"Bu Adita!"
Niat Adita masuk ke mobil Dimas terurung mendengar seseorang yang memanggil namanya. Adita membalikkan badan, terkejut melihat Arkan yang sudah berdiri di dekatnya.
"Arkan?" Sebelah alis Adita terangkat, "Kenapa?"
"Bisa mulai bimbingan belajarnya?" Arkan malah balik bertanya.
Dimas memutar bola mata malas melihat Arkan yang menampilkan wajah sok cool. "Ta, yuk pulang!"
Arkan menatap tajam Dimas. "Bentar. Gue lagi ngomong sama Bu Adita!" Ia kembali menatap Adita. "Sekarang bisa?"
Adita melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Bi--"
"Nggak!" Dimas memotong ucapan Adita. Menatap Adita dengan raut wajah memelas lalu berkata, "Kita kan mau jalan."
"Heh!" seru Arkan yang membuat Dimas dan Adita tersentak. "Lebih penting bimbingan belajar gue kali daripada acara lo."
"Gue dulu yang janjian sama Adita!" Dimas tidak mau kalah.
"Tapi lebih penting bimbingan belajar gue!" Arkan sama saja, tidak mau kalah.
"Udah!" Adita menatap tajam mereka berdua. "Arkan, saya udah janjian jalan sama Kak Dimas." Dimas tersenyum lebar mendengarnya
"Tapi, Bu--"
"Kamu ikut kita."
Senyum Dimas memudar.
***
Mereka sekarang sedang berada di kafe. Adita melirik Dimas yang duduk di sampingnya. Menahan tawa melihat wajah cemberut cowok itu.
"Bu, yang ini gimana?" Adita menoleh ke arah Arkan yang duduk di depannya. Cowok itu bertanya sambil menunjuk soal yang menurutnya susah.
Dimas menoleh ke kiri. Melihat wajah mereka yang terlalu dekat, Dimas menarik kursi Adita ke belakang, membuat cewek itu tersentak kaget.
"Kak!" Adita berseru.
"Apa?" Dimas bertanya santai.
"Jangan ganggu!"
Dimas menatap kesal Adita yang kembali mengajari Arkan. Dimas melirik tangan Adita yang ada di atas meja. Ide jahil muncul di kepalanya.
Dimas menarik tangan Adita ke bawah meja, membuat cewek itu tersentak kaget. "Diem!" Dimas berbisik penuh penekanan tepat ketika Adita menoleh ke arahnya.
Ia menunjuk Arkan dengan dagu, memberi kode pada Adita untuk kembali mengajari Arkan.
Adita menurut. Meskipun dia penasaran dengan apa yang akan Dimas lakukan pada tangannya.
Dimas mengeluarkan pulpen dari dalam tas. Ia mulai menggambar di atas tangan Adita. Merasa geli, Adita menarik tangannya, tapi ditarik lagi oleh Dimas.
Setelah selesai menggambar, Dimas membolak-balikkan tangan Adita, menahan tawa melihat hasil gambarannya.
Dimas memiringkan tubuhnya ke kiri lalu berbisik tepat di dekat telinga Adita. "Gambaran gue bagus, kan?"
Adita sontak melihat tangannya. Membelalak melihat hasil gambar Dimas. "Kak Dimas!" Cowok itu tertawa mendengar Adita berteriak.
Dimas menaik turunkan kedua alisnya, menyebalkan. "Gimana? Bagus, kan?"
"Bagus apaan?!" Adita menatap tajam Dimas. "Lebih bagus gambarnya Aksara daripada lo!"
Adita seperti mau menangis melihat tangannya yang penuh coretan Dimas. Ia beranjak berdiri dan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tangannya.
Sampai di kamar mandi, Adita mencuci tangannya berulang kali. Adita terus menggerutu, coretan Dimas susah dibersihkan walaupun sudah memakai sabun.
"Nyebelin banget tu orang!" Adita memandangi tangannya, "Tangan gue, huhuhu."
Dahi Adita berkerut ketika kedua matanya menangkap sebuah tulisan di antara coretan Dimas. Ia mendekatkan tangannya dan membaca tulisan yang sangat kecil itu.
I love you
***
Mobil Dimas berhenti di depan rumah Arkan. Setelah Dimas mengantarkan Adita sampai rumah, cewek itu menyuruhnya untuk mengantarkan Arkan.
"Arkan!"
Niat Arkan membuka pintu mobil terurung mendengar Dimas memanggil namanya. "Kenapa?" tanya Arkan tanpa menatap lawan bicaranya.
Dimas menghela napas pelan sebelum berkata, "Mama kangen sama lo. Nggak mau ketemu sama Mama?" Dimas melihat Arkan yang memalingkan wajah, menatap keluar jendela.
Kedua tangan Arkan mengepal, menahan sesak di dalam dadanya. "Maaf," ucapnya sangat pelan. Mungkin hanya dia yang mendengarnya.
"Arkan?"
Arkan menoleh ketika suara seseorang yang sangat dia sayang terdengar. Dimas tersenyum tipis sambil menyodorkan ponselnya ke arah Arkan.
"Mama mau ngomong sama lo."
Dengan ragu, Arkan mengambil ponsel Dimas. Arkan keluar mobil untuk mengangkat telepon.
Cowok itu bersandar di pintu mobil yang tertutup. Menghela napas panjang sebelum mendekatkan ponsel ke telinga.
"Ma-Mama." Arkan gagal menyembunyikan suaranya yang bergetar. "I-ini Arkan."
Dada Arkan terasa sesak mendengar suara isak tangis di sebrang telepon. "Arkan nggak kangen sama Mama? Kenapa nggak pernah ke sini, sih?"
Arkan mendongak, mencegah air matanya supaya tidak turun. "Arkan kangen, kangen banget sama Mama."
"Tapi kenapa nggak pernah main?"
"Maafin Arkan, Ma." Arkan menggigit kuat bibir bawah, tidak mau suara isak tangisnya terdengar Silvia.
"Kapan-kapan main ke sini ya? Kalo enggak, Mama marah sama kamu!" Suara Silvia terdengar setelah cukup lama tidak ada yang bersuara.
"Iya, Ma. Ya udah, Arkan tutup teleponnya ya?" pamit Arkan buru-buru. Jujur, dia tidak tega mendengar isakan Silvia. Setelah mengucapkan salam, Arkan memutuskan sambungan telepon.
Tut, tut, tut!
Arkan menyeka kasar air matanya sebelum masuk ke dalam mobil. Tangannya terulur ke arah Dimas, mengembalikan ponsel milik cowok itu. "Makasih," ucapnya.
Dimas tersenyum meremehkan. "Dasar cengeng!"
Arkan menatap tajam Dimas. "Daripada lo, udah tua tapi masih manja!"
"Gue belum tua!" Dimas tidak terima. "Gue masih 25 tahun!"
"Yayaya," Arkan memutar bola mata malas. "Makasih tumpangannya," ucapnya lalu keluar mobil.
"Arkan!"
Arkan menghentikan langkah. Membalikkan badan, menatap bingung Dimas yang sudah keluar mobil. "Kenapa?"
"Lo suka sama Adita?" tanya Dimas langsung.
Sebelah sudut Arkan sedikit terangkat. "Kalo iya, kenapa? Emang lo suka sama dia?"
"Iya, gue cinta sama Adita!" seru Dimas.
Senyum miring terlihat jelas di wajah Arkan. Semakin seru saja permainannya. Arkan mengangguk sekilas, "Oke, kita saingan."
"Hah?" Kedua mata Dimas membelalak. Arkan tersenyum sekilas. Membalikkan badan lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
"Arkan!" Dimas berteriak. "Lo ngalah dong sama kakak sepupu lo!" Tangan Arkan menutup kedua telinga mendengar suara saudara sepupunya yang mengalahkan toa itu.
"Woi, Arkan!"
🌼🌼🌼
Kalian dukung siapa? Dimas apa Arkan?
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Novela JuvenilCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
