BAB 15 - Melindungi

359 59 0
                                        

Ika meringis. Cengkraman Alan pada lengannya sangat kuat. "Paa, tangan Ika sakit," lirihnya.

Alan menghentikan langkah. Menghempaskan lengan Ika kasar sampai cewek itu hampir terjatuh. "Apa sekali saja kamu nggak bisa membanggakan kami?!"

Ika bersyukur, suasana koridor sedang sepi. Ia tidak mau semua orang menatapnya kasihan. "Maaf."

Reni mencengkram erat lengan kiri Ika. "Sekali lagi kamu membuat malu, kami cabut semua fasilitas yang sudah kami berikan!" sentaknya tepat di depan wajah Ika.

Reni menghempaskan lengan Ika. "Dasar anak nggak tau berterima kasih!"

Alan menggandeng tangan Reni. "Yuk Ma, kita pergi!"

Ika segera menyusul kedua orang tuanya. "Ma, Pa, Ika ikut mobil Papa sama Mama, ya? Ika nggak mau pulang naik angkot lagi."

Ika memohon. "Boleh ya, Pa, Ma?"

Langkah Alan dan Reni berhenti. Alan menatap tajam Ika. "Nggak! Saya nggak mau mobil saya kotor gara-gara sepatu buluk kamu!"

Ika menunduk, melihat sepatunya yang kotor gara-gara tadi pagi dia terkena cipratan air hujan. Cewek itu tersenyum, "Ika bisa lepas sepatunya kok, Pa."

"Nggak ya, nggak!"

Ika memejamkan kedua mata, terkejut mendengar Alan membentak tepat di wajahnya. Meskipun dada Ika terasa begitu sesak, air matanya mendesak keluar, cewek itu tetap tersenyum.

"Ya udah, Ika naik angkot aja."

Ika menatap kedua orang tuanya. "Nanti Mama sama Papa pulang jam berapa? Biar Ika masakin."

"Kami mau pergi ke London selama dua minggu," jawab Reni dingin.

Kedua mata Ika berbinar. "London? Ma, Pa, Ika boleh ikut ya? Ika kan di skors dua minggu. Sekalian Ika liburan."

"Nggak!" tolak Alan. "Kamu hanya akan menyusahkan di sana!"

Ika menggeleng. "Nggak kok, Pa."

"Sekali nggak, ya nggak, Ika!" bentak Alan.

Senyum di wajah Ika luntur. "Pasti Kak Karin nanti diajak. Nanti Ika sendirian di rumah, Pa, Ma."

Senyum miring tercetak di wajah Reni. "Ya iyalah. Karin itu anak yang membanggakan. Nggak kayak kamu yang bisanya malu-maluin kami!"

Ika mengepalkan kedua tangannya. "Mama!" Tak sadar dia berteriak.

"Aku udah lakuin apa aja supaya aku bisa membanggakan kalian. Tapi, kalian aja nggak pernah perhatiin aku! Aku ini anak kalian juga!"

Plak!

Satu tamparan keras mengenai pipi Ika, membuat cewek itu jatuh terduduk. Alan mendekat. Tangan kanan yang tadi dia gunakan untuk menampar Ika, sekarang mencengkram erat pipi cewek itu.

"Apa kamu sudah lupa? Apa saya harus mengingatkan pada kamu kalau kamu itu bukan anak kami?" Alan membentak Ika tepat di wajahnya.

Tangannya semakin mempererat cengkraman pada pipi Ika. "Saya dan Istri saya menyesal sudah mengangkat kamu sebagai anak kami!"

Setetes air turun dari mata Ika. Sudah berulang kali dia mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Papa angkatnya, tapi tetap saja hatinya selalu merasa sakit.

Alan melepaskan cengkramannya pada pipi Ika. Tangan pria paruh baya itu terangkat, hendak menampar lagi Ika sebelum dia pergi dari sana.

Ika memejamkan kedua matanya ketakutan. Dalam hati dia memanggil nama seseorang yang selalu ada untuk melindunginya, dulu. Dan sekarang dia harap seseorang itu dapat melindunginya lagi.

Bella tolongin Ika...

Cukup lama Ika memejamkan kedua matanya, tapi tangan Alan belum mendarat di pipinya. Ika membuka kedua mata, melihat seseorang yang mencekal kuat pergelangan tangan Alan.

Amarah yang begitu besar membuat Bella dapat mencengkram pergelangan Alan hingga pria paruh baya itu meringis kesakitan.

Ya, Bella datang melindungi Ika.

"Jangan sakiti kembaran saya lagi!" desisnya.

Bella menghempaskan tangan Alan. "Kalau memang kalian mengangkat Ika hanya untuk menyakitinya, lebih baik tidak usah!"

Kedua tangan Bella mengepal kuat. "Biarkan dia kembali bersama saya ke panti asuhan!"

Ika menggeleng. "Nggak! Gue nggak mau balik ke panti asuhan!"

Kedua mata Bella menatap tajam Ika. "Lo sama mereka nggak bahagia, Ka! Lo di sana cuma dijadiin babu! Disuruh-suruh sama anak mereka yang nggak bisa jalan itu!"

"Jaga ucapan kamu!" bentak Alan.

"Yang harusnya menjaga ucapan adalah Anda, Pak Alan!"

Mereka menoleh ke arah Adita yang berdiri tak jauh dari sana. Mulut Adita sudah gatal sejak tadi ingin bicara tapi dibekap oleh Rita.

Alan menatap tajam Adita. "Jangan ikut campur urusan saya atau kamu akan dalam masalah besar!"

"Ohh ya?" Senyum miring terbit di wajah Adita. "Saya yang akan dalam masalah besar atau malah Anda yang akan dalam masalah besar, Pak Alan Aprizal?"

"Sebaiknya, Anda tidak berurusan dengan Bu Adita, Pak Alan," Rita yang berdiri di samping Adita memperingati.

Alan mengerutkan dahinya. "Memangnya, siapa dia?!"

Senyum miring masih menghiasi wajah Adita. "Sebentar lagi, Anda akan tahu."

Tak lama, terdengar suara ponsel yang berdering. Alan mengambil ponsel dari dalam saku jas. Pria paruh baya itu mengangkat teleponnya. "Halo."

Adita dapat melihat jelas raut ketakutan pada wajah Alan. Hal itu membuatnya tersenyum penuh kemenangan.

Rita menyenggol bahu Adita. "Senyum mulu dari tadi. Napa lo?"

Adita menoleh ke arah Rita lalu berbisik, "Seneng aja liat muka orang sombong ketakutan."

Alan menatap Adita sebentar lalu menarik tangan Reni pergi dari sana. "Ayo, Ma!"

"Pa, kenapa? Siapa yang telpon? Kenapa Papa ketakutan liat dia?" tanya istrinya.

Samar-samar, mereka bisa mendengar jawaban Alan. "Dia Adita Putri. Orang yang menanamkan modal terbesar di perusahaan Papa."















🌼🌼🌼

Mint suka part ini😍

Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara

27-06-2020

Me VS Pak Guru✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang