"Ta, lo kayak bukan foto sama tunangan lo, deh. Tapi kayak lagi foto sama pengemis."
Dimas menatap tajam Devandra yang barusan mengomentari fotonya dan Adita tadi malam saat acara pertunangan.
"Sekali lagi lo ngomong, gue sumpel mulut lo pake sepatu!" Bukannya takut mendengar ancaman Dimas, Devandra malah terbahak.
"Emang lo berani?" tantang Devandra.
Dimas tidak bisa membalas Devandra. Ia pasti selalu kalah kalau berdebat dengan sahabatnya itu apalagi dengan kembarannya.
Maka dari itu dia menoleh ke arah Adita yang sedang di dapur, meminta bantuan pada tunangannya. "Adita," rengeknya.
Adita menghentikan acara makannya. Ia menatap tajam Devandra. "Kak, sekali lagi lo ledek Kak Dimas, gue taruh semua boneka gue ke kamar lo!"
Ternyata, Dimas meminta bantuan pada seseorang yang tepat. Terbukti sekarang dia melihat Devandra yang berdecak kesal. "Iya, iya," lelaki itu menatap tajam Dimas yang tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar tukang ngadu!" cibir Devandra sebelum pergi, meninggalkan Dimas duduk sendirian di ruang keluarga.
Dimas mengedikkan bahunya tidak peduli. Ia beranjak berdiri, pergi ke dapur menghampiri tunangannya. Menarik kursi di samping Adita lalu duduk.
Dimas menopang dagu, memperhatikan Adita yang asyik makan. Merasa risih, Adita menoleh. Menutup wajah Dimas menggunakan sebelah tangannya. "Kalo orang lagi makan tuh, jangan diliatin kayak gitu."
Dimas menjauhkan tangan Adita dari wajah lalu menggenggam tangan cewek itu. "Abis kamu gemesin, sih."
"Dih, sejak kapan aku-kamu?" cibir Adita.
Dimas mencebikkan bibirnya kesal. "Masa udah tunangan masih lo-gue, sih?"
"Iya, iya," tangan Adita terulur mengacak rambut Dimas. Ia mencoba menarik tangan kirinya yang masih di genggam Dimas. "Kak, aku mau makan."
Dimas menggeleng dan malah semakin mengeratkan genggamannya. "Tangan yang ini," Dimas mengangkat tangan Adita yang dia genggam, "daripada nganggur mending aku genggam."
Bukannya baper, Adita malah bergidik. "Geli banget denger kamu sok-sokan romantis gini."
"Iya juga, ya?" Dimas tertawa geli. "Lanjutin makannya gih," suruh Dimas.
"Kamu juga mau makan nggak?" Adita bertanya.
"Mau, tapi disuapin."
"Manja!"
***
"Ta, kalo cuma mau makan siang, kenapa jauh-jauh ke bandara, sih?"
Dimas benar-benar bingung. Kalau cuma mau makan kan bisa di kafe Rian yang pasti mereka akan makan gratis di sana atau tidak mereka bisa makan di warung pinggir jalan, tapi Adita malah mengajaknya makan di restoran yang ada di bandara. Seperti tidak ada restoran lain saja, pikir Dimas.
"Kita mau ketemu seseorang, Kak," Adita yang sebelumnya mengedarkan pandangan mencari seseorang sekarang menatap Dimas.
"Siapa?"
Baru akan menjawab pertanyaan Dimas, seseorang menarik kursi di depan Adita. "Sorry, gue telat."
Dimas terkejut melihat orang itu. Apa seseorang yang dimaksud Adita adalah Rita? Tapi, buat apa mereka bertemu Rita? Ketemunya di bandara pula.
"Kebiasaan banget ya, lo!" Suara Adita menyadarkan Dimas dari lamunan. "Bilang aja bangunnya kesiangan."
"Bawel lo!" balas Rita. "Iya, gue bangun kesiangan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
