Happy Reading!
🌼🌼🌼
Keesokan paginya, Adita yang memang tidak ada jam mengajar pagi ini memutuskan untuk berkeliling sekolah. Hanya sekedar menghapal bagian-bagian dari sekolah ini.
Kedua kakinya berhenti melangkah melihat barisan siswa yang sedang dihukum di tengah lapangan. Ia menahan tawanya lalu menggeleng.
Baru akan melanjutkan langkahnya, seseorang memanggil namanya membuat ia menoleh. Seseorang yang memanggilnya menghampiri Adita.
"Ada apa ya, Bu?"
Bu Sri menjawab, "bu, bisa bantu saya mengawasi mereka? Saya tiba-tiba kebelet ke toilet. Ada sebuah konser di dalam perut saya dan mereka minta untuk dikeluarkan, Bu."
Pffttt
Adita berusaha kuat menahan tawanya. "Ya, Bu. Biar saya yang mengawasi mereka."
Bu Sri tersenyum senang lalu berjalan terbirit-birit ke kamar mandi setelah mengucapkan terima kasih pada Adita. Adita berjalan santai menuju tengah lapangan.
"Kenapa pada diturunin tangannya?" ucapnya dengan sedikit nada tegas.
Barisan murid yang dihukum--dan semuanya murid laki-laki--menoleh dengan pandangan berbinar. Mereka langsung mengangkat tangannya untuk hormat.
"Hai, Bu Adita!"
"Hai bu cantik!"
"Wahh, tiap hari makin cantik aja nih, Bu!"
"Mending saya telat terus aja biar dihukum sama ibu!"
"Saya betah kalo gini hukumannya. Bisa mandangin ibu tiap hari!"
"Nggak terasa capek kalo liat ibu di depan!"
Adita tersenyum geli sambil menggeleng mendengar celetukan murid-muridnya yang sedang dihukum. Kedua mata Adita menangkap seorang murid yang berdiri di paling belakang.
Arkan.
Adita tersenyum kecil. Ia mengernyitkan dahinya melihat Arkan yang terlihat pucat. Adita menghampiri muridnya itu.
"Kamu sakit, Arkan?"
Arkan yang semula memejamkan mata dan menunduk langsung membuka matanya. Cowok itu menatap Adita yang berdiri di sampingnya dengan malas.
"Nggak!" jawabnya lemah.
"Tapi kamu pu--"
"Berisik!" sentak Arkan membuat Adita memejamkan kedua matanya karena terkejut.
"Udahlah bu, orang kayak Arkan mana bisa sakit!" celetuk salah satu muridnya membuat semuanya tertawa.
Adita mengangguk lalu kembali berjalan ke depan setelah menatap Arkan dengan khawatir. Tak lama Bu Sri kembali setelah merampungkan urusannya.
Adita segera pamit dan melanjutkan kelilingnya lagi. Ia tertawa kecil mendengar celetukan barisan murid yang sedang dihukum tadi.
"Yahh, kok pergi sihh bu!"
"Jadi nggak semangat lagi nih!"
"Bu Sri aja lah yang pergi biar Bu Adita yang disini!"
Bu Sri melototkan kedua matanya. "Kamu berani ya ngusir saya! Saya tambah hukuman kalian!"
"Yahh, ibu!" sorak mereka.
Tangan Arkan yang terangkat untuk hormat bergerak untuk memijit keningnya yang berdenyut nyeri. Kepalanya terasa berputar. Tubuhnya melemas dan perlahan ambruk.
Bruk!
Semua orang menoleh melihat Arkan yang sudah tak sadarkan diri. "Arkan!"
Salah satu dari mereka menepuk pipi Arkan. "Ar, lo kenapa?!"
"Dia kenapa?" tanya Bu Sri.
"Kayaknya Arkan demam bu."
"Bawa ke UKS!"
Mereka segera membopong Arkan menuju UKS. Seseorang dari kejauhan menatap keadaan muridnya itu dengan khawatir.
***
Seseorang berdiri di samping ranjang Arkan. Ia menatap khawatir cowok itu.
Drrtt, drttt!
Seseorang itu menjauh lalu mengangkat teleponnya. "Dia baik-baik saja."
"..."
"Baik, anda tidak perlu khawatir. Saya yang akan menjaganya di sini."
Tutt, tutt!
Ia kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Ia membalikkan badan dan terkejut melihat Arkan yang sudah bangun.
Arkan duduk bersandar sambil menatapnya datar. "Kenapa Bu Adita ada di sini?" tanyanya langsung.
Adita tergagap. "I-itu...Ibu disuruh sama bu Sri menjaga kamu."
"Gue nggak perlu dijagain. Mending ibu keluar!"
"Kamu makan buburnya dulu. Baru saya keluar," tolak Adita.
Arkan melirik bubur yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya. "Saya nggak suka bubur."
Adita tersenyum. "Itu bubur kacang ijo. Cepat makan!"
Arkan melebarkan matanya. Kenapa Adita tahu kalau dirinya sangat menyukai bubur kacang hijau?
Arkan kembali melirik wadah bubur kacang hijau yang masih tertutup rapat itu lalu tak sadar menelan ludah. Sudah lama sekali ia tak makan makanan kesukaannya itu.
Ia segera mengubah raut wajahnya menjadi datar. "Gue mau makan kalo ibu keluar!"
Adita menahan tawanya. "Ya sudah. Saya keluar."
Setelah mendengar suara pintu yang tertutup, Arkan turun dari ranjang lalu mengintip dari balik korden--pembatas ranjang yang satu dengan yang lain.
Cowok itu tersenyum senang melihat pintu UKS yang tertutup rapat. Dan yaa, UKS sudah sepi. Arkan langsung mengambil wadah bubur kacang ijo tadi.
Kedua matanya berbinar. "Hai, udah lama ya gue nggak ketemu lo. Kangen gue sama lo," gumamnya pelan lalu terkikik geli menyadari tingkahnya sendiri. Arkan memakan bubur kacang ijo itu dengan lahap.
Seseorang yang duduk di ranjang sebelah ranjang Arkan tersenyum senang. Untung cowok itu tidak menyadari kehadirannya karena ia menutup korden.
Adita mengirimkan pesan kepada seseorang.
Dia makan dengan lahap
🌼🌼🌼
Siapa ya yang nelpon Adita🙄
Selamat membaca bab berikutnya
Terima kasih sudah membaca dan memberi suara😊
13-04-2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me VS Pak Guru✔
Teen FictionCOMPLETED Alfian Series 3 Gue Arkan Yudhistira pasti bisa ngalahin guru yang sama semua cewek yang ada di sekolahan disebut guru paling ganteng--Dimas Adi Pranata--ambil hati guru baru pelajaran Matematika yang terkenal cantik itu. Adita Putri. --- ...
