BAB 48 - Jadi?

328 55 0
                                        

Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, keluarga Adi Pranata sampai di sebuah restoran.

Masuk ke dalam restoran, Dimas mengedarkan pandangan. Restoran ini sepi. Pasti keluarga Alfian sudah menyewa restoran mahal ini untuk acara pertunangan Adita.

Dahi Dimas mengernyit bingung, kenapa para tamu belum datang? Ahh, mungkin saja memang belum datang.

"Akhirnya kalian sampe juga." Suara berat Alfian terdengar. Pria paruh baya itu sempat melirik Dimas sekilas. Menggeleng samar melihat penampilan cowok itu.

Riko menjabat tangan Alfian. "Maaf nunggu lama, Dimas tadi malah tidur." Dimas melotot mendengarnya. Papanya terlalu jujur.

Dimas mencium punggung tangan Alfian dan Dina. Lalu kedua matanya menangkap keberadaan Adita yang berdiri di samping Dina.

"Hai," Adita melempar senyum.

"Hai," Dimas membalasnya. Pandangan matanya tidak bisa beralih dari wajah Adita. Cewek itu cantik, benar-benar cantik.

Bolehkah Dimas membawa Adita pergi saja? Ia tidak akan sanggup melihat wanita yang dia cintai akan menjadi milik orang lain.

"Dim?" Dimas terpaksa mengalihkan pandangannya dari wajah Adita. Ternyata Devano dan Devandra yang baru saja memanggilnya. Mereka menatap aneh Dimas.

"Kenapa liatin gue kayak gitu?" tanya Dimas. Kedua sahabatnya malah tertawa.

"Santai banget lo di acara pertunangan Adik gue," ledek Devano. Kalau saja Devano tidak sedang menggendong Alvaro, Dimas akan memukul kepala lelaki itu.

Belum reda kekesalannya, saudara kembar Devano malah ikut-ikutan meledek. Kali ini lebih menyakitkan untuk di dengar. "Lo mau ke acara pertunangan apa mau ngemis sih, Dim?" Mereka berdua memang sahabat yang baik, bukan?

Baru akan membalas ledekan mereka, suara Dina terdengar. "Dimas, Devano, Devandra!" panggil wanita paruh baya itu. "Cepet sini, acaranya mau mulai."

Devano dan Devandra sudah duduk, tapi Dimas masih berdiri dengan raut wajah bingung. Hanya ada satu meja besar di tengah ruangan ini dan di sini hanya ada dua keluarga, keluarga Alfian dan keluarga Adi Pranata.

Kemana semua tamu undangan?

"Dimas!" panggil Silvia berbisik, tapi penuh penekanan. "Cepet duduk!" Dimas mengangguk. Ia duduk di kursi yang masih kosong, tepat di samping Adita.

Dimas mengedarkan pandangan. Semua kursi sudah terisi. Kalau keluarga tunangan Adita datang, mereka akan duduk dimana? Tidak mungkin kan mereka akan duduk di lantai? Dan ya, kalau tamu undangan datang, mereka akan duduk dimana?

Daripada pusing memikirkan itu, mending Dimas bertanya. Dimas memiringkan tubuhnya ke kiri lalu berbisik di dekat telinga Adita.

"Para tamu undangan acara lo mana?" Adita hanya mengedikkan kedua bahunya sebagai jawaban.

Dimas menatap aneh Adita yang senyum-senyum sendiri. Baru akan bertanya, tapi suara deheman Alfian mengagetkannya. "Ekhem, Dimas."

Dimas kembali duduk dengan benar. "I-iya, Om?"

"Cepat pasangkan cincin di jari Adita." Ha? Dimas tidak salah dengar perkataan Alfian barusan kan?

"Ma-maksudnya?" Dimas terbata bukan karena gugup, tapi karena masih terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Alfian.

Alfian tersenyum. "Sebenarnya, ini acara pertunangan kamu sama Adita." Dimas pasti salah dengar. Tidak mungkin ini acara tunangannya sama Adita. Ya, tidak mungkin.

Me VS Pak Guru✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang