BAB 41 - Sebuah Pelukan

316 57 10
                                        

Thanks for 1k readers🙏

🌼🌼🌼

Dimas membawa Adita ke tenda UKS. Membaringkan cewek itu di ranjang yang ada di sana. Dimas mengedarkan pandangan. Berdecak tidak melihat satu pun dokter di sana.

Beberapa guru menghampiri untuk mengetahui bagaimana keadaan Adita. "Bagaimana keadaan Bu Adita?"

Bukannya mendapat jawaban, mereka malah mendapat amukan dari Dimas. "Dokter-dokter itu kemana? Kenapa tidak ada satu pun yang ada di sini?!"

"Mereka sudah pulang," Bu Ana yang menjawab.

"Bagaimana bisa mereka pulang duluan padahal mereka masih diperlukan?!" ucap Dimas dengan nada suara yang tinggi.

"Besok sudah pulang, jadi mereka pikir mereka tidak diperlukan lagi." Sekarang Rita yang menjawab.

Dimas mengepalkan kedua tangan. "Suruh mereka balik ke sini, sekarang!" ucapnya penuh penekanan.

"Tapi--"

"Cepat!" seru Dimas memotong ucapan Rita yang akan memberi tahu sesuatu.

"Kak..." Dimas tersentak ketika seseorang menyentuh tangannya. Ia membalikkan badan, melihat Adita yang perlahan membuka kedua mata.

"Adita!"

Dimas langsung memeluk Adita erat, membuat cewek itu terkejut. Dimas memejamkan kedua mata erat lalu berbisik tepat di dekat telinga Adita, "Jangan kek gini lagi. Gue takut kehilangan lo."

Rita yang melihat itu tersenyum. "Sebaiknya, kita keluar." Mereka keluar, meninggalkan Adita dan Dimas di dalam sana.

Adita memukul punggung Dimas. "Kak...gue nggak bisa napas!"

Dimas mengendurkan pelukannya. Ia menatap wajah Adita lekat. "Jangan buat khawatir gue lagi."

Adita tersenyum, "Iya, maaf." Mengedarkan pandangan lalu bertanya, "Bella dimana?"

"Udah dibantu sama yang lain," jawab Dimas. Adita menganggukkan kepala.

Dahi Dimas berkerut bingung, "Ta, kata Bella lo kepatok uler. Kok masih sadar?"

Adita mendengus. "Ya udah, gue pingsan lagi aja," ucapnya lalu memejamkan kedua mata.

"Ehh jangan!" seru Dimas.

Adita yang mendengarnya tertawa lemah. "Gue nggak kepatok ular, Kak. Orang sebelum itu gue udah pingsan duluan."

"Tapi kok Bella bilang kayak gitu?"

Adita tertawa geli melihat raut wajah penasaran Dimas. "Kan gelap, mungkin Bella ngira gue kepatok ular."

"Terus lo pingsan karena apa? Karena kecapekan, hm?" Adita malah cengengesan.

Dimas tersenyum. Tangannya terulur mengusap pipi cewek itu. "Jangan buat gue ketakutan kayak tadi lagi, ya."

Adita tersenyum lalu mengangguk. "Iya, maaf ya."

"Permisi."

Mereka menoleh, melihat Rita yang membawa baskom dan handuk kecil. "Nih, buat ngompres."

Dimas mengambilnya dari tangan Rita. "Makasih," ucap Dimas tanpa menatap lawan bicaranya.

Rita mengangguk. "Sama-sama. Gue keluar dulu," pamitnya.

"Emm, tunggu." Rita menghentikan langkah, mengernyit bingung menatap Dimas. "Maaf, saya tadi membentak kalian. Tolong sampaikan maaf saya pada yang lain," ucap cowok itu.

Rita tersenyum. "Kita ngerti kok, kalo lo khawatir banget sama Adita," ucapnya lalu menatap Adita. Rita seolah berkata 'bener kan apa kata gue tadi' melalui tatapannya.

Adita melotot, seolah bilang 'diem lo!'

Dimas mengernyit bingung melihat Rita yang tiba-tiba tertawa. Rita berusaha meredakan tawanya, "Ya udah. Gue keluar dulu," pamitnya.

Dimas membalikkan badan, menatap Adita. "Gue kompres ya?" Adita mengangguk.

Dimas mencelupkan handuk kecil ke dalam baskom berisi air. Menempelkannya ke dahi Adita setelah meremas handuk kecil itu.

Dimas menarik kursi dan duduk di samping ranjang Adita. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Adita. "Tidur gih."

Adita mengangguk samar lalu memejamkan kedua matanya. Dimas tersenyum. Tangannya terus mengusap puncak kepala Adita.

Dimas menguap lebar. Ia melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam.

Dimas mengambil handuk di dahi Adita yang sudah mengering dan menaruhnya di nakas dekat baskom. Dimas berdiri, menaikkan selimut Adita.

Cowok itu tersenyum. Tangannya mengusap pipi Adita. Wajahnya begitu tenang ketika tidur. Dimas membungkukkan badan. Mendekatkan wajahnya dengan wajah Adita dan,

Cup

Dimas memejamkan kedua mata ketika bibirnya mendarat di kening Adita. Untuk pertama kalinya, Dimas mencium seorang cewek selain Mamanya.

Ia sedikit menjauhkan wajah. Tersenyum menatap wajah Adita. "Obat supaya lo cepet sembuh," bisik Dimas lalu terkekeh pelan.

Tanpa Dimas sadari, sebenarnya Adita belum tidur.

***

Arkan berjalan menjauh dari tenda UKS. Niatnya untuk menjenguk Adita gagal setelah melihat Dimas yang mencium Adita. Entah mengapa, dadanya terasa begitu sesak sekarang.

Arkan berhenti melangkah ketika seseorang memanggil namanya. Ia menatap tak suka Bella yang berjalan tertatih menghampirinya. "Kenapa?"

Cahaya yang minim membuat Arkan tak bisa melihat Bella yang mengangkat kedua sudut bibirnya. "Makasih, lo masih peduli sama gue."

Arkan menggeleng. "Gue nggak peduli sama lo, tapi sama Bu Adita!"

Bella menghela napas. "Ar, gue mohon. Hentiin permainan konyol lo sama temen-temen lo itu."

Dahi Arkan berkerut bingung. "Permainan apa?"

"Gue tau semuanya, Ar," Bella menjeda sebentar lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Bu Adita orang yang baik, dia nggak seharusnya jadi bahan taruhan kalian."




🌼🌼🌼

Satu kata buat Arkan?

Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊

Me VS Pak Guru✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang