Membuka kedua mata, Adita terkejut melihat Dimas tidur di ranjang sebelahnya. Ia juga baru sadar kalau tangannya digenggam oleh Dimas.
"Kak, bangun!" Tangan bebas Adita terulur menepuk pelan pipi Dimas berulang kali. Kedua alis Dimas tertaut, menandakan dirinya terganggu.
Dimas perlahan membuka mata. Terkejut melihat Adita di sebelahnya. "Hah? Ngapain lo di kamar gue?!"
Adita mendengus. "Buka mata lo lebar-lebar!"
Dimas mengucek kedua matanya lalu mengedarkan pandangan. Tertawa setelah menyadari dia sedang tidak berada di kamarnya.
"Maaf, emang suka lupa."
Dimas beranjak bangun. Turun dari ranjangnya lalu menghampiri Adita. Tangannya terulur menyentuh kening Adita.
Cewek itu mengernyit melihat Dimas yang senyum-senyum sendiri. "Kenapa lo senyum-senyum sendiri?"
"Obat penurun panas yang gue kasih tadi malam ke elo ternyata manjur juga," Dimas terkekeh geli.
Tentu Adita tau apa yang dimaksud oleh Dimas, tapi dia ingin menanyakan langsung pada cowok itu. "Obat? Perasaan lo nggak kasih obat apa-apa."
"Gue kasih obat penurun panas ya sama lo."
"Apa?"
"Ci--" Dimas meringis. Hampir saja dia keceplosan.
Sebelah alis Adita terangkat. "Ci apa?"
"Ci..." Dimas mulai berpikir. "Emm..."
"Kak?!"
"Ci-cinta. Nahh, iya! Cinta."
Ehh?
***
Jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Sekarang, mereka berkemas-kemas untuk pulang. Dimas mengambil alih barang bawaan Adita, membuat cewek itu menatapnya tajam. "Kak!"
"Apa?" balas Dimas sewot. "Disuruh duduk dan nggak usah ngapa-ngapain aja ngeyel banget!"
Adita mencebikkan bibirnya kesal. "Gue kan mau bantuin juga!"
"No!" Dimas menggeleng. "Duduk!"
"Nggak!"
"Adita!"
"Enggak mau!"
Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah Adita. "Duduk atau gue cium?"
Adita berkacak pinggang. "Emang lo berani?" tantangnya.
"Ya...enggak lah!" balas Dimas membuat Adita tertawa. "Bisa-bisa gue babak belur dipukuli Ayah sama kakak-kakak lo."
Dimas membalikkan badan, hendak melangkah untuk menaruh barang yang dia bawa bersama barang-barang yang lain, tapi niatnya terurung mendengar pertanyaan Adita.
"Kok tadi malem berani cium kening gue?"
Deg!
Dimas benar-benar ingin pergi dari sana sekarang juga, tapi kakinya seperti diberi lem perekat yang sangat kuat hingga membuatnya tidak bisa berjalan.
Jadi, apa yang harus Dimas lakukan?
***
"Ar, bangun!"
Arkan membuka kedua mata. Mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yang ditangkap indra penglihatannya. "Kenapa?"
Awan berdiri sambil menggendong tasnya. "Lo mau nginep di bis?"
"Ya enggak lah!" Arkan baru menyadari bahwa bis sudah berhenti. "Udah sampe?" Awan mengangguk sebagai jawaban.
Arkan menggendong tasnya lalu berdiri. Cowok itu melangkah keluar bis. Sampai di pintu, Arkan berhenti. Samar-samar dia mendengar suara seseorang.
"Gimana? Bisa jalan nggak?"
"Bisa."
"Tuhkan, jatuh. Bentar gue minta tolong orang dulu."
"Nggak usah. Gue bisa, Ka."
"Nggak, Bel. Lo belum bisa jalan."
"Gue--"
"Kenapa?" Bella dan Ika terkejut melihat Arkan yang sudah ada di dekat mereka.
Ika tersenyum lebar. "Ar, lo gendong Bella ya!"
Bella melotot mendengarnya. Tanpa menunggu jawaban dari Arkan, Ika keluar bis sambil menggendong tasnya dan membawa tas Bella.
Setelah Ika pergi, tidak ada yang berbicara diantara mereka berdua. Arkan melirik Bella. Cewek itu berpegangan pada sandaran kursi dan berusaha berdiri.
Bruk!
Bella kembali terduduk. Menunduk dalam sambil memejamkan kedua mata erat, menahan rasa nyeri di kakinya.
"Dasar lemah!"
Bella membuka kedua mata, melihat Arkan yang duduk di sampingnya. Cowok itu memperhatikan kaki Bella. "Udah tau sakit, masih dipaksa. Bego!"
Kedua mata Bella berkaca-kaca. Bukan karena sakit hati karena perkataan tajam Arkan, tapi karena senang. Ya, dia senang. Arkan masih peduli dengannya.
Arkan berdiri, menggendong tasnya di depan lalu berjongkok membelakangi Bella. "Cepet naik! Sebelum gue berubah pikiran."
Bella tersenyum. Ia naik ke punggung Arkan. Melingkarkan tangannya di leher cowok itu. Arkan perlahan berdiri. Mengeratkan gendongan sebelum berjalan.
Sampai di pintu bis, Arkan terdiam sebentar. Memikirkan bagaimana cara mereka turun. Sebuah ide terlintas di kepala Arkan.
"Pegangan yang erat!"
Arkan melompat turun dari bis, membuat Bella terkejut dan reflek mempererat pelukannya pada leher cowok itu.
Bella memukul punggung Arkan cukup kencang setelah turun dari bis. "Gila lo loncat setinggi itu!" Arkan menahan tawanya mendengar Bella mengomel.
Arkan kembali melangkah menuju gerbang sekolah setelah mengeratkan gendongannya. "Dasar penakut, lemah, nyusahin!" cibirnya.
Bukannya sedih, Bella malah tersenyum "Iya, Bella emang penakut, lemah, dan nyusahin. Karena Bella selalu butuh Pangerannya."
Arkan menoleh ke belakang, melihat wajah cantik Bella yang tersenyum lalu kembali menatap lurus ke depan. "Pangeran lo udah mati!" ucapnya tajam.
"Enggak, Pangeran Bella enggak mati!" Bella menggeleng kuat. Ia mengeratkan pelukannya pada leher Arkan.
"Pangeran Bella lagi bersembunyi di tempat yang jauh, jauhhhh banget. Dia sedang menutup telinganya rapat-rapat dari penjelasan semua orang. Dia hanya sedang salah paham."
"Pangeran lo nggak salah paham!" Arkan berucap dingin.
"Emang lo tau dari mana Pangerannya Bella nggak salah paham?" Arkan tidak bisa menjawab.
Bella tersenyum. "Andai...Pangerannya Bella mau meluangkan waktu sebentar aja buat mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Pasti Bella bisa bareng dia lagi."
Bella menaruh dagunya di pundak Arkan. "Pangeran, Bella nunggu Pangeran terus. Kapan Pangeran kembali ke istana?"
Arkan tersenyum mendengarnya.
🌼🌼🌼
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
18-07-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Ficção AdolescenteCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
