Jam menunjukkan pukul dua pagi. Dimas memejamkan kedua matanya erat, berusaha untuk tidur. Sudah berbagai cara dia lakukan agar bisa tidur.
Mulai dari memiringkan tubuhnya ke kiri, ke kanan, tidur terlentang sampai tengkurap sudah dia lakukan. Tapi, dia sama sekali belum mengantuk.
Apakah ada yang pernah mengalami hal yang sama seperti Dimas?
Dimas membuka kedua matanya. Beranjak bangun dan mengacak rambutnya frustasi. "Gue pengen tidur!" teriaknya.
Ceklek!
Dimas terkejut melihat pintu kamar terbuka menampilkan sosok perempuan yang memakai pakaian serba putih. "Hantu!"
Bugh!
Dimas melempar bantal ke arah perempuan itu lalu bersembunyi di balik selimut. Cowok itu memejamkan kedua mata erat sambil berdoa.
"Heh, dasar anak kurang ajar!" teriak perempuan itu. "Ini Mama kamu yang paling cantik!"
"Mama?" Dimas sedikit membuka selimut, melihat perempuan itu menyentuh wajah putihnya.
Silvia menatap tajam Dimas. "Masker Mama jadi pecah kan gara-gara teriak!"
"Ya kenapa Mama ngagetin Dimas pake baju putih gitu?" gerutu Dimas. "Dan kenapa malem-malem make tepung? Di pakein ke muka lagi. Kan harusnya dibuat kue. Mama mubazir tau!"
Mamanya tidak terima. "Heh Dimas, ini bukan tepung ya! Ini masker!" Silvia berdecak kesal. "Harusnya Mama yang marahin kamu! Kenapa malem-malem teriak, ha?!"
Mama kalo marah lebih serem daripada hantu
Silvia melotot. "Durhaka kamu ya ngatain Mama lebih serem daripada hantu!"
Dimas tersentak kaget. "Haa? Kapan?"
"Nggak usah pura-pura!" Mamanya berkacak pinggang. "Mama tau ya, Dimas Adi Pranata!"
Dimas meneguk ludahnya susah payah. Serem juga nih emak gue
Niat Silvia menghampiri putra tunggalnya dan memukul menggunakan bantal terurung mendengar teriakan sang suami. "Sayang!"
Silvia menghela napas sebelum berteriak. "Iya, Papa sayang!" Dimas sampai menutup kedua telinga mendengar teriakan Mamanya.
Wanita paruh baya itu menatap tajam Dimas lalu berkata, "Cepet tidur! Kalo kamu teriak lagi, Mama kirim kamu ke hutan!"
Blam!
Dimas menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat sambil menggeleng tak percaya. "Emak gue serem amat yak?"
Dimas beranjak berdiri, mengambil bantal yang tadi dia lemparkan ke arah Mamanya. Menepuk-nepuk bantalnya yang terkena masker Silvia. Dimas menunjuk-nunjuk bantal itu sambil membayangkan wajah seseorang.
"Mama kalo teriak-teriak lagi, Dimas kirim ke hutan ya!" ucapnya menirukan sang Mama. Dengan suara pelan tentunya. Takut beneran dikirim ke hutan.
Dimas duduk di tepi kasur. Mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Cowok itu terdiam. Sepertinya ada yang dia lupakan, tapi apa?
Ohh iya!
Dimas langsung mencari nama kontak seseorang. Kedua matanya berbinar mengetahui seseorang itu masih online. Jarinya mulai bergerak mengetikkan pesan.
Calon Istri
Assalamualaikum Bu Adita
02.16
Read
Dimas tersenyum lebar. "Ehh, langsung di read."
Dimas langsung menyentuh tombol home. Tidak ingin ketauan kalau dia sedang menunggu balasan dari Adita.
Ting!
Setelah dua menit, Dimas baru membuka pesan dari Adita. Padahal dari tadi dia sangat penasaran apa balasan dari cewek itu.
Calon Istri
Waalaikumsalam Pak
02.17
Dimas senyum-senyum sendiri. Ohh astaga, dia kenapa?
Ting!
Dimas tersadar dari lamunannya. Ia membaca pesan yang barusan Adita kirim.
Ada apa Pak?
02.20
Saya kangen
Delete
Bu Adita lagi apa?
Delete
"Gue ngetik apaan sihh?!" gerutunya. "Ngetik balesan yang bener, Dim!"
Boleh saya telpon?
02.22
Read
Dimas melotot. Melemparkan ponsel ke sembarang arah lalu melompat ke kasur. "Bego! Gue mau ngehapus malah ke kirim, huaa!"
Ting!
Dimas mengedarkan pandangan. Menghela napas lega melihat ponsel yang tadi dia lempar ternyata mendarat di sofa. Dimas mengambil ponselnya.
Boleh
02.22
Dimas mengerjapkan kedua matanya. Tak percaya membaca balasan pesan dari Adita. Ia tersenyum lebar. Menyentuh tombol telepon lalu menempelkan ponsel ke telinga.
"Assalamualaikum." Suara Adita terdengar merdu ketika sambungan telepon tersambung.
Dimas tersenyum. "Waalaikumsalam."
"Ada apa, Pak?" tanya Adita langsung.
"Besok anak-anak mau naik motor, Bu." Dimas merebahkan tubuhnya di sofa. Lengan kirinya dia gunakan sebagai bantal.
Dimas menatap langit-langit kamar lalu melanjutkan ucapannya, "saya kemarin lupa kasih tau Bu Adita."
"Kemarin?" Adita sepertinya bingung.
"Iya, kemarin. Sekarang kan udah hari Sabtu."
"Astaga!" Dari nada suara Adita, sepertinya cewek itu baru sadar sekarang sudah berganti hari.
"Bu Adita kenapa?" Dimas mengernyit bingung.
"Emm...saya nggak sadar kalau sekarang sudah jam dua pagi, Pak."
Dimas tertawa pelan. "Pantesan masih online."
Terdengar suara kekehan Adita. "Iya, baru aja ngirim berkas ke sekretaris saya."
Alis Dimas tertaut. "Sekretaris?"
🌼🌼🌼
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
7-07-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
