"Aksara, Diandra, lepasin kaki Om Dimas ya?" Kedua ponakan Dimas itu menggeleng kuat.
Dimas menghela napas. Dua ponakannya itu masih setia memeluk kakinya. Bahkan ketika tadi berjalan sampai ke taman pun, mereka tidak mau melepaskannya.
Saat melihat Dimas yang berjalan kesulitan, bukannya membantu melepaskan anak mereka dari kaki Dimas, ehh, Devano dan Devandra malah sama sekali tidak peduli.
Mereka sok-sokan flashback masa-masa SMA. Huh, untung sahabat ya.
Dimas menoleh. Melihat Devano dan Devandra yang duduk di bawah pohon, sedang asyik main game online di ponsel mereka.
Melihat mereka, ingin sekali rasanya Dimas mengumpat kalau tidak menyadari kehadiran dua anak kecil yang masih setia memeluk kakinya.
Dimas kembali menatap kedua keponakannya. "Kenapa dari tadi nggak mau lepas dari kaki Om Dimas, sih?" tanyanya sedikit kesal-ehh, sangat kesal.
Tadi kedua anak kecil itu memang menggemaskan, tapi sekarang menyebalkan.
Aksara dan Diandra mendongak menatap Dimas. Anak sulung Devano itu semakin mempererat pelukannya pada kaki Dimas. "Maafin Aksara ya, Om."
Diandra mengangguk. "Iya, Om. Maafin Aksara ya?"
Dimas mengerutkan dahinya, bingung. Ya, jelas bingung. Kemarin-kemarin kan yang minta maaf dia, kenapa sekarang dua keponakannya yang meminta maaf?
Anak sulung Devano kembali menggerakkan bibir mungilnya untuk berbicara. "Tadi malem kan Aksara mimpi dikejar-kejar badut. Bukan cuma satu, tapi sepuluh badut!" Anak laki-laki itu menunjukkan kelima jarinya.
Dimas memutar bola matanya malas. "Itu lima, Aksara."
"Kan tangan Aksara yang satunya meluk kaki Om Dimas. Kalo Aksara ngangkat tangan Aksara semua, nanti Aksara jatuh, terus nangis, terus--"
"Stop!" Dimas mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan anak laki-laki itu untuk berhenti mengoceh.
Dimas menghela napas. Sifat Aksara sama seperti Vania, sama-sama banyak bicara. "Lanjut ceritanya, Aksara!"
"Kemarin kan Aksara nggak mau maafin Om Dimas. Nah, karena Aksara ganteng, anak yang pintar, rajin menabung, nggak pelit, dan anak yang baik hati, makanya Aksara yang minta maaf."
Kenapa Aksara yang masih kecil sudah pintar menyombongkan diri ya?
Aksara menatap Dimas dengan tatapan memohon. "Maafin Aksara ya Om, supaya Aksara nggak mimpi badut lagi."
Dahi Dimas berkerut. "Lah, apa hubungannya Om Dimas sama badut di mimpi kamu?"
Aksara menjawab dengan enteng dan santainya, "muka badut di mimpi Aksara itu nyeremin, kayak Om Dimas."
What?
Apa Dimas tidak salah dengar?
Anak kecil itu bilang Dimas menyeramkan?
Tolong tahan Dimas untuk tidak mengibaskan kakinya supaya Aksara tidak terjungkal ke belakang ya.
"Maafin Aksara ya, Om?" ulang anak laki-laki itu.
Dimas menghela napas sabar. "Iya, Om maafin."
Aksara berdiri, otomatis pelukannya pada kaki Dimas terlepas. Anak laki-laki itu melompat-lompat saking senangnya.
Dimas tertawa geli melihat keponakannya itu. Dimas menunduk, mengangkat sebelah alisnya heran melihat Diandra yang dari tadi diam dan masih memeluk kakinya.
Dimas yang duduk di bangku taman sedikit membungkukkan badan. Cowok itu tertawa sambil menggelengkan kepalanya heran.
Bisa-bisanya anak Devandra itu tidur terlelap dengan posisi masih seperti tadi--berjongkok sambil memeluk kakinya.
🌼🌼🌼
Untuk part berikutnya, Mint belum tau bisa update kapan karena mau nyelesain dulu cerita ini di laptop. Doain ya semoga cerita ini cepat lengkap di laptop biar Mint bisa rutin update. Maaf buat kalian nunggu🙏
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
16-06-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
