Ting!
Adita mengalihkan pandangan dari layar laptop ke arah ponselnya yang tergeletak tak jauh darinya. Ia mengambil ponsel. Dahinya berkerut melihat sebuah pesan dari nomor yang tidak dia simpan.
0877xxxxxxxx
Save
19.44
Siapa?
19.45
Read
Arkan
19.45
Adita mendengus lalu menyimpan nomer Arkan. Kalau Arkan bukan siswa yang akan mengikuti Olimpiade, Adita tidak akan mau menyimpan nomor muridnya yang sangat menyebalkan itu.
Ting!
Adita membuka pesan dari Arkan dengan malas.
Arkan
Kapan mulai bimbingannya?
19.48
Saya sedang sibuk mempersiapkan acara ulang tahun sekolah
19.49
Read
Terus?
19.49
Kamu belajar sendiri dulu
19.50
Read
Gue nggak bisa belajar sendiri
19.51
Adita mencengkram erat ponselnya. Ia menghela napas, "sabar, Adita."
Setelah acara camping, saya mulai membimbing kamu
19.53
Read
Acara sekolah masih 2 bulan lebih
19.54
Adita menggeram. "Gue juga tau!"
Ya selama itu, kamu bisa belajar sendiri dulu
19.55
Read
Tiba-tiba, ponsel Adita berdering. Layar ponselnya menampilkan nama seseorang.
Arkan is calling...
"Kenapa pake nelpon segala, sihh?!" Dengan malas, Adita menggeser tombol hijau pada layar ponsel. "Kenapa?" tanyanya langsung.
"Gue udah bilang kan? Gue nggak bisa belajar sendiri."
"Saya juga sudah bilang, kan? Kalau saya sibuk!"
"Bu Adita."
"Apa?!"
"Sorry." Dahi Adita berkerut. Kenapa Arkan tiba-tiba minta maaf?
"Buat?"
"Beberapa hari yang lalu gue ngebentak lo. Lo bener, gue harusnya berterima kasih, bukannya ngebentak lo."
Adita tersenyum. "Sudah saya maafkan."
Adita mendengar Arkan berdehem pelan. "Jadi, bimbingannya gimana?"
"Saya sekarang benar-benar sibuk mempersiapkan acara ulang tahun sekolah," ucap Adita lebih santai dari yang sebelumnya.
"Tapi saya akan usahakan untuk mengirim beberapa soal latihan. Kamu bisa mengerjakannya sendiri dan jika ada kesulitan, bisa tanya sama saya atau Bu Ana."
"Hm."
Adita mendengus. "Kamu mendengarkan apa yang saya katakan, kan?"
"Iya."
"Setelah selesai mengerjakan soal latihannya, kasih ke saya. Akan saya koreksi."
"Ya."
"Ya sudah, saya sedang sibuk. Selamat malam," ucapnya lalu memutuskan sambungan telepon.
Tut, tut, tut!
***
Adita menghampiri keponakannya yang sedang di pangkuan Vania. "Alvaro!" Ia duduk di samping Vania dan bermain dengan Alvaro.
"Gimana keadaan Ayah Arkan?" Adita menoleh ke arah Vania.
Adita mengedikkan bahu tidak tau. "Nggak tau. Pas Adita tanya ke Arkan, ehh, dia malah bentak Adita."
"Siapa yang berani bentak kamu?" Adita mendongak, melihat Alfian yang berjalan ke arah mereka.
"Itu lho Ayah, anaknya--" Ucapan Adita terpotong ketika mendengar keributan di luar rumah.
"Ngapain lo malem-malem ke sini?"
"Ya emang nggak boleh?"
"Udah malem, sana pulang!"
Alfian berdecak, "itu siapa sih yang ribut sama Devano?"
Adita mengikuti Alfian keluar rumah. Mereka melihat Devano yang berdiri di depan pagar sedang bertengkar dengan seseorang.
"Kak Dimas? Ngapain ke sini?"
Dimas tersenyum. Ia mencium punggung tangan Alfian setelah itu menjawab pertanyaan Adita. "Map lo ketinggalan di mobil gue," ucap Dimas sambil menyodorkan sebuah map.
Adita mengernyit. "Map?"
"Map apa?" Alfian hendak mengambil map yang ada di tangan Adita tapi dicegah Dimas.
"Jangan Om!" Semua menatap bingung Dimas. Cowok itu menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Emm, itu rekap nilai punya Adita yang ketinggalan tadi."
Kerutan di dahi Adita bertambah. Rekap nilai apaan dah? Perasaan gue nggak punya map warna pink gini.
"Iya kan, Ta?" Dimas mengedipkan sebelah matanya, memberi kode Adita untuk menyetujui apa yang dia katakan.
Adita sedikit tersentak melihat Dimas yang mengedipkan sebelah mata lalu tertawa renyah. "Ohh, haha iya. Iya ini rekap nilai Adita yang ketinggalan tadi, Yah," ucapnya pada Alfian yang menatapnya aneh.
"Beneran?"
"I-iya." Adita mengangguk ragu. Maaf Yah, Adita boong
***
Adita menutup pintu kamar. Ia langsung membuka map yang diberikan Dimas. Dahinya berkerut tidak menemukan apapun di dalam map itu.
Tak lama, ponselnya berdering. Melihat nama Dimas di layar ponsel, Adita langsung menggeser tombol hijau pada layar.
"Assalamualaikum."
Adita tersenyum. "Waalaikumsalam."
"Udah di buka mapnya?"
"Hm, udah," Adita mengangguk samar. "Kok nggak ada isinya?"
"Emang nggak ada," suara tawa Dimas terdengar.
Adita mencebikkan bibirnya kesal. "Ya terus kenapa lo jauh-jauh dateng cuma buat kasih map kosong ini ke gue?"
"Buat alesan."
"Alesan apaan?"
"Alesan buat ketemu lo."
"Ha?"
🌼🌼🌼
Paan sih Dim😴
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
14-07-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Novela JuvenilCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
