Dahi Arkan berkerut dalam. Ia mengedarkan pandangan. Kenapa sekolahan sudah sepi?
Arkan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul setengah lima. "Pantes, udah jamnya pulang."
Ketika berjalan menuju kelasnya untuk mengambil tas, Arkan mendengar sesuatu dari dalam lapangan basket indoor.
Arkan berhenti di depan pintu. Mempertajam indra pendengarannya sebelum memutuskan masuk ke dalam.
Arkan menyipitkan kedua mata, berusaha mengenali seseorang yang berdiri membelakanginya sambil men-drible bola berwarna oranye itu.
"Udah ditolongin, bukannya makasih, ehh, malah bentak!" Orang itu menggerutu.
Sepertinya, Arkan kenal dengan seseorang yang memakai kaos oversize berwarna abu-abu muda dan celana olahraga itu.
Arkan langsung berlari ke arah pintu, bersembunyi di sana sebelum Adita mengetahui keberadaannya. Ya, orang itu adalah Adita, guru Matematika-nya.
Arkan memiringkan tubuhnya. Ia melihat Adita yang melompat dan yak! Bola masuk ke dalam ring.
"Gilak, three point!" Arkan berdecak kagum.
Melihat Adita yang berhenti men-drible bola, Arkan kembali bersembunyi. Jantungnya berdetak melebihi ritme. Bukan karena jatuh hati, tapi karena takut ketahuan.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Arkan langsung lari. Pasti Arkan berpikir orang itu Adita, padahal bukan.
"Lah, tu anak ngapain tiba-tiba lari?" heran Dimas.
Niat Dimas menutup pintu lapangan basket indoor terurung melihat Adita yang ada di sana. Kedua sudut bibir tipis Dimas terangkat.
"Loh, ada Bu Adita?"
Adita menoleh ke kanan, tersenyum melihat Dimas yang berjalan ke arahnya. "Ehh iya, Pak."
"Bu Adita ngapain di sini?" Seperti biasa, Dimas menanyakan hal-hal yang sudah dia ketahui jawabannya.
"Main masak-masak," Adita menjawab asal.
Dimas mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ohh."
Bugh!
Kesal, Adita melemparkan bola basket dan tepat mengenai perut Dimas. "Udah tau main basket masih aja nanya!"
"Aduh!" Dimas mengusap perutnya sambil tertawa. "Maaf, Bu."
Adita akan mengambil bola basket, tapi dia kalah cepat dengan Dimas. Cowok itu men-drible bola basket lalu melakukan shooting.
"Yahh!" Dimas berdecak.
Adita tertawa melihat bola yang dilemparkan Dimas tidak masuk ke dalam ring. "Masa gitu aja nggak bisa, Pak," ucapnya meremehkan.
Dimas menoleh, menatap kesal Adita yang sedang mengambil bola berwarna oranye itu. "Emang Bu Adita bisa?"
Adita hanya tersenyum. Tidak mau menyombongkan diri kalau dia dulu pemain terbaik di tim basket SMA-nya.
"Kita one on one. Gimana?" tantang Dimas. Sungguh? Dimas menantang Adita bermain basket satu lawan satu?
Adita mengangkat sebelah alisnya. "Yakin?"
"Iyalah," balas Dimas.
"Saya nggak mau nanti Pak Dimas nangis karena kalah dari saya lho," ledek Adita.
"Enak aja!" Dimas melototkan kedua mata, membuat Adita tertawa. Bukannya menyeramkan, Dimas malah terlihat lucu. "Nanti kalo saya menang, Ibu salto ya!"
Bugh!
Adita melempar bola dan tepat mengenai kepala Dimas. "Saya nggak bisa, Pak!"
Dimas mengaduh lalu tertawa. "Ya udah deh, traktir saya bakso di depan sekolahan aja."
"Kalo saya yang menang..." Adita nampak berpikir.
"Saya gendong sepuluh kali putaran lapangan basket."
Adita menatap terkejut Dimas. "Beneran?"
Dimas mengangguk yakin. "Iya, karena saya yakin, Bu Adita nggak bisa ngalahin saya," ucapnya percaya diri.
"Dih," Adita mencebikkan bibirnya. "Oke, kalo saya menang, Pak Dimas gendong saya sepuluh kali putaran lapangan basket ya. Awas kalo tiba-tiba amnesia!"
Dimas tertawa, "Iya, Bu Adita."
Menurut kalian, siapa yang akan menang?
🌼🌼🌼
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
3-07-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
