Adita berhenti. Berjalan mundur dua langkah dan berdiri tepat di samping mading. Kedua sudut bibir cewek itu terangkat ketika membaca salah satu kertas yang berisi pengumuman di sana.
Olimpiade Matematika Tingkat SMA dan Sederajat
Adita melanjutkan langkahnya. Tujuannya sekarang bukan ke kantin, tapi ke perpustakaan meminta selembar kertas pengumuman tadi.
Siapa tahu Adita bisa menawarkan kepada murid-muridnya ketika dia mengajar. Karena sangat jarang kan murid yang mau membaca mading?
***
"Sudah ada yang mau ikut memangnya, Bu?" tanya Bu Wulan yang dijawab gelengan Adita.
"Belum sih, Bu. Hadiahnya kan lima juta, semoga anak-anak ada yang tertarik ikut Olimpiade ini. Dan lombanya masih empat bulan lagi, jadi anak-anak bisa mempersiapkannya," jelas Adita panjang lebar.
"Saya juga akan menempel pengumumannya di depan perpus, Bu," ucap Bu Wulan.
Adita tersenyum. "Wah, terima kasih, Bu. Kalau begitu, saya permisi," pamitnya.
Keluar dari perpustakaan, tiba-tiba lengan Adita ditarik paksa seseorang. Terkejut, Adita memutar pergelangan tangannya. Sekarang dia mencengkram kuat pergelangan orang itu.
Adita menarik tangan orang itu hingga merangkul di lehernya. Sedikit membungkukkan badan lalu membanting tubuh orang itu ke lantai.
Bruk!
"Aduh!"
Adita melebarkan kedua matanya terkejut. Ternyata yang dia banting adalah... "Arkan?!"
Arkan menatap tajam Adita. "Lo kalo banting orang itu liat-liat dulu. Gue bukan penjahat!"
"Ya kamu main tarik-tarik tangan saya! Saya kaget lah! Saya kira kan yang narik tangan saya penjahat," balas Adita tak mau disalahkan.
Arkan mendengus sambil beranjak berdiri.
"Kamu kenapa nggak masuk kelas?" tanya Adita.
"Bolos," sahut Arkan enteng. Cowok itu kembali menarik tangan Adita. "Ikut gue!"
Adita menghempaskan tangan Arkan. "Nggak usah tarik-tarik tangan saya! Saya bisa jalan sendiri!"
Arkan melepaskan tangan Adita. Cewek itu berjalan mengikuti Arkan sampai taman belakang perpustakaan.
Setelah sampai, Adita bertanya, "Bagaimana keadaan Ayah kamu? Maaf dua minggu ini saya banyak pekerjaan, jadi belum bisa menjenguk Ayah kamu."
Bukannya menjawab, Arkan malah balik bertanya. "Kenapa lo lunasin biaya administrasi rumah sakit Ayah gue?!"
Adita memejamkan mata mendengar Arkan membentaknya. Ia menghela napas sabar sebelum berbicara.
"Saya tau kamu kerja keras buat Ayah kamu bisa operasi. Dan saya tau, biaya operasi itu tidak murah."
Telunjuk Arkan tepat di depan wajah Adita. "Gue nggak butuh lo kasihanin!" ucapnya penuh penekanan.
Kedua tangan Adita mengepal, berusaha menahan emosi menghadapi muridnya yang satu ini.
"Saya bukan kasihan sama kamu, tapi saya peduli sama kamu!" Arkan sedikit terkejut mendengar Adita berteriak.
"Harusnya kamu berterima kasih pada saya bukannya malah membentak saya!" Arkan dapat melihat wajah Adita yang memerah menahan emosi.
"Saya juga cuma minjemin kamu, Arkan!" Napas Adita terdengar memburu. "Kalau kamu sudah punya uang, kamu bisa kembalikan uang saya!"
Adita menghela napas kasar. Mengeluarkan kertas dari saku rok lalu memberikannya kepada Arkan, "Ikuti Olimpiade ini! Kalau kamu mau ikut, saya anggap utang kamu lunas."
Setelah itu, Adita membalikkan badan. Pergi dari sana sebelum amarahnya kembali meluap.
Arkan menunduk, melihat sekilas selembar kertas yang diberikan Adita lalu menatap punggung guru Matematika-nya yang sudah berjalan menjauh.
Fokus Arkan sekarang bukan pada kertas yang ada di genggaman tangannya. Bukan juga ucapan Adita yang panjang kali lebar tadi. Yang menjadi fokus Arkan sekarang adalah wajah Adita yang memerah.
Arkan tersenyum. "Lo cantik kalo lagi marah."
***
Arkan mengangkat lengan kiri yang menutupi kedua matanya. Menguap sambil merenggangkan ototnya. Arkan beranjak duduk. Badannya terasa pegal tidur di bangku taman belakang perpustakaan.
Ketika mengambil ponsel dari dalam saku celana, sebuah kertas terjatuh di dekat sepatunya. Arkan membungkuk, mengambil kertas itu lalu membukanya.
"Olimpiade Matematika?" gumamnya membaca tulisan yang ada di kertas.
Arkan kembali berbaring dengan lengan kanan sebagai bantal. Kedua matanya menatap langit. Memperhatikan awan putih yang bergerak pelan membuat hatinya merasa tenang.
"Matematika," gumamnya.
Tak ada orang yang mengetahui kalau Arkan dulu adalah juara 1 Olimpiade Matematika ketika SMP. Bahkan dulu Arkan bisa mengerjakan soal Matematika kelas 3 SMP padahal umurnya baru delapan tahun.
Itu semua karena--tidak, Arkan tidak mau lagi mengingat nama orang itu. Orang itu sudah membuatnya kecewa.
Arkan mengangkat tangan kirinya yang menggenggam kertas. Sedikit terkejut membaca nominal hadiah yang akan didapatkan jika menang. "Lima juta?!"
Ucapan Adita terngiang di kepalanya. Ikuti Olimpiade ini! Kalau kamu mau ikut, saya anggap utang kamu lunas.
"Lumayan kalo gue ikut. Gue nggak harus bayar utang ke Bu Adita."
Arkan menurunkan tangan kirinya. Kembali menatap langit. Ia berpikir cukup lama. "Apa gue keterlaluan bentak dia kayak tadi?"
🌼🌼🌼
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Fiksi RemajaCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
