Adita mengeratkan jaket yang dia pakai. Suhu udara malam ini benar-benar dingin sampai membuatnya menggigil.
Kalian boleh mengatakan apa yang tadi Rita katakan. Adita bego. Ya, Adita memang bego karena nekat pergi sendiri dalam keadaan sakit.
Tapi, jangan lupakan bahwa dia adalah ketua panitia acara ini. Jadi, dia harus bertanggung jawab.
"Bella!" teriak Adita.
"Bella!"
Cewek itu berhenti berjalan ketika mendengar suara seseorang. Mempertajam indra pendengarannya dan ya, dia tidak salah dengar. Ada seseorang yang meminta tolong.
"Tolong..."
Adita mengarahkan senter pada semak-semak. Ia terkejut melihat uluran tangan seseorang. Adita memberanikan diri untuk mendekat.
"Bella!"
Ya, itu Bella.
Adita membantu Bella untuk duduk. Meringis melihat darah yang mengalir di dahi dan tangan Bella. "Kamu kenapa kok bisa kayak gini?"
Bella meringis menahan sakit. "Jatuh, Bu."
Adita mengarahkan senternya pada kaki Bella. Kembali meringis melihat kaki Bella yang memar. "Bisa berdiri nggak?" Bella mengangguk lemah.
Adita melingkarkan tangan Bella di lehernya. Perlahan, dia berdiri. Hampir terjatuh jika Adita tidak dapat menjaga keseimbangannya.
Adita memapah Bella. Sedikit kesulitan karena dia juga harus mengarahkan senter untuk menerangi jalan.
Setelah cukup lama berjalan, Adita berhenti sambil mengatur napasnya yang memburu. Ia menoleh ke arah Bella, "Masih kuat jalan kan?"
"Iya," Bella mengangguk lemah.
Adita mengangguk. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Baru beberapa langkah, mereka berhenti lagi. Kedua mata mereka melebar melihat ular yang berada di depan mereka.
"Bu..." lirih Bella ketakutan.
"Ssstt," Adita berbisik, "jangan bergerak."
Mereka terdiam. Mulai ketakutan melihat ular itu mendekat. Mereka berjalan mundur perlahan. Berusaha tidak membuat suara sedikit pun.
Ular itu semakin mendekat dan...
"Bu Adita!"
***
Perasaan Dimas mendadak tidak enak. Dimas berhenti berjalan, membuat Pak Bowo mengernyit bingung. "Kenapa, Pak?"
"Sebaiknya kita kembali ke tenda, Pak," ucap Dimas. "Siapa tau, Bella sudah kembali." Pak Bowo mengangguk mengiyakan.
Mereka kembali ke tenda. Dimas semakin khawatir melihat Rita yang berjalan mondar-mandir. "Adita mana?" tanyanya.
Rita menggigit ujung kukunya. "I-itu..."
"Itu apa?! Jawab yang bener!" seru Dimas.
"Adita nekat nyari Bella sendirian."
Deg!
"Kenapa Adita bisa kabur, ha?!" Dimas mengepalkan kedua tangannya, berusaha menahan emosi. "Jaga gitu aja lo nggak bisa!"
Rita menunduk. "Maaf."
"Pak Dimas sabar," Pak Bowo berusaha menenangkan.
"Sekarang jadi dua orang kan yang hilang!" Dimas menghela napas kasar lalu mengacak rambutnya frustasi. "Sekarang kita cari mereka!"
Dimas berhenti ketika Arkan menghalangi jalannya. "Gue ikut!"
Dimas menatap tajam Arkan. "Nggak usah! Nanti lo malah ikut ilang!"
Arkan menggeleng. "Nggak! Gue nggak bakal ilang."
"Ng-"
Arkan menempelkan kedua telapak tangannya, memohon. "Please, gue ikut."
***
"Adita!"
"Bella!"
"Bu Adita!"
"Bella!"
Dimas mengacak rambutnya frustasi. Sudah satu jam mereka mencari, tapi Adita dan Bella belum ditemukan.
Cowok itu menyeka air yang keluar dari sudut matanya. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri. Dimas merasa, dia tidak bisa menjaga Adita dengan baik.
Ta, lo dimana?
Dimas tersentak ketika Pak Bowo menepuk bahunya. "Pak Dimas tenang. Kita pasti nemuin mereka." Dimas menganggukkan kepala
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Berhenti ketika tiba-tiba Arkan menghentikan langkah. Ya, Dimas memperbolehkan Arkan untuk ikut.
"Kenapa berhenti?" Dimas bertanya.
Arkan menoleh ke arah Dimas. "Ada suara orang yang minta tolong."
Mereka mempertajam indra pendengaran. Yang dikatakan Arkan benar, ada seseorang yang berteriak minta tolong.
"Kita ke sana!" Arkan menunjuk ke asal suara. Mereka langsung berlari mengikuti Arkan.
Setelah sampai, mereka terkejut melihat Bella duduk di samping Adita yang tidak sadarkan diri.
"Adita!" Dimas merengkuh tubuh Adita. Menepuk pelan pipi cewek itu berulang kali. "Ta, bangun!"
Dimas mendongak ke arah Bella yang terisak. "Adita kenapa?"
"Kaki Bu Adita kepatok ular, Pak," jawab Bella.
Jantung Dimas seperti mencelos dari tempatnya. Cowok itu langsung menggendong Adita. "Kalian tolong bantu Bella, biar saya bawa Adita ke tenda," ucapnya sebelum pergi.
Dimas berlari menuju tenda. Menunduk sekilas melihat wajah pucat Adita. Setetes air matanya turun. Ia benar-benar takut kehilangan Adira.
Please, Ta. Jangan tinggalin gue
🌼🌼🌼
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
17-07-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Dla nastolatkówCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
