Senyum di wajah Dimas mengembang. Ia melirik boneka besar berbentuk katak yang dia letakkan di kursi belakang.
Keponakannya sudah berada di Indonesia satu hari yang lalu. Karena pekerjaan yang menumpuk, dia baru bisa menemuinya hari ini.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, mobil Dimas berhenti di depan rumah keluarga Alfian. Cowok itu turun dari mobil sambil membawa hadiah untuk keponakannya.
Tanpa mengetuk pintu--yang memang sudah terbuka--dan tanpa menunggu seseorang mempersilahkan masuk, Dimas nyelonong masuk sambil mengucapkan salam membuat orang-orang yang ada di dalam rumah tersentak kaget.
Dimas membelalakkan kedua mata melihat Alfian yang berdiri sambil mengangkat laptopnya, Devandra yang bersiap melempar gelas yang sedang dia bawa, dan Devano yang bersiap melempar remote tv ke arahnya.
Dimas mengangkat kedua tangannya sambil cengengesan. "Maaf, maaf."
Ketiga orang itu menurunkan tangan. Setelah itu kembali melanjutkan aktivitas yang mereka lakukan tadi seolah kedatangan Dimas tidak penting.
Dimas mengusap dada. "Untung gue orangnya sabar."
"Loh, ada Dimas?"
Dimas menoleh ke belakang. Tersenyum melihat Dina yang baru masuk ke dalam rumah sambil membawa sekantong plastik besar. Sepertinya wanita paruh baya itu baru pulang dari membeli sayur di depan komplek.
Cowok itu mencium punggung tangan Dina. "Iya, Bun, hehe."
Dina menepuk pundak Dimas satu kali. "Kenapa jarang ke sini? Udah lama banget nggak ke sini. Banyak kerjaan ya?"
Dimas nyengir lebar. Sebenarnya, bukan itu sihh alasannya, tapi--
"Kamu kan yang bikin mobil saya lecet?"
Deg
Dimas menelan ludah susah payah. Cowok itu menoleh dengan gerakan pelan ke arah Alfian yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Dimas nyengir lebar, "nggak sengaja, Om."
Alfian mendengus. "Jangan pikir saya nggak tau ya! Saya sudah liat CCTV yang ada di parkiran sekolah. Ehh, ternyata kamu orangnya."
Tiga bulan yang lalu Alfian datang ke sekolah miliknya, sekedar mengecek. Pria paruh baya itu terkejut melihat mobilnya yang lecet. Setelah melihat CCTV, ternyata itu adalah ulah dari sahabat anaknya.
Dimas menarik tangan Alfian. Menempelkan dahinya ke punggung tangan pria paruh baya itu. "Maaf, maafin Dimas, Om."
Alfian menarik tangannya. "Yayaya, sudah saya maafkan."
Baru saja menghela napas lega, Dimas kembali menelan ludahnya susah payah mendengar ucapan Alfian selanjutnya. "Tapi kamu harus ganti sebesar sepuluh puluh juta."
"Yahh, kok gitu, Om?" protes Dimas. Alfian mengedikkan kedua bahu tidak peduli sambil berjalan menuju sofa lagi.
🌼🌼🌼
Maaf ya, belum bisa rajin update
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
