Adita menatap Bella dan Ika yang duduk di depannya. Mereka sekarang duduk di bangku taman yang berada di belakang perpustakaan.
Bella dan Ika sama-sama diam. Adita berusaha kuat untuk tidak tertawa. Mereka berdua benar-benar lucu. Ingin berbicara panjang lebar, tapi terlalu enggan untuk memulainya terlebih dulu.
Mereka mendongak, melihat Adita yang tertawa. Sungguh, dia tidak bisa menahan tawanya lagi. "Ohh ayolah, kalian kenapa diem-dieman terus sih?" tanyanya.
Adita meredakan tawanya. Cewek itu beranjak berdiri, "ya udah deh, Ibu pergi aja. Kayaknya kalian bakalan lama. Habis dari tadi diem-dieman terus."
Adita berjalan menjauh dari mereka. Tidak. Adita tidak akan pergi dari sana. Hanya bersembunyi saja. Rasa penasarannya yang tinggi membuat Adita ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Bella."
"Ika."
Mereka saling pandang sebelum tawa mereka berderai. Adita tersenyum melihat saudara kembar itu.
"Kebiasaan lo nggak pernah berubah," ledek Bella.
"Elo yang selalu ngikutin gue!" Ika tidak mau kalah.
Bella memutar bola matanya malas. "Iyadeh, yang waras ngalah."
Ika menoyor kepala Bella, "Ehh, enak aja lo!"
"Ka," panggil Bella setelah hening cukup lama menyelimuti mereka berdua. "Balik ke panti lagi, ya?"
Ika menunduk dalam. "Tapi, gue nggak mau kehilangan fasilitas dari mereka."
"Gue nggak mau liat lo diperlakukan nggak baik sama mereka, Ka!" Bella menoleh ke arah Ika. Melihat saudara kembarnya itu menahan isak tangisnya.
"Gue tau, lo selama ini fitnah gue rebut pacar lo karena lo nggak punya alasan lain selain itu supaya gue benci sama lo, kan?"
Bella menyentuh pundak Ika yang bergetar. "Kalo lo pikir itu bakal berhasil, lo salah Ka. Gue nggak akan bisa benci saudara kembar gue sendiri. Bahkan buat gue jauh dan nggak peduli sama elo lagi pun nggak bisa, Ka."
Bella menghela napas. "Lo selama dua tahun di sana nggak pernah ngerasa bahagia, kan? Meskipun lo nggak pernah cerita lagi sama gue, gue tau lo selalu ngerasa sedih, Ka."
Bella menyeka setetes air yang turun dari kedua matanya lalu tertawa renyah. Cewek itu memeluk Ika dari samping. "Udah ya nangisnya. Bella nggak bawa permen buat Ika nih."
Ika memukul pelan lengan Ika. "Gue nggak nangis!" Bella tertawa kecil.
"Bel?" panggil Ika.
"Hm?" Bella melepaskan pelukannya.
"Gue mau balik ke panti."
Kedua mata Bella berbinar. "Serius?"
"Iya."
"Huaaa, makasih Ikaa!" Bella memeluk gemas saudara kembarnya.
"Lebay deh!"
Adita yang melihat itu tersenyum. "Kan gue nangis." Adita menyeka air matanya. "Kayak liat drama secara live gue."
"Sama, Bu. Saya juga terharu."
Adita tersentak kaget mendengar suara itu tepat di dekat telinganya. Cewek itu menoleh. Kedua matanya melebar. Hampir saja dia mencium pipi orang yang berdiri di sampingnya itu.
Reflek, Adita mendorong wajah seseorang itu menjauh. Adita mendengus kesal. "Hihhh, Pak Dimas bisa nggak sih nggak deket-deket mukanya?!"
Dimas menggaruk tengkuk lehernya. "Ehh, maaf, Bu."
Adita menatap kesal Dimas sebelum pergi dari sana. Dimas menggaruk dahinya bingung melihat Adita pergi dengan wajah yang memerah. Entah karena kesal atau...malu?
"Ya kan gue nggak sengaja. Emang tadi deket banget apa?"
***
Jam menunjukkan pukul setengah empat sore. Biasanya, para guru akan segera berkemas untuk pulang seperti siswa-siswinya. Tapi tidak dengan hari ini.
Para guru mengadakan rapat untuk membahas acara ulang tahun sekolah tiga bulan lagi bersama anggota OSIS. Masih lama memang, tapi disiapkan jauh-jauh hari tidak apa kan?
Dimas sesekali melirik Adita yang duduk di depannya. Hanya berbatas meja. Cowok itu masih merasa bersalah tentang kejadian tadi pagi.
Tadi Dimas mengembalikan beberapa buku yang beberapa hari lalu dia pinjam. Ketika akan kembali ke ruangannya, dia melihat Adita sedang mengintip sesuatu.
Rasa penasarannya begitu tinggi. Makanya Dimas menghampiri Adita diam-diam. Berdiri di samping guru Matematika baru itu.
Deg!
Pandangan mata Dimas bertemu dengan Adita. Dimas tersenyum. Melihat Adita yang mengalihkan pandangan, membuat senyum Dimas perlahan luntur.
Meskipun tidak terlihat jelas di wajah cantik Adita, Dimas tau, kalau Adita masih kesal dengannya.
"Pak Dimas?"
Tidak ada sahutan.
"Pak Dimas?"
Masih tidak ada sahutan dari Dimas.
"Pak Dimas?!"
Dimas tersentak kaget. "Ya?"
Semua orang tertawa melihat ekspresi terkejut cowok itu. Dimas melihat Adita yang menutup mulut dengan sebelah tangan, menahan tawa.
"Kenapa dari tadi Anda melamun?" tanya Pak Bowo.
Dimas menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal. "Maaf, Pak."
Pak Bowo menghela napas sabar. "Apa Pak Dimas setuju dengan saran dari Bu Adita atau Anda punya saran lain untuk kegiatan yang diadakan?"
Dimas melebarkan kedua matanya. Astaga, tadi dia melamun jadi tidak tau apa-apa. Apa yang akan dia jawab? Saran dari Adita saja dia tidak tahu.
Adita berdehem sebelum berbicara. "Sepertinya, saya harus mengulangi usulan saya karena masih ada yang tidak mendengarkan. Ya kan, Pak Dimas?"
Apa ada yang mau memberi Dimas sebuah topi untuk menutupi wajah memerahnya sekarang?
Sungguh, Dimas benar-benar malu!
🌼🌼🌼
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
