Adita menurunkan kaca mobil. Pandangan matanya ke arah kafe yang ada di sebrang jalan. Cewek itu berbicara pada seseorang yang ada di sebrang telepon.
"Saya sudah sampai."
"..."
"Belum. Saya belum melihatnya."
"..."
"Ohh, itu dia."
Cewek itu tersenyum melihat seseorang yang keluar dari pintu samping kafe. Seseorang itu memakai seragam seperti pegawai kafe lainnya. Dia membawa sekantong plastik besar berisi sampah.
"Dia sedang membuang sampah."
"..."
Adita mengangguk menyetujui ucapan seseorang yang ada di sebrang telpon. Tersadar seseorang itu tidak dapat melihat dia mengangguk, Adita berkata, "ya, dia anak yang mandiri."
"..."
"Baik."
Sambungan telepon terputus. Adita memasukkan ponselnya ke dalam tas. Menghidupkan mesin mobil setelah itu pergi dari sana.
***
Ting!
Bunyi khas seseorang yang masuk ke dalam kafe terdengar. Aroma kopi menyeruak. Adita sempat memejamkan kedua mata, menghirup lebih dalam aroma kopi yang membuatnya tenang.
Adita duduk di salah satu kursi setelah memesan cappucino. Adita memainkan ponselnya sambil menunggu pesanannya datang.
Suara derap langkah seorang pegawai kafe yang membawa pesanannya tidak membuat Adita mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
"Silah--" ucapan pegawai itu berhenti. Raut terkejut nampak jelas di wajahnya. Dari samping pun dia tahu, siapa orang yang memesan cappucino itu.
Adita menolehkan kepalanya. Menampilkan ekspresi terkejut. Pura-pura terkejut lebih tepatnya. "Arkan?"
Adita tersenyum. "Kamu kerja di sini?" tanyanya. Padahal Adita jelas tau jawabannya.
Arkan segera menaruh pesanan Adita di meja. Sedikit membungkukkan badan dan berkata, "permisi." Setelah itu pergi dari sana tanpa menjawab pertanyaan Adita.
Adita menghela napas lalu tersenyum. Cewek itu melihat ke luar jendela. Memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya sambil menunggu seseorang yang dia tunggu datang.
Tepat ketika Adita sedang menyesap kopi-nya, ponsel cewek itu berdering. Layar ponselnya menampilkan nama seseorang yang tadi menelpon Adita. Cewek itu segera menggeser tombol hijau pada layar ponsel.
"..."
"Ya, saya sudah menunggu Anda di dalam kafe."
"..."
"Baik."
Tak lama, seseorang menghampiri meja Adita. Menarik kursi lalu duduk di depan cewek itu.
Adita meringis, dia merasa bodoh. Orang yang menelpon tadi tentu tidak akan datang untuk menemuinya langsung seperti apa yang dia pikirkan.
"Aku pikir..."
Seolah tau apa yang dipikirkan Adita, seseorang itu menggeleng. "Nggak lah."
Adita menepuk jidatnya pelan lalu tertawa. "Iya, ya? Bisa-bisa kita ketauan."
Rita, seseorang itu ikut tertawa.
🌼🌼🌼
Semakin penasaran dengan kelanjutan ceritanya? Atau malah semakin membingungkan?
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
