Dua bulan kemudian
Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi. Dimas sudah berada di rumah Adita. Hari ini mereka akan berangkat camping.
Melihat Adita keluar rumah, Dimas langsung membantu membawa tas cewek itu. Dimas memasukkan tas besar Adita ke dalam bagasi.
Dimas membalikkan badan. Tersenyum melihat wajah memerah Adita. Ia menaikkan tudung hoodie Adita agar cewek itu tidak kedinginan.
Adita mendongak, mengernyit melihat Dimas yang mematung. "Kak?" panggilnya.
Dimas tersadar dari lamunannya. Tersenyum lalu berkata, "Akhirnya gue ketemu lo lagi, cewek hoodie."
Adita tersenyum. "Hai."
Dimas tertawa kecil. "Kok gue nggak nyadar dari dulu kalo cewek itu lo, ya?"
"Lo kan lemot," ledek Adita. Dimas mencubit pipi Adita gemas, membuat cewek itu mengaduh.
"Ekhem!"
Dimas langsung menurunkan kedua tangannya. Melirik Adita yang sedang mengusap kedua pipinya yang memerah lalu tersenyum kikuk ke arah Alfian. "Ehh, Om Alfian."
Alfian berdehem sebelum berkata, "Saya titip Adita sama kamu. Tolong jaga dia selama di sana. Jangan sampai putri saya lecet atau terluka."
Dimas tersenyum lebar, "Siap, Om. Dimas pasti jagain Adita."
Adita memeluk Alfian. "Adita berangkat ya, Yah?"
Alfian mengangguk sambil mengusap rambut Adita. "Iya, hati-hati ya. Jaga diri kamu. Jangan sampe kecapekan, oke?"
Adita mengangkat tangannya dan hormat. "Siap, Bos!"
Dimas mencium punggung tangan Alfian. "Kita berangkat, Om."
Alfian mengangguk, "Hm. Hati-hati bawa mobilnya."
***
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mereka sampai di tempat camping. Dimas menoleh ke kiri, tersenyum geli melihat Adita yang tertidur.
Tangannya terulur, menepuk bahu Adita. "Ta, bangun! Kita udah sampe."
Ingin sekali Dimas mencubit kedua pipi Adita ketika melihat cewek itu mengerjap lucu. Sangat menggemaskan di mata Dimas.
Adita mengucek kedua mata. "Udah sampe?" Dimas mengangguk sebagai jawaban.
Mereka keluar lalu berjalan ke belakang mobil untuk mengambil tas dari dalam bagasi. Adita mengedarkan pandangan, mengernyit tidak melihat rombongannya. "Yang lain belum sampe?"
Dimas menutup pintu bagasi lalu menjawab pertanyaan Adita, "Belum."
Setelah Adita menggendong tas, cewek itu tersentak kaget ketika tiba-tiba Dimas menarik tangannya. "Lo masih ngantuk, nanti lo jatuh. Makannya gue gandeng," ucap Dimas lalu nyengir lebar.
Adita tertawa, "Modus lo!"
***
Kedua sudut bibir tipis Dimas terangkat melihat Adita yang sedang membantu membangun tenda. Melambaikan tangan ketika Adita menangkap keberadaannya.
Dimas melihat Adita beranjak berdiri. Cewek itu berpamitan pada gerombolan murid yang dia bantu membangun tenda lalu berjalan ke arah Dimas.
Setelah sampai, Dimas menyodorkan sebotol air mineral kepada Adita. Cewek itu tersenyum, "Makasih."
Dimas mengangguk. Melepaskan topi yang dia pakai lalu memakaikannya ke kepala Adita. "Ehh?" Cewek itu tersentak kaget.
"Pake topi gue," ucap Dimas, "hari ini panas banget. Nanti lo pusing kalo kepanasan."
Adita menahan tawa. Tangannya terulur mengacak rambut Dimas. "Perhatian banget sihh."
Dimas mundur satu langkah. Menatap kesal Adita sambil merapikan rambutnya. "Ja-jadi berantakan kan rambut gue!"
Sebenarnya, Dimas kesal bukan karena rambutnya jadi berantakan, tapi karena ulah Adita barusan membuat jantungnya berdegup kencang.
🌼🌼🌼
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
أدب المراهقينCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
