Selama menunggu motor Dimas selesai, Adita dan Dimas saling berbagi cerita. Adita banyak tertawa mendengar cerita lucu Dimas yang sudah mengajar selama tiga tahun di SMA Alfian.
"Pernah Bu, saya ngadain ulangan. Saya bilang kalau ada yang dapet nilai seratus, saya kasih uang seratus ribu. Saya kira yang dapet nilai seratus cuma satu atau dua murid aja. Ehh, ternyata hampir satu kelas."
Dimas melanjutkan ceritanya, "dan saya kan ngajar enam kelas. Satu kelas isinya 28 anak, jadi jumlah muridnya ada sekitar 160 anak kan?" Adita mengangguk.
"Nah karena itu saya menguras uang tabungan saya sebesar enam belas juta. Dan sekarang, saya nggak mau lagi janji buat ngasih uang yang dapet nilai seratus."
"Ya ampun, itu bisa dapet satu motor lho, Pak!" Melihat Adita yang tertawa, membuat Dimas juga tertawa.
"Mas, motornya udah jadi!"
Saking asyiknya bercerita, mereka tidak sadar kalau montir yang memperbaiki motor Dimas memanggil mereka dari tadi.
Montir itu menghampiri Adita dan Dimas yang kembali melanjutkan cerita. Memukul bahu Dimas menggunakan handuk yang dia pakai untuk membersihkan oli dari tangannya.
"Ehh?" Dua orang itu tersentak kaget.
"Heh, Mas sama Mbak-nya pacaran mulu. Saya udah panggil dari tadi, ehh, nggak nyaut," kesal montir itu.
Dimas menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal lalu beranjak berdiri. "Ehh, maaf Bang. Udah selesai?"
"Iya, dari tadi!" ucap montir itu ngegas.
Dimas menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan pada montir itu setelah bertanya berapa biaya yang harus dia bayar.
"Ehh, Mas. Ini kebanyakan," ucap montir itu.
"Udah nggak papa, buat Abang aja. Maaf tadi bikin Abang kesel," ucap Dimas.
"Wahh, terima kasih, Mas. Semoga langgeng sama pacarnya ya!"
Adita dan Dimas memalingkan wajah. Tangan mereka terangkat, menutupi wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
***
"Rumah Bu Adita yang mana?" tanya Dimas ketika mereka sudah sampai di komplek perumahan Adita.
Adita memperhatikan setiap rumah yang mereka lewati. "Yang nomer 21, Pak!"
Dimas mengangguk. Cowok itu memperlambat laju sepeda motornya sambil mengamati nomer yang ada di depan pagar setiap rumah.
Motor Dimas berhenti. Ia sedikit menoleh ke belakang untuk bertanya lagi, "rumah Bu Adita yang nomer 21 A apa 21 B?"
Adita menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri berulang kali. "Emm, 21 B, ehh, nomer 21 A, Pak."
Dahi Dimas berkerut heran. Kenapa Adita seperti lupa dengan rumahnya sendiri?
Dimas memperhatikan rumah Adita. "Rumahnya kok gelap, Bu?"
Adita turun dari motor Dimas. "Emm, iya. Pembantu saya pulang kampung. Orang tua saya di luar kota." Dimas mengangguk-anggukan kepalanya.
Adita melepaskan helmnya. "Ini helmnya, Pak."
Dimas menggeleng, membuat Adita mengangkat sebelah alisnya. "Nggak usah, buat Bu Adita aja."
Kedua mata Adita melebar. "Beneran?"
Dimas mengangguk. "Iya."
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama." Dimas tersenyum. "Ya udah, saya pamit dulu, Bu. Selamat malam," pamitnya.
Adita melambaikan tangannya pada Dimas yang sudah menjauh. Cewek itu memperhatikan rumah yang ada di depannya itu.
Tin!
Adita tersentak kaget mendengar klakson mobil yang berhenti di dekatnya. Ia masuk ke dalam mobil itu sambil menggerutu, "Lo ngagetin tau, Kak!"
"Maap, maap," kakaknya itu terkekeh.
"Cepetan jalan! Nanti keburu satpam komplek ini tau."
Kakak Adita langsung melajukan mobilnya, menjauhi rumah dengan pagar nomer 21 A yang entah milik siapa itu.
🌼🌼🌼
Rumah siapa tuh, Ta?
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
2-07-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Fiksi RemajaCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
