Mobil Dimas berhenti di depan rumah keluarga Alfian. Dimas menoleh ke arah Adita. "Hai, Ta."
"Yo."
Dimas tertawa, "Kenapa malah nyanyi lagu kartun kesukaan Diandra sama Aksara, sih?"
Adita memalingkan wajah ke kiri, tidak mau Dimas melihatnya menahan tawa. Sebuah usapan pada puncak kepalanya membuat Adita tersentak.
Ia menoleh ke arah Dimas. "Udah ketawa aja. Pake nahan tawa gitu," ledek cowok itu.
"Paan sih?!" Adita menepis tangan Dimas. "Gue masih kesel, ya!" ucapnya berbohong. Iya, berbohong. Adita tidak merasa kesal sama sekali pada Dimas. Hanya ingin mengerjai cowok itu saja.
"Besok gue ganti deh botol minum lo," ucap Dimas.
"Emang lo pikir gue nggak bisa gitu beli botol minum lagi?" Adita mengibaskan rambutnya ke belakang, bergaya sombong. "Jangankan botol minumnya, Adita Alfian Putri juga bisa beli pabriknya kali!"
Dimas menoyor dahi Adita. "Sombong amat!"
Adita mengusap dahinya. "Ihh, kasar. Gue aduin ke Ayah lo!"
Sebelum Dimas berteriak 'jangan' pada Adita, sebuah sorotan lampu mengenai wajah mereka berdua. Mereka menoleh, melihat seseorang yang berdiri di depan mobil sambil membawa senter.
Gawat! Om Alfian
"Nah pas, ada Ayah." Adita menatap jahil Dimas. "Gue aduin ahh ke Ayah kalo Kak Dimas noyor kepala putri kesayangannya."
Dimas menggeleng kuat. "Ja--"
Bhum!
Terlambat. Adita sudah keluar dari mobil. Dimas segera menyusul Adita yang sekarang sedang memeluk Alfian.
"Kok baru pulang? Kenapa?" tanya Alfian.
"Tadi ngajarin murid yang mau ikut lomba, Yah," jawab Adita.
Dimas mencium punggung tangan Alfian. "Assalamualaikum, Om."
"Waalaikumsalam."
"Yah, Ayah!"
Alfian menoleh ke arah putrinya. "Kenapa?"
"Kak Dimas..." Adita melirik Dimas. Menahan tawa melihat wajah ketakutan cowok itu.
Alfian mengikuti arah pandangan Adita. Melihat Dimas yang menggeleng kuat, membuat Alfian mengernyit bingung. "Kamu kenapa geleng-geleng gitu?"
"Haa?" Dimas tersentak. "Ohh, ini Dimas kurang olahraga, Om," ucapnya sambil menggerakkan kepala ke kanan dan kiri.
Adita kembali melanjutkan ucapannya, "Kak Dimas tadi--"
"Ngajak Adita jalan besok malem minggu, Om," potong Dimas cepat. Kedua matanya melebar menyadari apa yang dia katakan barusan.
Alfian menoleh ke kanan, dahinya berkerut melihat wajah terkejut Adita. Dimas berdehem. Menggaruk tengkuk lehernya lalu bertanya, "emm, boleh, Om?"
Alfian tidak menjawab. Pria paruh baya itu berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan mereka dengan senyum di wajahnya.
***
Ceklek!
Alfian tersenyum melihat Adita yang sudah tidur terlelap. Pria paruh baya itu hendak menutup pintu, tapi terurung mendengar ponsel Adita yang berdenting, menandakan sebuah pesan masuk.
Alfian masuk ke dalam kamar putrinya. Mengambil ponsel Adita, penasaran dengan siapa yang mengirimkan pesan pada putrinya malam-malam begini.
Kak Dimas
Adita?
23.54
Alfian mendengus pelan, ternyata Dimas. Baru saja Alfian akan menaruh ponsel Adita ke nakas samping tempat tidur, ponsel anak perempuannya berdering.
Kak Dimas is calling...
Sebelah alis Alfian terangkat. "Ni anak kenapa nelpon malem-malem?"
Ibu jari Alfian menggeser tombol hijau pada layar ponsel Adita. Menempelkan ponsel ke telinga, lalu terdengar suara Dimas. "Assalamualaikum."
Alfian akan menjawab, tapi Dimas malah kembali berbicara.
"Ta, Ayah lo marah nggak? Gue tadi cuma asal ngomong aja. Ya ampun, Ta, gue nggak bisa tidur mikirin itu. Lo tau sendiri kan kalo Ayah lo marah kek gimana? Kayak singa yang nggak makan satu tahun, tau nggak?"
Alfian mencengkram erat ponsel Adita. Anak kurang ajar!
"Ta? Kok lo dari tadi diem aja, sih?"
"Adita udah tidur."
***
"Adita udah tidur."
Brak!
Saking terkejutnya mendengar suara Alfian, Dimas sampai menjatuhkan ponsel yang baru dia beli beberapa hari yang lalu.
"Dimas bego!" Dimas menepuk pelan bibirnya. "Mana gue ngatain kek singa lagi!"
Dimas mengambil ponselnya. Untung saja tidak pecah. Dimas kembali menempelkan ponsel ke telinga, "ehh, Om Alfian."
"Hm."
Dimas berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, "Om, maafin Dimas ya. Dimas cuma bercanda doang kok."
"Hm."
"Hm?"
"Sudah saya maafkan."
Dimas menghela napas lega. Alfian sudah memaafkannya, ya meskipun terdengar tidak ikhlas. "Soal ajakan Dimas jalan tadi sore--"
Sebelum Dimas selesai berbicara, Alfian memotongnya. "Jangan pulang kemaleman. Jam sembilan udah harus sampe rumah."
"Haa? Maksudnya?"
"Saya izinin."
🌼🌼🌼
Cieee diizinin sama Alfian
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
15-07-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
JugendliteraturCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
