya ke Adita. "Nih, minum dulu."
Adita mengambil gelas yang diberikan Dimas lalu meminumnya setelah mengucapkan terima kasih. Dimas duduk di samping Adita.
Melihat Adita selesai minum, Dimas mengambil gelas lalu meletakannya ke meja. Dimas duduk menyamping, menghadap Adita. "Masih pusing?" tanyanya.
"Hm," Adita mengangguk samar.
Cewek itu tersentak kaget ketika kedua tangan Dimas memijat kepalanya. "Kata Mama, pijatan gue enak, gimana?"
Melihat Dimas yang tersenyum, Adita ikut tersenyum. "Iya. Udah cocok lo jadi tukang pijet keliling."
"Enak aja!" Adita tertawa mendengarnya.
Dahi Adita berkerut bingung melihat raut wajah Dimas yang berubah datar. Perlahan, cowok itu menurunkan kedua tangannya. Dimas menatap lekat wajah Adita.
"Ta, apa bener lo bentar lagi mau tunangan?"
Dimas bisa melihat dengan jelas rona merah di kedua pipi Adita. "Iya, minggu depan."
Melihat Adita yang tersenyum, Dimas berusaha keras untuk mengangkat kedua sudut bibirnya. "Selamat ya!"
Adita mengangguk. "Lo jangan lupa dateng ya! Awas kalo nggak dateng, gue marah sama lo!"
Tidak mau mengecewakan Adita, Dimas mengangguk. "Iya, gue dateng." Walaupun dia tidak akan sanggup melihat wanita yang dia cintai berdiri di samping laki-laki lain.
🌼🌼🌼
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Fiksi RemajaCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
