Sepeda Dimas berhenti di depan rumah keluarga Alfian. Iya, Dimas ke rumah Adita naik sepeda. Cowok itu berteriak memanggil Adita seperti seorang anak kecil yang menghampiri temannya untuk bermain.
"Adita!"
"Aditaaa!"
"Adita, jalan-jalan yuk!"
"Woi, jangan teriak-teriak!"
Dimas mendongak, melihat Devano berdiri di balkon. Cahaya lampu balkon yang cukup membuat Dimas bisa melihat tatapan tajam Devano ke arahnya.
"Alvaro lagi tidur!" lanjut Devano.
Bukannya menuruti perintah Devano, Dimas malah berteriak lagi. "Adita mana?"
"Gue bilang nggak usah teriak-teriak, bego!" Devano melepaskan sandal yang dia pakai lalu melemparkannya ke arah Dimas.
Sandal Devano bukannya tepat mengenai kepala Dimas tapi malah mendarat di keranjang sepeda cowok itu. "Ye, nggak kena!" ledek Dimas.
Cowok yang memakai topi berwarna krem itu mengambil sandal Devano dan melemparkannya sampai ke rumah tetangga.
Pyar!
Yap, tepat mengenai kaca jendela rumah itu. Devano melotot. Gawat! Ia pasti dimarahi oleh Pak Joko, pemilik rumah yang terkenal galak itu.
Dimas terbahak. "Rasain lo!"
Devano menggeram. "Dimas!"
Tepat ketika Devano masuk, Adita keluar rumah. Cewek itu tersentak kaget ketika Dimas langsung menyuruhnya naik sepeda.
"Cepetan naik!"
"Ha?"
"Cepet, Ta!"
Setelah Adita naik, Dimas mengayuh sepedanya cepat, keluar dari pekarangan rumah Alfian. Saking cepatnya, Adita reflek melingkarkan kedua tangannya di perut cowok itu.
"Woi, Dim!" Dimas menoleh ke belakang sekilas, terbahak melihat Devano yang berlari mengejar mereka.
"Awas lo, Dim!"
***
Dimas memperlambat laju sepeda. Meredakan tawanya sambil mengatur deru napas yang memburu.
Ia menunduk, jantungnya berdegup kencang menyadari kedua tangan Adita yang melingkar di perutnya. "A-Adita?"
Adita langsung menarik kedua tangannya. "Maaf," ucapnya pelan yang dibalas deheman Dimas.
Bugh!
Adita tiba-tiba memukul punggung Dimas, membuat cowok itu mengaduh kencang. "Aduh, kenapa sih, Ta?!"
"Lo kenapa kenceng banget sih bawa sepedanya?!" omel cewek itu.
"Gue takut dimarahin kakak lo."
Dahi Adita berkerut bingung. "Marah?"
Dimas mengangguk samar. "Tadi gue lempar sandalnya Devano kena kaca rumahnya Pak Joko."
"Parah lo kak!" Adita tertawa, "kasihan kak Vano."
Adita melihat punggung Dimas yang bergetar, menandakan cowok itu tertawa. "Biarin. Lagian kakak lo duluan yang mulai."
"Emm, kak!" Dimas sedikit menoleh ke belakang lalu berdehem. "Lo pernah marahan sama Kak Vano sama Kak Devan nggak?"
Dimas mengangguk samar, "Pernah."
"Sampe berantem?" Adita memiringkan kepala, membuatnya dapat melihat sudut kiri bibir cowok itu terangkat. Adita yakin, Dimas sedang tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Roman pour AdolescentsCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
