BAB 5 - Terkejut

563 70 0
                                        

Happy Reading!

🌼🌼🌼

Dimas tersenyum ketika murid-murid yang berlalu lalang menyapanya. "Ehh, lo kapan balik ke Indonesia?"

Orang yang ada di sebrang telepon menjawab pertanyaan Dimas. "Lusa gue balik."

"Berapa hari di sini?"

"Kata Ayah, gue nggak ngurus perusahaan yang ada di Korea lagi. Suruh di Indonesia aja," jawab seseorang itu.

"Alhamdulillah kalo gitu." Dimas teleponan sambil berjalan menuju ruangannya. "Ehh, gimana kabar keponakan gue?"

Dimas menjauhkan ponsel dari telinga ketika seseorang itu berteriak memanggil nama keponakannya.

"Aksara, dicariin Om Dimas nih!"

Dimas tersenyum. Ia sudah sangat merindukan keponakannya. Senyum cowok itu luntur ketika mendengar ucapan keponakannya.

"Aksa nggak mau ngomong sama Om Dimas!"

Terdengar suara tawa yang berderai dari sebrang telepon. "Hahaha, dia nggak mau ngomong sama lo, Dim!"

Dimas menampilkan wajah sedihnya. Keponakannya sendiri tidak mau berbicara dengannya.

Wajah Dimas yang terlihat sedih itu malah membuat beberapa siswi memekik tertahan. Terlihat menggemaskan, menurut mereka.

"Aaa, Pak Dimas lucu!"

"Lucu banget sihh!"

"Pengen cubit pipinya!"

"Pengen liat perutnya yang kek roti sobek--ehh."

"Bisa nggak sih sehari aja nggak ganteng!"

"Ganteng banget!"

Mereka kudu periksa mata – Mint

"Yahh, kok gitu sih, Aksa?" tanya Dimas.

"Lo sih kasih dia hadiah kodok, ya dia marah lah," tawa Devano kembali berderai.

"Ya yang penting gue kasih hadiah," balas Dimas tidak mau disalahkan.

"Lo kan punya duit banyak, ngasih hadiah ponakan mobil juga bisa. Ehh lo malah ngasih hadiah kodok. Mana sampe sini kodoknya udah mati lagi."

"Paling tu kodok mabuk udara. Kan baru pertama kali naik pesawat." Ucapan Dimas yang lumayan keras itu membuat beberapa guru yang berada di ruangan menoleh ke arahnya. Menatapnya aneh.

Devano mendengus. "Dim, lo udah jadi guru napa nggak pinter-pinter, sih?!"

Baru mau menyahuti ucapan Devano, suara teriakan dari sebrang telepon terdengar. "Ayah jangan teleponan sama Om Dimas! Matiin teleponnya! Aksa masih marah sama Om Dimas!"

Devano tertawa. "Tuh denger kan? Siap-siap lo digebukin sama Aksa sama emaknya kalo kita udah di Indonesia."

"Lah kenapa mereka gebukin gue?" bingung Dimas.

Devano tidak menjawab. Bapak satu anak itu langsung mematikan sambungan telepon setelah mengucapkan salam.

Tut, tut, tut!

Dimas mengedikkan bahu. Tidak peduli dengan apa yang Devano katakan. Cowok itu menaruh ponselnya kembali ke saku celana.

Dimas berjalan ke arah dapur kecil di samping ruang guru. Mengambil pisau lalu mengupas apel yang ia bawa dari rumah.

"Dimas."

Dimas tersentak kaget dan,

Sret!

Pisau itu menggores ujung jarinya. Dimas meringis lalu mengibaskan pelan tangannya berusaha mengurangi denyut nyeri.

Dimas tersentak ketika tangannya ditarik oleh seseorang yang memanggil namanya tadi.

Rita meniup-niup ujung jari Dimas seperti seorang anak kecil yang jarinya terluka. "Maaf, aku nggak sengaja," ucapnya merasa bersalah.

Cowok itu segera menarik tangannya. Menatap sekilas kedua mata berwarna coklat terang itu sebelum pergi.

"Maaf..."

Suara lirih dengan nada bergetar begitu jelas itu berhasil membuat Dimas menghentikan langkahnya.

Dimas mengepalkan tangan kanannya. Menghela napas berat sebelum kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Rita yang menangis sesenggukan.

***

Dimas mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Melihat layar ponselnya yang menyala menampilkan nama si penelpon.

Kembarannya Devano is calling...

Mendecak kesal, Dimas segera mengangkat panggilan telepon itu sambil berjalan menuju UKS.

"Paan?"

Terdengar suara tawa dari sebrang telepon. "Biasa aja dong jawabnya!"

"Ngapain nelpon gue?" tanya Dimas lagi.

"Ehh, ponakan gue kayaknya masih marah nih sama lo." Tawa Devandra masih berderai, membuat Dimas mendengus kesal.

Dimas masuk ke ruang UKS. Mencari obat merah di dalam kotak P3K. "Gara-gara lo, ponakan gue jadi marah sama gue!" Tawa Devandra semakin keras.

"Kata lo, Aksa suka sama kodok. Ya udah, gue setuju aja ngasih dia hadiah kodok. Ehh malah dia marah sama gue."

"Kan nggak kodok yang masih idup juga, bego! Kan bisa boneka kodok." Dimas menepuk jidatnya. Iya, ya? Kenapa tidak terpikirkan olehnya?

"Ehh, Ndra," panggilnya.

"Apaan?"

Dimas berjalan menuju sofa. Mengangkat bahu kirinya untuk menahan ponsel tetap menempel di telinganya.

"Kemarin ada guru baru di sini. Cantik banget, sumpah. Senyumnya ya ampunnnn, manis banget!" Dimas senyum-senyum sendiri sambil membayangkan guru baru yang ia maksud.

Siapa lagi kalau bukan Adita.

Cowok itu meneteskan obat merah pada jarinya yang terluka lalu melanjutkan ucapannya, "namanya Adita Putri. Duh, bagus banget kan namanya? Dia masih 21 tahun, bro. Beda empat tahun sama gue. Cocok lah kalau jadi is--"

Ucapan Dimas berhenti ketika melihat kaki seseorang yang berdiri di depannya. Cowok itu mendongak dan,

Brak!

Ponsel Dimas terjatuh. Jantung Dimas seperti mencelos dari tempatnya. Bukan. Bukan karena terkejut melihat ponselnya yang terjatuh dan rusak, tapi karena seseorang itu.

Seseorang itu tersenyum. "Cocok jadi apa, Pak?"

"E-ehh, Bu Adita, hehe."

Yap, seseorang itu adalah Adita. Seseorang yang barusan Dimas bicarakan dengan Devandra. 



















🌼🌼🌼

Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir dan Batin🙏

Maaf ya, Mint baru up sekarang
Hari ini mumpung ada mood buat nulis cerita ini karena jujur, Mint kangen Devandra:)

Heh, ini lapak cerita gue. Harusnya lo kangen sama gue, napa kangennya sama Devandra?! - Dimas
Ciee yang kangen gue - Devandra

Besok kalo ada mood, Mint up lagi

Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊

25-05-2020

Me VS Pak Guru✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang