"Pak, bakso dua sama jeruk anget dua."
Pedagang bakso itu terlonjak kaget mendengar Dimas berbisik tepat di dekat telinganya. "Astagfirullah, Mas Dimas!"
Dimas dan Adita tertawa melihat Pak Slamet-pedagang bakso itu-berulang kali mengusap dada.
Pak Slamet memukul Dimas menggunakan handuk yang melilit di kepalanya. "Sekali lagi ngagetin bapak, kamu bapak blokir sebagai pelanggan!"
Tawa Dimas semakin berderai. "Yakin nih, Pak Slamet mau blokir Dimas sebagai pelanggan?" Dimas tersenyum jahil. "Padahal besok Dimas ada acara."
Kedua mata Pak Slamet berbinar. "Ehh, nggak jadi saya blokir, Mas." Pak Slamet tersenyum lebar lalu bertanya, "Besok berapa orang yang mau makan di sini?"
Dimas mengangkat sebelah alisnya. "Lah, siapa yang mau makan di sini?"
Pak Slamet ikutan bingung. "Lah, tadi kan kamu bilang mau ada acara."
Dimas tertawa. "Ya kan saya cuma ngasih tau bapak, besok saya ada acara. Saya nggak bilang mau makan di sini, ya!"
Pak Slamet memukul Dimas menggunakan handuknya lagi. "Nek ngono, ngopo kowe ndadak ngomong ro aku?! Tak kiro kowe meh pesen bakso daganganku!"
Dimas menggaruk dahinya bingung. "Bapak ngomong apa?"
"Kalau begitu, kenapa kamu malah bilang sama saya?" Dimas menoleh ke arah Adita. Cewek itu melanjutkan ucapannya, "Aku kira kamu mau pesan bakso daganganku."
"Woahhh, Bu Adita bisa Bahasa Jawa?" Dimas berdecak kagum. Adita mengangguk.
"Wahh, Mbak e ayu tenan!" Adita dan Dimas menoleh ke arah Pak Slamet.
Adita tersenyum. "Matur nuwun, Pak."
"Pacare Mas Dimas yo?" tanya Pak Slamet.
Sebelum Adita menjawab, Dimas berkata sambil menggelengkan kepalanya pelan. "I don't understand what they are talking about."
Adita tertawa sedangkan Pak Slamet balik menatap bingung Dimas, tidak mengerti apa yang cowok itu katakan. Adita memberitahu apa yang dia dan Pak Slamet bicarakan, "Katanya saya cantik."
"Ohh." Dimas membulatkan mulut. "Gue kira Pak Slamet sakit mata, ternyata enggak," gumam cowok itu pelan.
"Kenapa, Pak?"
"Ehh, nggak!" Dimas menggeleng sambil nyengir lebar.
Adita kembali melanjutkan ucapannya, "Pak Slamet juga tadi tanya, saya pacarnya Pak Dimas?"
Dimas tersenyum. "Segera," ucapnya tak sadar.
Ehh?
Dimas langsung memalingkan wajah. Memukul mulutnya pelan, merutuki apa yang dia katakan barusan.
"Ciee, Mas Dimas!" Pak Slamet berucap heboh. Untung warung baksonya sedang sepi.
Setelah meredakan degup jantungnya yang berdetak melebihi ritme, Dimas menepuk pundak Pak Slamet. Mendorong pelan pria paruh baya itu mendekat ke arah gerobaknya. "Udah, Pak. Buruan bikinin pesanan Dimas!"
Pak Slamet cengengesan. "Ehh, iya! Ya udah saya buatkan. Duduk dulu, Mas, Mbak."
"Siap Pak!"
Dimas menoleh ke kanan, mengernyitkan dahi melihat Adita yang menunduk dalam. "Bu Adita?"
Adita mendongak. "Ya?"
Dimas dapat melihat jelas semburat merah pada kedua pipi Adita. "Pipi Bu Adita merah."
Tangan Adita terangkat memegang kedua pipi. "Ohh, iya. Emm, saya kedinginan," bohongnya.
Dimas menganggukkan kepalanya, mempercayai perkataan Adita tanpa curiga sedikit pun kalau satu kata yang terlontar dari mulutnya tadi berhasil membuat cewek itu tersipu malu.
***
Saking asyiknya mengobrol, Adita dan Dimas sampai tak sadar kalau sekarang jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Adita melirik mobilnya lalu sedikit mendongak menatap Dimas. "Saya pulang dulu, Pak."
Dimas mengangguk. "Iya, Bu. Maaf ya, karena tadi saya cerita terus Bu Adita pulangnya jadi kemaleman."
"Nggak papa, Pak. Saya suka denger cerita Pak Dimas." Adita tersenyum. "Kalau begitu, saya duluan, Pak."
Adita membalikkan badan. Membuka pintu mobil lalu masuk. Cewek itu menurunkan kaca jendela mobil, melihat Dimas yang berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku hoodie.
Dimas membungkukkan badan. Tersenyum lalu berkata, "hati-hati!"
Calon istri, lanjutnya dalam hati.
Adita menggeleng samar untuk mengembalikan kesadaran. Senyum Dimas sempat membuatnya terpesona beberapa detik.
"Pak Dimas juga hati-hati!"
"Siap!" seru cowok itu lalu terkekeh.
Niat Adita menaikkan kaca jendela mobil terurung mendengar Dimas memanggil namanya lalu berkata, "Besok jangan lupa, Bu! Kita mau survei tempat buat camping."
Adita mengangguk. "Iya."
Setelah Dimas menegakkan badan, barulah kaca jendela mobil Adita tertutup rapat. Adita memencet klakson lalu mobilnya melaju, menjauh dari parkiran sekolahan.
Dimas mendongak, menatap langit yang bertabur bintang. "Hai, bulan! Hai, bintang!"
Dimas tersenyum. "Mau tau rahasia gue nggak?"
Hening. Dimas bahkan bisa mendengar suara angin yang berhembus cukup kencang malam ini.
"Gue kasih tau aja deh." Dimas menghela napas cukup dalam sebelum berteriak,
"Gue capek! Pengen cepet-cepet ketemu kasur."
🌼🌼🌼
Mint orang Jawa, orang tua asli Jawa, bahasa sehari-hari bahasa Jawa, tapi percakapan di atas masih pake translate:)
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
6-07-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
