Arkan tersenyum melihat beberapa anak yang berlarian di halaman panti asuhan tempatnya dibesarkan. Cowok itu menoleh ketika merasakan sebuah usapan pada pundaknya.
"Ayo masuk, mereka udah kangen main sama kamu," ucap Laras yang diangguki Arkan.
Arkan berhenti melangkah melihat seorang cewek yang berlari mengejar anak-anak. Tersenyum tipis melihat raut wajah kesal cewek itu.
"Siapa yang coret-coret wajah kakak?"
"Bukan kita kak!" teriak salah satu anak. "Tapi kak Ika!"
"Hei, kok Kakak yang kalian salahin?!" protes Ika.
"Ikaaaaa!" Arkan menutup kedua telinga mendengar suara teriakan Bella. "Dasar saudara kembar ku--" umpatan Bella terhenti ketika dia menangkap keberadaan Arkan.
"A-Arkan?"
Arkan menurunkan kedua tangannya. Senyum di wajah tampan cowok itu terukir. Arkan berjalan menghampiri Bella dan berhenti tepat di depan cewek itu.
Menatap lekat wajah cantik Bella lalu berkata, "Hai, Tuan Putri Bella, Pangeran kembali."
***
Arkan yang sebelumnya menatap langit menolehkan kepala ke kiri, ke arah Bella yang duduk di sampingnya. "Kok gue nggak liat Aditya?"
Melihat senyum di wajah Bella perlahan memudar, Arkan mengernyit bingung. "Bel?" Arkan menyentuh pundak Bella, membuat cewek itu tersadar dari lamunan. "Lo kenapa?"
"Ikut gue, yuk!"
"Kemana?" Bella tidak menjawab, dia langsung menarik tangan Arkan.
Setelah cukup lama berjalan, mereka sampai di tempat pemakaman yang tak jauh dari panti asuhan.
"Bel, kenapa kita ke sini?"
Bella tersenyum tipis sambil terus berjalan. "Lo nyariin Aditya, kan?" Kerutan di dahi Arkan muncul, tidak mengerti maksud Bella.
"Iya, tapi--"
Melihat Bella menghentikan langkah, Arkan ikut berhenti. Arkan menatap bingung Bella lalu menunduk, melihat gundukan tanah yang ditumbuhi rumput hijau.
Jantung Arkan seperti mencelos dari tempatnya melihat nama yang terukir di nisan.
Aditya
Arkan menoleh ke arah Bella dengan kedua mata berkaca-kaca. "A-Aditya?" Melihat Bella mengangguk, Arkan menggeleng tak percaya. "Nggak, lo bohong kan?"
"Ngapain gue bohong, Ar?" Bella mulai terisak. "Waktu itu gue mau bilang kalau gue lagi nungguin Aditya operasi, tapi lo malah salah paham sama gue."
***
Arkan berulang kali menghubungi nomor Bella. Ia benar-benar membutuhkan Bella berada di sampingnya sekarang.
Arkan mengusap kasar air matanya dengan punggung tangan. Apa yang dia liat beberapa jam yang lalu sungguh membuatnya sakit hati.
Bagaimana bisa Ibu angkatnya pergi bersama pria lain di saat Ayahnya membutuhkan dia di sisinya sekarang?
Arkan tersenyum ketika sambungan telepon Bella tersambung. "Bella, kamu dimana, Bel?"
"Ar, maaf," ucap Bella. "Aku sekarang lagi nungguin Aditya--"
Ucapan Bella terpotong mendengar Arkan tertawa renyah. "Hahaha, Aditya? Kamu lebih milih nemenin Aditya daripada aku, Bel?"
"Ar--"
"Udahlah, Bel, aku nggak mau denger apa-apa lagi. Kita putus."
"Nggak Ar--"
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Ficção AdolescenteCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
