Dimas mengalihkan pandangan dari layar ponsel ke arah Adita yang baru saja masuk ke ruang guru. "Ta!"
Adita menoleh. "Hm?"
Dimas memutar kursi kerjanya ke kanan, melihat Adita yang sedang berkemas. Meja mereka memang bersebelahan. "Mau pulang sekarang?" tanya Dimas membuat Adita tertawa.
"Iya, bel pulang juga udah sepuluh menit lalu bunyi, kan?" Dimas mengangguk samar.
"Ehh, Ta!" panggil Dimas.
"Apaan?"
"Emm, lo pulang bareng gue, kan?"
Adita terdiam sebentar lalu menoleh sekilas ke arah Dimas. "Iyalah, Kak! Kan berangkatnya tadi bareng lo. Ya kalo nggak bisa nganterin ng--"
"BISA!"
Adita tersentak lalu tertawa. "Biasa aja dong!"
Dimas menggaruk tengkuk lehernya sambil cengengesan. "Hehe, maap."
Melihat Adita sudah selesai berkemas, Dimas berdiri dari duduknya. "Udah selesai?" Adita mengangguk. "Ya udah, yuk!"
Tak sadar, Dimas menggenggam tangan Adita. Setelah menormalkan keterkejutannya dengan perilaku Dimas, Adita tersenyum. Ia yakin, kedua pipinya memerah.
Mereka berhenti berjalan melihat seseorang yang berdiri di depan pintu ruang guru. Adita mengangkat sebelah alisnya. "Arkan?"
Arkan melihat tangan Dimas yang menggenggam tangan Adita. Ada rasa tidak suka dalam hatinya. "Ada soal yang nggak gue ngerti."
"Soal yang mana?"
Soal perasaan
Arkan menggeleng samar. Astaga, kenapa dengan dirinya? Cowok itu berdehem pelan. "Soal nomer 9 latihan dari lo kemarin."
Dimas yang dari tadi diam bersuara. "Kenapa kamu pake lo-gue sama Bu Adita? Meskipun dia masih muda, tapi kamu harus tetap sopan sama dia," ucapnya dengan nada tegas.
Adita mengusap punggung tangan Dimas, berusaha menenangkan. Tapi, malah membuat cowok itu tersentak, menyadari tangannya yang menggenggam tangan Adita.
"Nggak papa." Melihat Adita tersenyum, Dimas menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
"Ekhem." Arkan berdehem, membuat kedua orang itu tersentak kaget dan melepaskan genggaman tangan mereka. "Bisa ajarin gue sebentar?"
Adita menoleh ke arah Dimas. Cowok itu tersenyum, "Gue tungguin."
***
Sekarang mereka berada di perpustakaan. Dimas mendengus kesal. Katanya sebentar, tapi sudah satu jam Adita belum selesai mengajari Arkan. Dan kata Arkan tadi hanya nomer 9, tapi sekarang dia bilang semua soal belum mengerti.
Dimas menutup buku yang sedang dia baca. Mendongak, menangkap basah Arkan yang tidak berkedip menatap wajah serius Adita yang sedang menjelaskan.
Hatinya terasa panas melihat pemandangan yang ada di depannya. Mungkin kalau bisa digambarkan, kepala Dimas sudah mengeluarkan asap sekarang.
"Ekhem." Dimas berdehem cukup keras, membuat kedua orang yang duduk di depannya menoleh. "Duh, haus. Ta, lo punya air minum nggak?"
"Air keran banyak, kak," ucap Adita lalu tertawa melihat Dimas menekuk wajah, kesal.
"Lo nyebelin banget!"
Tangan Adita terulur, mengacak rambut tebal Dimas. "Udah, jangan sok imut gitu."
"Gue emang imut kok," balas Dimas nyengir lebar. Arkan yang melihat itu memutar bola matanya malas.
Pletak!
"Adaw!" Dimas mengusap dahinya yang baru saja disentil Adita. "Sakit tau!" Adita malah cengengesan.
Adita mengeluarkan botol air minum dari dalam tas lalu menyerahkannya ke Dimas. "Makasih," ucap Dimas lalu meminum air dalam botol minum Adita hingga tandas.
Kedua mata Adita melebar. Ia memukul lengan Dimas, membuat cowok itu tersedak dan terbatuk-batuk. "Kenapa, sih?" tanya Dimas.
"Kenapa lo minum langsung dari botolnya?"
"Lah, emang kenapa?" tanya Dimas bingung. "Ada yang salah?"
Kedua pipi Adita memerah. "Ya salah lah!"
"Salah apa?" Sungguh, Dimas benar-benar tidak tau.
"Itu botol minum gue!"
Dimas menatap bingung botol minum Adita. "Emang siapa yang bilang kalo ini botol minum gue?"
"Emang nggak ada!"
"Lha terus kenapa, Adita?"
"Itu botol minum gue!"
"Iya, gue juga tau."
"Kenapa lo minum langsung dari botolnya sih?!"
"Ya nggak papa, kan?"
"Kak Dimas!"
"Apaan sih, gue bingung!"
"Ekhem!"
Arkan sengaja berdehem keras. Sudah malas mendengar perdebatan mereka. "Bu, bisa lanjut ngajarin gue?"
Adita menatap tajam Dimas sekilas setelah itu kembali mengajari Arkan. Bukannya takut melihat tatapan Adita, Dimas malah tersenyum geli.
Menurutnya, Adita sangat menggemaskan.
🌼🌼🌼
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
