Sudah tiga hari ini Adita tidak masuk untuk mengajar. Dimas sudah berulang kali menghubungi Adita, tapi tidak mendapat balasan satu pun dari cewek itu.
Para guru berencana menjenguk Adita di rumahnya. Dimas tentu ikut karena hanya dia yang tahu rumah Adita.
Jam menunjukkan pukul empat sore. Dimas bersama empat rekan gurunya berdiri di depan rumah dengan nomer pagar 21 A. Raut bingung terlihat jelas di wajah mereka.
"Beneran Pak Dimas ini rumah Bu Adita?" Pak Bowo yang bertanya.
Dimas mengangguk yakin. "Iya, Pak. Saya kalau mengantarkan Bu Adita pulang ya ke sini."
"Berarti sering nganterin pulang?" tanya Pak Bowo jahil.
"Iya, sering," jawab Dimas tak sadar. "Ehh?"
"Cieeeee," rekan gurunya bersorak heboh.
Inget umur, woi! Udah pada tua juga. Encok tau rasa lo!
Dimas hanya menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal. Daripada dia dipukul karena mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, kan?
"Apa Bu Adita udah pindah rumah?" Dimas mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan dari Bu Wulan itu.
Dimas membaca lagi tulisan pada papan kayu yang terpasang di pagar rumah. 'Rumah ini dijual.'
Pantas saja beberapa hari yang lalu dia disuruh menunggu di depan komplek, bukannya langsung di depan rumah dengan pagar nomor 21 A itu.
Itu yang Dimas pikirkan.
Tak tau saja rahasia yang disembunyikan oleh Adita.
***
Sebelum pulang ke rumah, Dimas mampir ke rumah keluarga Alfian. Cowok itu turun dari mobil. Tangan kanannya membawa parcel buah yang seharusnya untuk Adita.
Seperti biasa, tanpa mengetuk pintu atau mengucap salam, Dimas langsung masuk ke dalam rumah keluarga Alfian.
"Dimas yang ganteng datang!" teriaknya.
Bugh!
Sebuah bantal mendarat tepat di kepalanya. "Aduh!"
"Dim, bisa nggak kalo di rumah gue, jangan sok ngerasa rumah sendiri?!" Devandra mengomel. "Ini rumah keluarga Alfian ya! Bukan rumah keluarga Adi Pranata."
Dimas mencebikkan bibirnya, kesal. "Ya elah, gue kan udah nganggep keluarga Alfian keluarga gue juga."
"Tapi kita enggak nganggep lo sebagai keluarga." Perkataan Devano yang santai itu benar-benar menusuk hati Dimas.
Dimas menampilkan wajah memelasnya. "Lo berdua kenapa jahat banget sih sama gue?"
"Bercanda elah!"
Devandra tertawa terpaksa. Garis bawahi terpaksa. Bisa gawat kalau Dimas mengadu ke kedua orang tuanya dan kerjasama dengan perusahaan mereka batal.
Ya meskipun, kekayaan keluarga Alfian lebih banyak dari keluarga Adi Pranata. Ehh, bentar, kenapa jadi bahas kekayaan dua keluarga itu, sihh?
Dimas berjalan ke arah sofa. Melewati Devano dan Devandra yang duduk selonjoran di karpet. Dengan sengaja, Dimas menginjak kaki mereka.
"Ehh, keinjek," ucapnya santai. Cowok itu terbahak mendengar teriakan Devano dan Devandra.
"Dimas!"
Dimas berlari menghindari kejaran mereka. Ya, itu alasan mereka malas menerima Dimas sebagai tamu. Cowok itu suka membuat keributan di rumah keluarga Alfian.
"Bundaaaa!"
Dimas berhenti berlari mendengar suara teriakan seseorang. Devano dan Devandra saling melempar pandang lalu berbisik.
"Rahasia kita bakal kebongkar?"
"Ya, mau gimana lagi?"
Dimas menolehkan kepalanya ke lantai dua, dimana asal teriakan itu terdengar. Kedua alisnya tertaut. Dimas yakin, itu bukan suara Vania atau Melody.
Terus, itu suara siapa?
"Nggak mau!" Suara teriakan itu kembali terdengar. "Nggak mau minum obat, huaa!"
"Ya udah, kalau nggak mau minum obat, Bunda marah sama kamu!"
"Bundaaaa!"
"Minum obat! Tambah sakit baru tau rasa!" omel Dina pada cewek itu.
"Nggak mau! Obatnya pait," rengeknya.
Kedua mata Dimas membulat melihat seseorang yang keluar dari kamar sambil memeluk Dina dari samping. Cewek itu belum sadar dengan kehadiran Dimas.
Dimas berulang kali mengucek kedua mata, memukul pelan pipi sampai mencubit lengannya sendiri untuk memastikan bahwa dia tidak salah mengenali cewek itu.
Cewek itu masih memeluk Dina yang sekarang sedang menuruni tangga. Ia baru menyadari keberadaan Dimas ketika Dimas memanggil namanya,
"Bu Adita?"
Kedua mata Adita membelalak. "Pak Dimas?"
🌼🌼🌼
Kok Adita di rumah keluarga Alfian? Manggil Dina juga Bunda. Sebenernya, Adita itu siapa?
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
9-07-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
