BAB 30 - Menabrak

305 47 0
                                        

Brak!

Dimas membelalakkan kedua mata. Astaga, apa yang baru saja dia tabrak?

Turun dari mobil, Dimas menghela napas lega. Ternyata hanya sepeda anak-anak yang dia tabrak. Dimas mengedikkan bahunya tidak peduli.

Kalau misal orang tua anak itu meminta ganti rugi, Dimas akan balik memarahinya. Ingat! Dimas akan memarahinya balik. Salah siapa menaruh sepeda di tengah jalan.

Dimas masuk ke dalam mobil, kembali melanjutkan perjalanan. Cowok itu tidak tahu, ada seorang anak yang memperhatikannya dari tadi.

"Bunda!"

"Kenapa?"

"Sepeda aku!"

***

Dimas mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Setelah itu dia berjalan masuk ke dalam rumah keluarga Alfian. Tumben, biasanya langsung nyelonong masuk aja.

"Pagi semua!"

Alfian, Devano, dan Devandra melirik Dimas sekilas lalu kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing tanpa ada niatan membalas sapaan hangat cowok itu.

Dimas mendengus kesal. Ia menghampiri mereka yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Baru saja duduk, mereka beranjak berdiri dan pergi ke dapur, meninggalkan Dimas sendirian di ruang keluarga.

"Astagfirullah," Dimas mengusap dadanya. "Berasa nggak dianggep gue!"

"Lo di sini emang nggak dianggep, Dim!" balas Devandra dari dapur.

"Sabar, Dim, sabar," ucap Dimas menguatkan diri sendiri. Dimas menoleh ke kiri. Tersenyum melihat Adita berlari menuruni tangga. "Bu A--"

Niatnya memanggil Adita terurung melihat cewek itu berjalan cepat ke arah dapur. Apa Dimas tak terlihat ya sampai Adita tidak mengetahui keberadaannya?

Adita memeluk Alfian. "Pagi Ayah!"

"Pagi Putri Ayah!" balas Alfian setelah mencium puncak kepala anak perempuannya.

Adita duduk di kursi kosong depan Devandra. "Pagi Kakakku yang jelek!" Cewek itu tertawa mendengar dengusan Devandra.

Adita sedikit menggerakkan kepalanya ke kanan. "Pagi Kakakku yang ganteng!"

Devano tersenyum lalu mengacak gemas puncak kepala Adita. "Pagi adik Kak Vano yang paling cantik!"

Devandra menatap tajam Adita. "Lo pilih kasih!"

"Biarin, wle!" Adita menjulurkan lidahnya, mengejek.

"Selamat pagi!" sapa seseorang.

Adita menoleh ke belakang. Terkejut melihat Dimas yang berdiri di dekat tangga. "Loh, Pak Dimas sejak kapan di sini?"

Melihat Dimas tersenyum kecut, tawa ketiga laki-laki yang duduk di kursi meja makan berderai.

"Kamu nggak liat dia tadi duduk sendirian di ruang keluarga?" Adita menggeleng menjawab pertanyaan Alfian.

Pria paruh baya itu menatap Dimas sambil menahan tawanya. "Sabar ya, Dim."

Dimas menganggukkan kepala. "Dimas selalu sabar Om kalau lagi sama keluarga ini."

Raut wajah Alfian, Devano, dan Devandra langsung berubah datar mendengar ucapan Dimas barusan.

Bukannya yang selalu sabar itu mereka ya? Dimas kan yang selalu membuat mereka jengkel.

***

Keluarga Alfian ditambah Dimas sudah berkumpul di meja makan. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh tapi mereka belum mulai sarapan.

Mereka sedang menunggu tiga anggota keluarga yang belum balik dari mini market depan komplek perumahan.

Devano mengetukkan jarinya ke meja makan. Lelaki itu sedang gelisah. "Vania sama anak-anak kenapa belum balik, sih?"

Tak lama, suara tangis seorang anak terdengar. "Papa!"

Mereka langsung beranjak berdiri dan berjalan cepat keluar rumah. Terkejut melihat Diandra yang menangis kencang di gendongan Vania.

Devandra mengambil alih Diandra. "Diandra kenapa nangis?" tanya Devandra sambil menenangkan anak perempuannya.

"Sepedanya Diandra tadi ditabrak orang, Ndra. Nggak tau siapa," jawab Vania. Perasaan Dimas mendadak tidak enak.

"Uncle, itu sepedanya Diandra." Aksara menunjuk sepeda saudara sepupunya. "Rodanya penyok-penyok."

Dimas menggerakkan kepalanya pelan untuk melihat sepeda Diandra. Deg! Jantung Dimas seperti mencelos dari tempatnya. Astaga, itu sepeda yang tadi Dimas tabrak!

Dimas menepuk pundak Adita. "Bu, bisa kita berangkat sekarang?"

Adita mengernyitkan dahi melihat wajah pucat Dimas. "Pak Dimas kenapa? Kok wajahnya pucat?"

"I-itu..." Dimas tergagap.

"Bunda, Bunda!"

Mereka menoleh ke Aksara yang menarik-narik ujung baju yang dipakai Vania. Anak laki-laki itu menunjuk mobil yang terparkir di halaman rumah.

"Itu mobil orang yang nabrak sepeda Diandra!"

"Aksara tadi emang liat mobilnya yang nabrak?" Devano yang bertanya.

"Iya, Yah!" Aksara menganggukkan kepalanya. "Tadi Aksara liat orangnya langsung pergi ninggalin sepeda Diandra gitu aja."

Mereka semua langsung menoleh ke arah Dimas. Wajah cowok itu sudah pucat, takut dengan tatapan tajam mereka.

"Dimas!" Devandra menatap tajam Dimas. "Lo harus ganti sepedanya Diandra!"

Dimas tak berani melawan. Cowok itu menundukkan kepalanya, ketakutan. "Iya, pasti gue ganti."

Sebentar, sebentar. Siapa ya, yang katanya mau memarahi balik orang tua anak yang memiliki sepeda itu jika minta ganti rugi?

Siapa, sih? Ada yang ingat?










🌼🌼🌼

Dimas : Woi, Mint!
Mint A : Astagfirullah, Dim. Nggak usah teriak-teriak gitu. Telinga Mint masih berfungsi dengan baik
Dimas : Napa covernya lo ganti lagi, sih? Kan pembaca cerita gue nanti jadi bingung
Mint A : hehe maap
Dimas : Ehh tapi nggak papa deng. Di cover yang ini gue keliatan lebih ganteng
Mint A : Itu flat face kali Dim, nggak keliatan muka kamu
Dimas : Tetep aja gue keliatan ganteng
Mint A : Y

Oke, maaf sedikit terganggu

Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊

Me VS Pak Guru✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang